Ehm Nonton Animasi Ini Harus Menunjukkan KTP

Ada pengalaman unik ketika kemarin nonton salah satu film animasi di Jakarta World Cinema di CGV Grand Indonesia. Aku diimintai menunjukkan KTP dan mengisi daftar hadir. Eh kenapa ya? Rupanya film animasi tersebut mendapat rating usia 21+ di Indonesia. Penasaran dengan judul animasinya? Judulnya adalah Allah is Not Obliged.
Animasi yang diangkat dari buku berjudul sama karya Ahmadou Kourouma ini menceritakan para anak-anak yang terjebak perang sipil di Liberia dan Sierra Leone. Keluarga mereka dibunuh dan mereka diculik untuk dijadikan mesin perang.
Adalah anak laki-laki bernama Birahima tinggal damai bersama nenek dan ibunya yang sakit di desa muslim. Ketika ibunya meninggal, ia diminta untuk tinggal bersama bibinya, Mahan, oleh neneknya.
Diantar oleh pamannya, Yacouba, yang seorang dukun, keduanya menuju Liberia. Dalam perjalanan, kendaraan yang mereka tumpangi ditembaki. Para penumpang diculik dan bawaan mereka dirampok oleh kelompok separatis. Yacouba menjadi dukun mereka dan Birahima diajari menggunakan senjata dan bergabung dengan serdadu anak-anak lainnya.
Birahima yang merupakan muslim taat kebingungan dengan segala sesuatu yang nampak di hadapannya. Para kelompok separatis itu brutal, merampok dan membunuh seenaknya. Ia juga diajak mencoba merokok tembakau hingga narkotik, dan mencobai minuman keras.
Ia hampir saja larut dalam kegilaan tersebut.
Novel yang dirilis tahun 2000 itu banyak mendapat perhatian. Judulnya selintas memang provokatif tapi sebenarnya selaras dengan cerita tersebut.
Pada saat kekacauan itu Birahima dan anak-anak lainnya tak punya pilihan selain mengikuti nasib dan mengikuti perintah agar tetap hidup. Saat-saat seperti itu mereka mungkin merasa tak ada yang bisa membantu mereka. Orang dewasa seperti Yacouba saja ketakutan dan menurut, apalagi anak-anak.
Dalam novel, judul itu merupakan penggalan dari sebuah kalimat. Kalimat lengkap yang diucapkan Birahima yaitu “Allah tidak wajib berlaku adil terhadap semua hal yang dia lakukan di bumi.”
Ahmadou Kourouma menulis novel ini dari realita yang ada di sekitarnya. Sekitar 50 ribu anak diculik di Liberia dan Sierra Leone untuk dijadikan mesin tempur sekitar tahun 1998-2003.
Ada banyak kelompok di Liberia dan Sierra Leone yang terus berebut wilayah alias perang sipil. Masing-masing kelompok hanya mementingkan kekuasaan dan kekayaan, tak peduli dengan masyarakat sipil yang menderita. Merampok dan membunuh sudah jadi seperti pemandangan sehari-hari. Yang menyedihkan anak-anak yang dipaksa jadi serdadu ikut melakukannya.
Film yang berdurasi sekitar 80 menit dan diproduksi oleh Prancis bersama Belgia, Luksemburg, dan Kanada ini memang banyak menampilkan adegan brutal diselingi dengan infografis tentang pimpinan kelompok milisi dan lingkup daerah kekuasaan mereka.

Zaven Najjar si sutradara menggunakan warna-warna yang cerah dan musik khas Afrika yang riang ketika menggambarkan tempat asal Birahima sebelum kemudian nuansanya menjadi suram dan vibe animasi menjadi seperti mimpi buruk.
Sebenarnya aku agak ragu mengulas film ini. Ya, alasannya judulnya terlalu provokatif untuk ukuran Indonesia. Tak heran bila animasi ini mendapat rating 21+ bukan 17+ seperti di negara asalnya. Memang perlu kedewasaan untuk memahami cerita dan pesan dalam animasi ini, selain isinya juga brutal dan penuh darah.
Meski judulnya dalam bahasa Indonesia adalah “Allah Tidak Wajib”, sebenarnya isi dan pesannya malah sebaliknya. Birahima masih menyimpan kepolosan khas anak-anak dan juga bekal agamanya yang dipelajarinya sebelum ia pindah ke daerah konflik. Ia tetap berupaya untuk tak jadi gila dan berhenti menjadi mesin perang sambil menunggu momen Tuhan memberikan bantuan kepadanya.
Film ini akan diputar lagi pada Sabtu, tanggal 4 Oktober. Kalian bisa menontonnya di CGV Grand Indonesia. Ingat ya, animasi ini untuk kaum dewasa.
Gambar: IMDb
