Jajan Serabi

“Jajan serabi yuk!” Nita mengajakku yang asyik bengong sambil menatap acara televisi.

Wah serabi. Asyik. Sudah lama aku tidak jajan serabi. Serabi yang lembut berpadu dengan kuah gurih santan yang legit. Sedap.

Aku pun berganti pakaian dan mengikuti Nita yang sepertinya sudah tidak sabaran.

Hari masih pagi. Seperti di daerah lain, kota Solo ini juga memiliki hari khusus car free day.

Ada banyak penjaja makanan di sini. Hidungku membaui sejumlah makanan yang seolah-olah saling berkompetisi mana yang terenak dan tersedap.

Aroma manis hadir dalam wujud makanan creepes. Aroma manisnya menusuk-nusuk, rasa creepes pasti enak, apalagi yang memiliki isian pisang, susu dan misis cokelat. Aku jadi pengin.

Nita nampaknya fokus dengan tujuannya untuk jajan serabi. Ia pun tak bergeming dan lewat begitu saja penjual kue cucur. Duh kue cucur yang cokelat dan manis, dengan bagian tengahnya yang menggembung diacuhkannya begitu saja. Ia ditemani dengan roti goreng, donat cincin dengan serbuk putih gula bubuk dan sate donat beragam rasa, antara keju parut, gula bubuk, dan misis cokelat. Nyam…nyam.

Nita masih melangkah gagah. Ia juga melewati penjual soto babat yang harumnya mengusikku, sate kambing yang mengingatkanku perutku minta diisi, dan nasi liwet yang santan kentalnya nampak gurih.

Sobatku ini kemudian berhenti di sebuah gerobak yang bertuliskan serabi solo. Okelah serabi satu dua biji dengan kuah santan juga enak untuk sarapan.

Si penjual menyambut Nita. Mungkin Nita sering membeli di sini.

Ia mengaduk adonan yang terdiri atas tepung dan santan, kemudian menuangkannya di sebuah wajan kecil. Wajan ini kokoh berdiri di atas anglo. Ketika adonannya mengering aku malah yang dagdigdug, apakah adonannya tidak lengket? Si penjualnya dengan santai mengangkat serabi yang sudah matang dan menaruhnya di atas daun pisang. Penampilan serabinya indah, tidak koyak karena lengket di wajan.

Nita dengan santai mengambil serabi yang sudah matang dan hangat tersebut. Ia membaginya denganku. Aku pun bengong.

“Nit, kuah serabinya mana?”
Nita mendelik lalu tertawa. “Kuah serabi pakai santan dan gula merah itu?” Aku mengangguk.

Nita terkikik, ini Solo jeng. Serabinya tidak pakai kuah. Langsung disantap saja.

Walah aku sudah membayangkan perpaduan serabi dan kuah santan manis. Apalagi jika ditemani petulo. Wah makin sedap. Aku sedikit kecewa. Anganku melihat serabi mengapung bersama petulo di danau kuah santan pun lenyap.

Aku pun agak cemberut menyantap serabi. Permukaannya yang lembut menyapu lidahku. Eh enak juga, pujiku. Rasanya memang berbeda dengan serabi yang biasa kusantap dengan santan. Serabi yang ini lebih lembut, gurih, dan manis.

“Bagaimana?” tanya Nita
Enak juga Nit. Namanya serabi tapi bisa beda rasa dan penampilan. Aku ingat di Malang, kue serabi yang ditemani gula bubuk itu disebut kue pancong di Jakarta. Omong-omong kenapa disebut kue serabi ya?

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 2, 2017.

2 Tanggapan to “Jajan Serabi”

  1. Kayaknya serabi lebih enak kalo pake kuah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: