Sesuatu

Kamu tahu ada sesuatu yang salah belakangan ini. Banyak orang yang melakukan protes tapi dianggap angin lalu. Seakan itu hanyalah sekadar angin sepoi-sepoi yang mencoba menyejukkan suasana di teriknya Gurun Sahara.
Begitu juga dengan kesanku ketika kembali meneruskan bacaan “1984”. Kamu tahu buku ini membuatku tak nyaman karena seperti sebuah ramalan. Ketika aku membaca semakin dalam, aku semakin menyadari bahwa memang ada pola-pola tertentu di masyarakat, sehingga sejarah bisa berulang.
Dalam dunia “1984” perang tak seperti perang yang kita kenal. Sehingga ada sebuah slogan aneh bahwa perang itu adalah kedamaian.
Ada tiga kekuatan besar di dalam cerita “1984” yang berperang seperti dalam situasi perang dingin. Perangnya mungkin tak seperti perang terbuka seperti pada umumnya. Yang menjadi korban malahan adalah negara-negara yang tak masuk dalam tiga kekuatan tersebut seperti Indonesia, yang hanya menjadi sumber eksploitasi dan bulan-bulanan.
Namun, entah bagaimana pemerintah Oceania, tempat Winston berada merasa perlu tetap membuat suasana di negaranya itu mencekam seperti peperangan. Teror, ancaman bersama membuat pemerintah lebih mudah mengendalikan warganya.
Yang membuat cerita “1984” begitu kejamnya adalah keinginan pemerintah untuk mengendalikan rakyatnya dengan masuk ke ruang privasi mereka. Tak ada ruang privasi. Setiap kata, ekspresi, bahkan dengusan akan selalu direkam. Mereka terus diawasi.
Yang berikutnya, mereka suka bermain-main dengan nyawa manusia. Menurutku ini adalah bagian yang keji yang membuatku merasa mual membacanya.
Untunglah ini hanyalah sebuah bacaan.
Mending aku segera terlelap daripada terlarut membaca buku ini. Bisa-bisa aku malah bermimpi buruk.
Oooh kucingku sudah terlelap. Dengkuran mereka menjadi sebuah simponi pengantar tidur yang membuat nyaman.
