Masih Terharu Ketika Nonton Film yang Sama

Film 5 Centimeters Per Second sudah pernah kusaksikan sekian tahun silam. Sudah lama sekali. Ketika film ini kembali diputar, aku menontonnya lagi. Namun, entah kenapa aku terharu dan suasana hatiku jadi melankolis sekali lagi.
Kupikir perasaan dan emosiku akan berubah seiring waktu dan usia. Namun, ternyata banyak hal yang tak berubah. Preferensiku kebanyakan masih sama. Demikian pula dengan sesuatu yang memantiknya.
Selama menyaksikan film Makoto Shinkai ini aku merasa kesal dengan Takaki alias Taki. Mengapa ya Taki tak pernah berkirim surat lagi sehingga membuat Akari kecewa? Melihat Akari yang sering mengecek kotak posnya, tentu ia berharap ada surat lagi dari Taki.
Namun, Taki tak pernah lagi berkirim. Ia juga tak pernah menelpon atau pun mengirim pesan ke Akari lewat ponselnya. Apakah Taki kuatir Akari telah melupakannya? Apakah ia cemas Akari telah berubah seiring waktu.
Entahlah.
Selama menyaksikan segmen ketiga, aku merasa seperti halnya yang dialami Taki. Penyesalan, rasa bersalah, dan keinginan untuk mengulang waktu agar bisa membenahi masa depan. Namun, mungkinkah?
Ya, perasaan manusia itu kompleks. Mungkin ada sejuta alasan yang membuat Taki tak bisa bertukar pesan lagi kepada Akari.
Coba cek teman-teman kalian masa kini. Apakah masih ada di antara mereka yang merupakan teman masa kecil, teman TK, kuliah, dan seterusnya. Ataukah kini kalian merasa asing dengan sahabat masa SMP?
Ya, semuanya bisa terjadi. Dan, lagi-lagi aku berkaca-kaca ketika mendengar tembang One More Time One More Chance itu mengiringi adegan flashback tersebut.
Ternyata diriku tak banyak berubah.

Film realistis yang terlalu realistis. Btw, soundtrack-nya enak banget.