Slipknot, Korn, dan Kesehatan Mental

Mungkin kalian bosan membaca tulisanku akan Slipknot. Tidak apa-apa kalian bisa anggap tidak ada tulisan ini. Entah kenapa hari ini aku ingin mendengar lagu-lagu Slipknot yang kelam. Eh lagunya sebagian besar memang suram ya hahaha. Kali ini aku menambahkan sedikit tentang Korn.
Kali ini aku akan menulis bebas dan tidak berupaya menggunakan rima. Mungkin kalian tidak menyadari tulisanku lima tahun ke belakang banyak menggunakan rima dan ritme seperti lagu dan sajak.
Lagu-lagu Slipknot menurutku terbagi dua. Rata-rata temanya tentang agresi kemarahan akan kondisi dan tekanan sosial. Yang kedua, adalah kesehatan mental. Bagian kedua ini menurutku jarang disentuh band mental.
Selain Slipknot, Korn juga memiliki lagu bertema ini seperti “Daddy” dan “Falling Away from Me”. Demikian juga dengan Linkin’ Park dengan lagu “Breaking the Habit” dan “A Place for My Head”.
Korn dan Suara-suara untuk Menghadapi Trauma
Sedikit tentang Korn, awalnya aku agak merasa aneh melihat video musik Korn beberapa di antaranya menampilkan anak-anak. Ada adegan si anak melakukan tindakan berbahaya ke orang dewasa. Ehm bukankah itu sebuah petunjuk dan aku tak menyadarinya. Pada masa kecilnya personel band mengalami kekerasan dari lingkungannya sehingga menimbulkan trauma mendalam.
Sebelum mengenal “Blind” dan “Freak on Leash”, aku jatuh hati dengan “Falling Away from Me”. Lagu ini komposisi musik yang indah tapi memiliki emosi yang mentah. Enak didengar tapi aslinya suram.
Tembang ” Falling Away from Me” menceritakan kekerasan fisik dan mental yang dialami di lingkungan rumah tangga. Dikisahkan dalam lirik lagu ini si anak sampai tergoda ingin menghilangkan nyawa karena tidak tahan mengalaminya. Dengungan bas di lagu ini entah kenapa terasa menenangkan.
Sementara tembang “Daddy” paling emosional dan tak terduga. Liriknya memang menyedihkan tentang si anak yang merasa hidupnya hancur karena orang tua yang diharapkan dapat melindunginya malah tidak mempercayainya ketika ia mengadu atas perlakuan buruk yang diterimanya dari orang sekelilingnya. Dunianya hancur, sedangkan kedua orang tuanya tidak mempedulikannya.
Yang membuatku terkejut dalam lagu tersebt si Jonathan Davis, si vokalis, menangis tersedu-sedu meluapkan emosinya. Pada menit ketujuh, terdengar tangisan yang menyedihkan. Musik tetap dimainkan secara perlahan hingga kemudian suasana pun makin hening tapi rekaman terus berjalan. Di menit kesekian Jonathan tak membendung emosinya hingga lagu baru benar-benar berakhir pada menit ke 17:31.
Ya, Korn meluapkan kesedihan dan menceritakan traumanya lewat lagu-lagunya. Emosinya mentah sehingga pendengar juga bisa merasai apa yang sedang dialami oleh personel band tersebut. Lagu ibarat katarsis bagi mereka, untuk meluapkan emosi dan kata-kata yang sulit untuk diungkapkan ke orang-orang sekeliling mereka.
Lagu Depresi dan Tekanan Mental Slipknot dari “Tattered & Torn” Hingga “Scissors”
Dulu waktu baru mengenal Slipknot aku hanya menganggap band ini merupakan band metal yang unik, lucu, dengan musik yang kadang-kadang aneh didengar. Namun, semakin menua, aku jadi makin memahami lagu-lagu mereka. Apalagi jika menilik latar belakang si vokalis, Corey Taylor, yang kehidupan masa kecil hingga remajanya tidak mudah.
Ekonomi yang sulit, kekerasan di sekeliling, serta tempat tinggal yang berpindah-pindah, tidak layak, dan kerap dihantui bisa bikin seseorang merasa frustasi. Ketika aku mulai mengenal masa lalu si vokalis aku jadi paham alasan ia pernah mengalami frustasi hingga pernah mengalami depresi dan keinginan untuk nyawanya berakhir.
Trauma masa lampau dan tekanan mental yang sungguh berat ini untungnya terlampiaskan dalam sejumlah lagunya yang kelam. Sungguh kelam. Kita bisa mendengar keluhan, suara-suara dalam benaknya, tekanan yang membuatnya mual seperti serangan panik dan sebagainya.
Masalah mental ini tergambar dalam tembang-tembang seperti “Tattered & Torn”, “Purity”, “Scissors”, dan “Iowa”.
Lagu “Tattered & Torn” memiliki efek musik yang aneh seperti serangan bangsa kepiting dan kalajengking. Lagu ini ditulis si badut Shawn Crahan. Musiknya kompleks. Bagian DJ, efek musik, dan bas terdengar jelas. Ada rasa frustasi akan ‘perang’ dalam pikiran, kemarahan, dan tawa sinis yang rasanya janggal.
Sementara dalam “Purity” gebukan drumnya memang mantap dan bisa mengalihkan perhatian ke liriknya yang sedih. Lagu ini menggunakan sudut pandang dari seseorang yang seperti terkubur hidup-hidup hingga hidupnya berakhir. Konon Slipknot terinspirasi dari cerita di internet tentang tindak kejahatan melibatkan anak-anak yang diculik dan dibunuh, tapi cerita itu rupanya hanya fiktif.
Yang menarik dari lagu ini lirik dan gaya bernyanyi Corey yang seperti memahami situasi si korban dengan baik. Ia seperti tahu bagaimana rasa seseorang di ujung hidupnya dan merasa frustasi karena tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diri.
Lagu berikutnya dalam album debut yang dengan gamblang menceritakan situasi seseorang yang sedang mengalami depresi berat adalah “Scissors”. Bagi yang sedang mengalami situasi ini seperti anxiety hingga depresi bisa jadi malah merasa tenang saat mendengarnya karena seperti ada seseorang yang memahami kondisi yang sulit dijelaskan dalam kata-kata ini.
Liriknya seram seperti seseorang psikopat sedang menjebak korbannya. Namun rupanya lagu ini berasal dari pengalaman mendiang Joey Jordison ketika mengalami depresi berat hingga seperti terputus dari realitas.
Yang menarik dari lagu sepanjang 8 menit 25 detik ini adalah emosi mentah dan musik eksperimentalnya pada paruh kedua. Disebutkan lagu ini direkam satu kali dan pada paruh kedua Corey seperti mengalami tekanan mental dari berhalusinasi, kesakitan, hingga muntah. Situasi yang terdengar dalam lagu ini apa adanya, tidak dibuat-buat.
Pada album kedua, tema ini hadir dalam “Skin Ticket”, ” Gently”, dan “Iowa”. Mungkin karena aku menua, aku jadi menyukai dan memahami lagu-lagu ini. Bahkan aku bisa tidur nyenyak mendengar lagu-lagu ini karena anehnya lagu ini menenangkan.
Tembang ” Skin Ticket” jarang ditampilkan di panggung karena lagu ini sebenarnya memiliki lapisan lirik yang sedih dan depresif. Sebenarnya lagu-lagu dengan tema kesehatan mental ini sangat jarang ditampilkan Corey dkk. Mungkin karena sangat berat menampilkan emosi mentah ini di panggung. Bisa jadi mereka terpicu akan kondisi ini ketika membawakannya.
Lagu “Skin Ticket” ini di bagian repetitif di bait-baik terakhir seperti menyambung dengan tembang “Iowa”. Omong-omong tentang tembang “Iowa” dan “Gently” sepertinya aku sudah pernah membahasnya, jadi tak perlu kuulang.
Kedua lagu, “Iowa” dan “Gently” ini juga favoritku. Di luar atmosfernya yang seram dan suram, intro kedua lagu ini indah dan melodius.
Pada kedua lagu tersebut, setiap personel Slipknot seperti mendapatkan saluran untuk menyampaikan emosi dan tekanan mentalnya. Terutama pada tembang “Iowa”, Corey benar-benar lepas diri, ia mengomel, berteriak, tertawa sendiri hingga lagu berakhir pada menit 15:06. Lagu terpanjang Slipknot, di mana pendengar seperti mendapatkan sesi meditatif yang ganjil sekaligus menenangkan.
Oh ketika aku mendengar dan menulis lagu-lagu ini aku sampai beberapa kali memastikan mendengar lagu ini lewat headset. Aku kuatir orang-orang di sekeliling terkejut mendengarnya hehehe.
Mendengarkan lagu dan bernyanyi bisa jadi semacam katarsis bagi mereka yang mengalami tekanan mental. Namun, jika kondisi ini berlarut dan makin parah, jangan lupa untuk menyampaikan ke orang terdekat dan pihak profesional, jangan terus dipendam. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan badan, jadi rawat baik-baik ya kawan.
Image by fradellafra from Pixabay
