Bocah Ngapa(k) Ya, Humornya Generik Tapi Menarik

Sebenarnya sudah lama serial “Bocah Ngapa(k) Ya” hadir di layar gelas. Tapi aku baru menontonnya menarik. Konsepnya menarik dengan tetap menonjolkan kekhasan daerah Kebumen dan sekitarnya, yaitu bahasa Ngapak yang khas.

Aku menyaksikan kisah tiga bocah dengan Pak RT ini kemarin sore di Trans TV. Ada beberapa cerita pendek dalam tiap episodenya. Yang kuingat tadi aku menyaksikan bagian tentang menemukan solusi dengan kepala dingin, pelajaran tentang daun, dan menggambar suasana pedesaan.

Bagian yang kutonton bercerita tentang Ilham yang menyiram kedua temannya dengan es sirup miliknya. Ia beranggapan itulah yang dimaksud berpikir dengan kepala dingin.

Tentang mata pelajaran daun, lagi-lagi Ilham bikin ulah. Ia tak membawa daun mangga atau daun singkong. Melainkan daun pintu.

Ketika menggambar tentang suasana pedesaan, kawan-kawannya menggambar sawah dan rumah-rumah di desa. Tapi Ilham menggambar gedung bertingkat. Ia berdalih bisa jadi situasi ini terjadi 20 tahun kemudian. Hehehe isu menarik tapi agak berat buat anak kecil. Kawan-kawannya protes mereka kuatir dengan nasib sawah dan sekitarnya. Ilham berkata itu hanya gambar dan sekarang gambarnya akan ia rusak.

Ceritanya menggambarkan keseharian anak-anak SD yang masih polos di sebuah desa di Kebumen. Ada saja bahan yang bisa dibahas.

Aku kemudian melihat tayangan sebelumnya di YouTube, baik ketika sudah berupa miniseri di TV maupun ketika masih berupa webseries berjudul “Polapike”.

Rupanya topik-topiknya menarik. Hanya sepertinya perlu lebih digodok agar tema dan humornya segar. Beberapa di antaranya kulihat modelnya meniru humor sketsa, agak garing alias sebagian direkayasa dan plotnya mudah dibaca. Lebih baik lagi jika humornya lebih natural.

Tentang Bocah Ngapa(k) Ya
Dulunya “Bocah Ngapa(k) Ya” merupakan webseries yang dibuat oleh Rendra Pratiwi yang memang seorang pelawak. Ia kemudian menemukan bahan menarik ketika pulang kampung dan serius untuk menekuninya. Ia membuat cerita berbasiskan daerahnya dengan tokoh anak-anak.

Film pendeknya ini, “Polapike” sukses. Yang nonton pun mencapai jutaan. Ia membuat berbagai miniseri yang diunggahnya di YouTube. Melihat potensinya tersebut, tak lama ia pun diminta membuatnya untuk versi TV. Ia turut muncul di beberapa cerita sebagai Pak RT yang gemar menasihati anak-anak tersebut.

Hingga kini sudah lebih dari 40 episode yang ditayangkan. Sambutan masyarakat juga hangat.

Menurutku kekhasan daerah dan kepolosan anak-anak inilah kunci kesuksesan miniseri komedi ini. Di tengah sinetron yang hedonis, melihat cerita sehari-hari dengan latar daerah yang kuat itu menarik. Kita seperti mendengar kawan kita bercerita.

Tingkah laku bocah-bocah di sini juga polos. Ada tiga tokoh utamanya, Ilham, Azkal,dan Fadli. Ketiganya bocah-bocah desa Sadangwetan Kebumen.

Memang kadang-kadang kurang lucu dan terkesan dibuat-buat. Mungkin malah lebih lucu jika mereka dibiarkan apa adanya dan lebih natural.

Gambar: akurat, sepositif, dan youtube

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 2, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: