The Dark Knight vs Black Panther

Terus terang agak seram juga membandingkan film DC Comics dengan film Marvel. Aku jadi ingat satu setengah tahun lalu panen hujatan ketika menyebut salah satu film Marvel kurang bagus. Tapi kali ini bahasan Oscar dan kedua film superhero ini santai saja.

“Black Panther” tahun ini dinominasikan dalam tujuh kategori Oscar. Sebenarnya bukan kali ini film superhero banyak mendapatkan nominasi Oscar. “The Dark Knight” yang dirilis tahun 2008 juga mendulang banyak nominasi Oscar 2019 dengan delapan nominasi. Namun yang membuat “Black Panther” ramai diperbincangkan, ia juga meraih nominasi “Best Pictures” dalam ajang Oscar yang kemudian diraih oleh “Green Book”.

Oke aku mau mengutarakan pendapatku tentang kedua film ini. Sebelumnya aku suka dan menonton hampir semua film DC Comics dan Marvel. Tidak semua film superhero dari kedua studio itu kusuka. Ada juga film superhero DC Comics dan Marvel yang kurang kusukai seperti “Green Lantern” dan “Thor:Ragnarok”.

Balik ke topik. Meskipun sudah lebih dari sepuluh tahun silam aku masih ingat sensasi menonton “The Dark Knight” di CGV Grand Indonesia. Aku menontonnya bersama dua sahabatku. Sepanjang film aku tak bisa menebak arah cerita dan terpaku akan performa para pemainnya, terutama Joker yang dibawakan prima oleh Heath Ledger.

Cerita “The Dark Knight” kompleks. Tone-nya suram dan menggambarkan morat-maritnya Gotham yang dikuasai para kriminal. Sosok Batman juga tak digambarkan sempurna. Ia juga sosok yang rapuh yang juga kewalahan menghadapi musuh yang gila sekaligus cerdas. Sampai sekarang “The Dark Knight” masuk dalam film superhero favoritku.

Sementara “Black Panther” kuakui menarik dari sisi CGI, desain kostum, dan skoringnya. Nuansanya khas Afrika. Para pemainnya sebagian besar kulit hitam dengan para wanitanya memiliki peran kuat di dunia tersebut. Ya, ada nuansa feminisme dan kental akan nilai kultur Afrika.

Dari segi cerita, “Black Panther” bisa dibilang sederhana dan mudah ditebak. Kualitas akting juga biasa. Yang membekas hanya CGI-nya dan desain kostum yang detail.

Konon ada sesuatu perdebatan di antara dewan juri bahwa film superhero kurang layak masuk nominasi film terbaik Oscar pada masa “The Dark Knight”. Dan dari delapan nominasi, “The Dark Knight” hanya membawa dua piala, aktor pendukung terbaik untuk Heath Ledger dan penyuntingan suara terbaik untuk Richard King. Saat itu pemenang film terbaik adalah “Slumdog Millionaire” yang kental dengan kultur India.

Sedangkan “Black Panther” berhasil memboyong tiga dari tujuh nominasi. “Black Panther” unggul di kostum terbaik, skoring terbaik, dan desain produksi terbaik.

Mungkin kuatnya nuansa budaya dan etnis Afrika dan isu antirasis yang kuat di ajang Oscar menjadikan “Black Panther”menjadi salah satu favorit dewan juri. Memang faktor-faktor tersebut unggul di “Black Panther”.

Tapi secara jujur secara keseluruhan aku lebih menyukai “The Dark Knight” daripada “Black Panther”.

Hehehe ini hanyalah opini pribadi. Toh keduanya ada di ajang Oscar yang berbeda. Selamat buat “Black Panther”. Masuknya “Black Panther” di kategori film terbaik akan membuka jalan film superhero dan film populer lainnya untuk masuk di kategori bergengsi tersebut.

Kalian juga bebas berkomentar, tapi aku jangan di-bully dengan kata-kata kasar ya hahaha😀😆.

Gambar: IMDb dan Vox

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 25, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: