Drupadi di Puncak Kemarahan

Drupadi Mulat karya Elly D. Lutan mengisahkan tentang remuk redamnya perasaan Drupadi ketika dijadikan taruhan oleh suaminya, Puntadewa. Ia kalah. Lalu Dursanana, adik Duryudana berupaya menelanjanginya di muka umum. Tidak ada satupun yang saat itu membelanya. Semua diam terpaku dan membuat Drupadi terluka.
Sejak itu Drupadi bersumpah. Ia tidak akan menggelung rambutnya sebelum keramas dengan darah Dursanana. Semua orang termasuk Krisna menganggap niatannya itu berlebihan. Lagi-lagi Drupadi merasa disepelekan. Ia amat kecewa.
Kisah ini diejahwantakan dengan adegan pembuka yang menampilkan sosok Drupadi di tengah dayang-dayangnya. Ia memegang rambut palsu yang biasa dikenakan untuk menggelung rambut. Ia berkeluh kesah.
Lalu alur berubah menjadi flashback. Si Drupadi menari dengan penuh gembira bersama Pandawa. Tapi kegembirannya berganti menjadi ketakutan dan ketakutan ketika serombongan Kurawa menghampirinya. Si Dursanana dan Drupadi kemudian menjadi fokus. Drupadi menari berputar-putar ketika Dursanana menarik selendang yang membelit tubuhnya.
Selintas tari ini mirip dengan wayang orang, hanya porsi gerak tubuhnya lebih banyak. Penari prianya, terutama Pandawa, bermain dengan luwes tanpa terkesan kebanci-bancian. Tata musiknya, terutama tembang-tembang Jawa yang dilantunkan sindhen mampu memberi nyawa dalam tarian ini.

bagus yach 🙂