Dari Buku

Konon ada yang bilang bahwa sebuah cerita adalah pengalaman dan pandangan dari seorang penulis. Si penulis mungkin pernah hidup ‘susah’ dengan kucing orennya sehingga muncul kucing Garfield yang rakus dan nakal.
Malam ini ada kucing oren yang muncul dari pintu kucing. Ini kucing yang pernah muncul dulu, entah kucing milik siapa. Dia tak berkalung.
Pikiranku sedang kacau balau karena tubuhku yang lelah. Namun, aku kadang-kadang meyakini bahwa suatu cerita suatu buku bisa memprediksi suatu kejadian atau berdasarkan kisah pengalaman.
Selama membaca ‘1984’ aku merasakan si penulis jeli memprediksi sesuatu. Padahal buku ini ditulis tahun 1940-an. Kenapa ya dia kok bisa memprediksi hal-hal yang terjadi masa kini?
Mengapa kata-kata dan istilah yang sudah umum mulai diutak-atik?
Mengapa ya sejarah mulai coba-coba ‘disempurnakan’?
Dalam bab 9 bagian kedua, aku merasa sedih karena ada Indonesia yang disebut-sebut. Sedihnya bangsa Indonesia cuma disebut sebagai negeri tempat rakyat dan sumber datanya diperah habis-habisan oleh tiga kekuatan dunia.
Indonesia disebut tak punya kekuatan apa-apa. Pengaruh apa pun. Hanya semacam tempat di mana manusia dan sumber daya alamnya dieksploitasi untuk kepentingan tiga kekuatan. Terus diisap hingga kemudian daerahnya hancur dan kemudian ditinggal begitu saja.
Hiks kok sedih ya. Tapi bukankah memang sejak dulu negeri ini jadi semacam tropi? Hal ini juga masih terjadi saat ini bukan?! Banyak yang menjadikan negeri ini ibarat ‘negeri jajahan’ meski ya istilahnya tidak frontal dan dikemas dengan bahasa yang cantik.
