Hujan dan Hidangan Menghangatkan
Hujan. Hujan rintik itu makin menderas. Aku merasakannya saat matahari terbenam. Rupanya hujan turun lama dan merata.
Hujan membuatku merindukan sesuatu yang hangat. Tadi aku sudah menikmati bakso, kwetiau, dan sawi dengan kuah tom yam. Rasa kuahnya kurang sesuai harapan. Padahal warna kuah dalam pancinya nampak menggiurkan.
Tak apa-apa aku suka melihat aksi chefnya saat menyiapkan makanan. Aku juga suka melihatnya memasak teppan ayam. Nampak menggoda selera. Sayangnya antrinya panjang.

Nah saat hujan terus membayang pada malam hari, aku tergoda mie godhog. Lagi-lagi aku tergoda dengan isian belangganya. Wuih nampak sedap.
Aku meminta setengah mangkuk. Di dalamnya ada mie dengan isian cabe rawit. Kutambahkan acar di dalamnya.
Kuahnya sedap, hanya isiannya begitu minimalis. Tak ada protein sama sekali. Sayurnya juga pilihannya terbatas sekali. Wah ya udah tak apa-apa, kuahnya sudah enak dinikmati. Hangat, pedas, dan gurih.
Hari ini aku kehujanan sampai rumah. Jalanan begitu lengang. Kucing datang menyambutku dengan lega. Sayangnya aku tak membawa sesuatu yang hangat. Namun, aku membawa oleh-oleh yang membuatmu hati mereka semua hangat. Kubawakan ikan cue segar.
Ooh kucing-kucing berjoget gembira. Malam ini mereka pesta.
Aku lagi-lagi ingin sesuatu yang hangat. Kupilih cokelat hangat untuk mangantarkanku ke alam mimpi dan pulas.
