Ini kali kesekian aku melakukan perjalanan naik feri mengarungi Selat Sunda. Kali ini perjalanan dari Lampung menuju daratan Jawa. Karena bosan duduk di dalam feri, maka aku berjalan-jalan di geladak dasar hingga ke lantai tiga. Lanjutkan membaca ‘Naik Feri Saat Senja’
Kemarin aku merasa kangen dengan tembang dari Emma Shapplin berjudul La Notte Etterna. Sudah lama sekali aku tak mendengarnya. Dulu lagu ini rajin menemaniku saat mengerjakan karya akhir di mana saat itu musim hujan. Aku merindukannya dan memutarnya. Selanjutnya nomor dan tembang new age lainnya pun direkomendasikan. Lanjutkan membaca ‘Tentang Musik New Age’
Tembang berjudul Puspa Dewi pada bulan Oktober tahun lalu sering sekali kuputar. Aku merasa lagu ini aneh, namun juga bikin aku penasaran karena liriknya tak biasa. Mungkin karena nuansanya yang menurutku suram dan seram, maka lagu ini kemudian menjadi salah satu tembang soundtrack film horor berjudul Lentera Merah. Penelusuran dalam lagu ini membawaku ke versi orisinilnya yang ternyata dibawakan oleh Titiek Puspa. Lanjutkan membaca ‘Puspa Dewi dan Gang Kelinci’
Kemoceng pada Januari akhir kubawa ke klinik untuk disteril. Ditolak. Aku memohon-mohon karena sudah ada ancaman si Kemoceng bakal dikembalikan ke jalanan jika ia punya anak lagi. Ia sudah melahirkan dua kali di rumahku dan kini anaknya sudah tiga yang hidup. Tapi permohonanku tetap ditolak. Lanjutkan membaca ‘Astaga Kemoceng Hamil’
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Tak ada hujan hari ini. Rasanya begitu gerah kali ini. Meski demikian aku merasa lapar dan ingin makan mie instan rebus dengan bawang goreng banyak sekali. Akhirnya aku makan dengan lahap sekali. Lanjutkan membaca ‘Apakah Kamu Merasa Bersalah Makan Mie Malam-malam’