Riwayat Hanacaraka

Waktu duduk di bangku SD, aku punya buku belajar aksara Jawa. Di situ ada gambar dua sosok wayang. Mereka nampaknya merebutkan sesuatu, seperti keris. Lalu mereka berkelahi dan karena sama kuatnya maka keduanya pun kemudian sama-sama tewas. Waktu itu aku merasa begitu sedih melihat gambar tersebut. Rupanya dua sosok itu ada kaitannya dengan Aji Saka. Siapa dia?

Aji Saka disebut-sebut sebagai nenek moyang bangsa Jawa. Dulu Jawa dikenal negeri yang subur tapi juga angker karena dihuni raksasa. Penyebutan raksasa ini bukan dalam arti sebenarnya, makhluk yang bertubuh sangat besar dan tinggi, melainkan manusia kanibal.

Dulu jika membaca cerita jawa dan wayang sering disebut-sebut raksasa jahat dan sebagainya. Baru kemudian kutahu yang dimaksud adalah raja yang kanibal, memakan manusia baik dari persembahan rakyatnya maupun musuhnya. Ada juga yang mempraktikan ilmu ini untuk memberikan kesan sangar dan patut ditakuti.

Dikisahkan ada seorang sakti yang berniat menyebarkan darma ke pulau Jawa. Namanya Aji Saka, dari Bumi Majeti. Ia membawa dua anak buahnya, Dora dan Sembada. Aji Saka sakti dan cerdik. Ketika mendengar ada raja raksasa, Prabu Dewata Cengkar, yang kejam di Medang Kamulan, ia pun berniat mengalahkannya. Lewat taktiknya maka raja kanibal itu pun takluk sehingga kemudian Aji Saka pun menggantikan kedudukannya. Raja itu terperosok jatuh ke Laut Selatan dan berubah wujud jadi buaya putih.

Sebelum melakukan misi ini, Aji Saka menitipkan keris pusakanya ke abdinya, Sembada. Ia menungguinya di Gunung Kendeng. Aji Saka berpesan agar tak memperbolehkan siapapun mengambilnya kecuali dirinya. Dengan patuh ia pun menjagainya.

Aji Saka lupa akan pesannya itu. Ia memberikan perintah ke Dora untuk mengambil pusakanya tersebut. Dora pun menjalankan amanahnya. Ia meminta Sembada menyerahkan keris pusaka atas nama Aji Saka, tapi Sembada juga bersikeras akan pesan yang diterimanya. Keduanya pun duel. Karena sama-sama sakti, keduanya pun kemudian sama-sama meninggal. Aji Saka yang kemudian mengetahuinya pun merasa menyesal dan berduka.

Ada empat baris huruf Jawa ini diambil dari sebuah kisah.
Ha na ca ra ka bermakna ada utusan.
Da ta sa wa la sama-sama tidak ada yang mau mengalah
Pa dha ja ya nya sama-sama jaya (sakti)
Ma ga ba tha nga ini jenazahnya

Di Jawa 20 huruf ini adalah huruf dasar. Ada tambahan elemen untuk memberikan vokal, akhiran ‘n’ atau ‘ng’ dan sebagainya. Aksara Jawa ini ada kaitan dengan aksara Sunda dan Bali. Ia juga memiliki kekerabatan dengan huruf Palawa.

Cerita tentang Aji Saka dan abdinya ini bisa Kalian baca secara cuma-cuma di Play Book. Juduknya Aji Saka dan Asal Mula Aksara Jawa. Penerbitnya HKK Media, penulis dan ilustratornya Yudi Pribadi dan Jafar Shodiq. Cerita sederhana dan mirip dengan yang bisa kita dengar. Ilustrasinya apik dan khas gambar komik Indonesia.

Gambar dari PlayBook

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 26, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: