Makanan Ala “1984”
Hari ini aku menuntaskan membaca bab delapan sebanyak 27 halaman. Hari ini ada tantangan untuk memotret buku tersebut dengan makanan dan minuman yang cocok untuk mendampingi.
Dan, jadilah aku memotret novel ” 1984″ tersebut dengan makanan dan minuman yang nampak tak menyenangkan. Ada kopi hitam encer, beserta mie nyemek, telur goreng dengan abon, dan patty burger. Nampak tak menarik, bukan?!
Aku pun menyantapnya sebelum membaca. Anggap saja hal tersebut merupakan kegiatan untuk mengisi bahan bakar sebelum aku membaca novel yang isinya makin kompleks ini.
Mengapa aku tak memiliki makanan minuman yang lebih baik? Mengapa aku tak memotret buku dan makanan minuman ini di kafe kekinian sehingga lebih instagramable?
Ehm aku sengaja memilih makanan minuman tersebut karena mereka mewakili sesuatu yang mirip dengan yang dimakan oleh Winston, si tokoh utama “1984” setiap harinya di kafetaria kantornya.
Setiap hari ia menyantap makanan yang nampak tak layak dari sisi fisik maupun rasanya. Ia juga menghibur diri dengan minuman kopi encer. Anehnya meski semuanya nampak kacau dan tak menggiurkan, Winston bisa menghabiskannya karena lapar.
Ini sama dengan kondisiku. Aku sebenarnya ingin memasak lebih baik. Namun, karena aku sedang tak baik-baik saja, aku memasak yang ada saja. Kopinya pun karena aku tak suka manis, maka kutambahkan air agak banyakan.
Aku merasa lebih menjiwai dan memahami kondisi Winston ketika menyantap makanan minuman yang seperti dikisahkan dalam bab-bab “1984”. Yang membuat perih Winston dan lainnya, ia harus merasa bersyukur untuk makanan dengan kualitas buruk. Padahal ia yakin ada masa-masa dulu ketika makanan jauh lebih baik.
Oh iya bab delapan ini mengisahkan Winston yang menjelajah daerah kaum prol alias non partai. Ia ingin tahu gambaran London sebelum revolusi. Hingga ia merasa ketakutan karena merasa dibuntuti.
Ehm memang tak enak hidup di era yang penuh kontrol dan warganya sering ditakut-takutin seperti yang dialami Winston tersebut.
Selamat berakhir pekan, sobat!
