Jelang Imlek

Air turun dari langit pagi tadi. Aku yang masih bermalas-malasan dan berselimut, jadi masih ingin melanjutkan hari dengan bermalas diri. Namun, para kucing tak mau berkompromi.
Setiap kucing punya makanan favorit masing-masing. Kadang-kadang mereka bosan dengan makanan basah dan kering, ingin ikan segar, membuatku harus mengeluarkan ikan beku dari lemari pendingin.
Makan siang aku menyantap mie ayam dengan bakso urat. Mungkin karena masih batuk, aku jadi ingin menyantap masakan berkuah yang hangat. Bukankah juga bagus jika makan mie jelang Imlek?! Mie yang panjang akan membuat rejeki lancar? Hehehe entahlah aku lupa.
Usai bersih-bersih rumah, aku jadi malas lagi. Kucing-kucing membuatku ikutan malas, mereka habis makan, main, dan bobok lagi.
Makan malam aku memasak yang ada saja. Ada kiriman bakso mentah. Aku tinggal membuat kuah dengan bahan bawang putih, bawang merah, dan lada banyak-banyak. Kutambahkan makaroni sebagai karbohidratnya.

Ada bubur kacang ijo yang dikirim tetangga. Kumasak lagi dengan susu vanilla dan gula aren. Wah jadi sedap sesuai seleraku.
Pasangan membawakan kue dodol China alias kue keranjang atau kue ranjang. Aku lebih suka menyantapnya biasa. Sementara ia lebih suka kuenya digoreng tipis dengan tepung terigu.
Kami pun makan malam sederhana dengan bakso. Jika masih belum kenyang, ada bubur kacang ijo dan kue ranjang.
Hujan turun lagi abis Isya. Kuah bakso yang hangat dan agak pedas karena lada terasa hangat di badan.
Kucing-kucing minta lagi ikan setelah jatah ikan goreng ludes. Aku mengambil dua ekor dan kurebus saja. Tak baik kucing banyak makan gorengan.
Hujan terus membasahi jalanan. Kucing-kucing telah kenyang dan ingin terlelap.
Selamat menyambut Imlek. Semoga tahun kuda ini memberi banyak keberkahan serta banyak kemudahan untuk melakukan kebaikan dan menjemput impian.
