Bermaaafan Secara Tulus Tidaklah Mudah

Doomed diplomacy.
Lima tahun lalu saya pernah membaca cerpen yang mengkritisi budaya memaafkan di hari raya Idul Fitri. Tokoh dalam cerita tersebut merasa apatis dengan budaya tersebut karena kegiatan memaafkan seperti terformalisasi, hanya seperti basa-basi, tanpa makna. Cerpen ini mengusik perasaan saya. Saya bertanya-tanya dalam hati. Benarkah saya telah tulus meminta maaf dan memaafkan pada hari besar umat Islam tersebut?

Saya mohon maaf sebelumnya jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan saya. Waktu saya kecil, saya menganggap lebaran adalah hari yang luar biasa. Bisa memakai baju baru, makan enak, dapat angpao, dan plus bonus dosa kita  menguap karena telah bersalaman dan berujar mohon maaf lahir batin ke sanak saudara, teman-teman, guru, dan para tetangga.

Sayangnya setelah dewasa, saya merasa meminta maaf dan memaafkan adalah hal yang sulit dilakukan. Memang di bibir saya bisa mengucapkan mohon maaf atas segala salah dan khilaf, tangan bisa diperintah otak untuk bersalaman , namun hati terkadang sulit diperintah. Meminta maaf dan memaafkan secara tulus itu rupanya tidak mudah. Bahkan, saya beranggapan kadar kesulitannya lebih tinggi dibandingkan melakukan ibadah yang dilakukan sehari-hari, karena melibatkan perasaan antarmanusia.

Mungkin karena apatis, saya terkadang menganggap memaafkan saat Idul Fitri adalah proses formal. Karena menurut saya memaafkan sebetulnya bisa dilakukan kapan saja saat hati telah siap. Saya pernah merasa sangat sedih ketika saya berselisih dengan teman dan ia tidak mau memaafkan saat itu dan ia berkata proses itu menunggu lebaran. Saya yang awalnya tulus meminta maaf dan menekan ego karena merasa tidak bersalah, kemudian malah semakin kesal kepadanya. Dan ia bukan orang pertama yang berkata kegiatan maaf perlu menunggu saat lebaran.

Tahun ini saya beroptimis bisa menata hati agar tulus meminta maaf dan memaafkan. Saat Ramadhan, umat Islam telah digambleng untuk menjaga hati dan ibadahnya, menjaga hubungan baik secara vertikal. Dan lebaran giliran hubungan horizontal ke sesama manusia yang diperbaiki.

Pertama, saya ingin meminta maaf dan memaafkan kepada diri sendiri. Ada banyak hal yang membuat saya menyalahkan diri sendiri. Dan hal ini kadang membuat frustasi dan jengkel kepada diri sendiri. Maafkan saya, saya akan berupaya untuk menjaga janji-janji saya untuk diri sendiri.

Kedua, saya mohon maaf kepada seluruh pengunjung blog ini, terutama yang membaca artikel ini. Artikel ini ungkapan jujur saya karena saya resah dengan pikiran saya yang teracuni lebaran adalah ritual memaafkan. Saya mohon maaf atas keberadaan artikel ini.

Berikutnya, tentu saya akan meminta maaf kepada pasangan yang telah sering saya buat jengkel dan kadang juga membuat saya kesal. Ke orang tua, ke kakak, sanak saudara, teman-teman, tetangga, rekan kerja, dan ke para kucing pengamen yang kadang lalai saya beri makan. Maafkan aku ya Nori, Momo, dan Mimi.

Tidak lupa saya meminta maaf kepada seluruh penghuni rumah, kepada tanaman yang kadang kurang terawat, ke perangkat rumah tangga yang rusak karena kecerobohan saya, dan bahan makanan yang terkadang sepertinya saya biarkan membusuk/tidak layak makan di kulkas atau lemari penyimpan.

Selamat Idul Fitri:)

25808-Clipart-Illustration-Of-White-Konkee-Characters-Shaking-Hands

Gambar diambil dari:www.cartoonstock.com dan www.clipartof.com

 

~ oleh dewipuspasari pada Juli 29, 2014.

Tinggalkan komentar