Tentang Banjir


Banjir menjadi bencana alam nomor satu pada tahun 2019 berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dirilis oleh koran Tempo beberapa hari lalu. Frekuensinya lebih sering daripada bencana karhutla, wilayah terdampaknya besar, dan tingkat kerugiannya juga tinggi.

Pada tahun 2019 berdasarkan data BNPB tersebut, banjir di Indonesia terjadi sebanyak 757 kali dengan korban luka mencapai 1.045 jiwa. Rumah rusak dan rumah yang terendam masing-masing sebanyak 4.609 unit dan 94.493 unit.Sering kali banjir juga datang bersama tanah longsor.

Indonesia tak bisa mengelak sebagai negara bencana. Ada begitu ragam bencana, dari erupsi, angin topan, tsunami, dan sebagainya. Tapi berbeda dengan bencana alam seperti gunung api meletus yang karena faktor alam, faktor manusia memiliki peran andil cukup besar akan bencana banjir dan tanah longsor.


Beberapa minggu lalu warga Depok dan sekitarnya dihebohkan dengan kemunculan ular-ular. Ini sangat meresahkan, apalagi daerah Margocity dan Universitas Indonesia juga pernah kedapatan ada ular yang melintas saat musim hujan.

Dari pengemudi ojek yang bergabung dalam klub reptil memang ada waktu-waktu tertentu mereka beranak dan mencari lahan untuk melahirkan. Tapi baru tahun ini aku mendengar kabar berita itu yang masif.

Ada apa dengan Depok?
Di kawasan Margonda terus didirikan apartemen. Pembangunan perumahan juga merajalela. Kawasan-kawasan hijau dan daerah resapan air telah berubah menjadi perkantoran, pusat perbelanjaan, dan perumahan. Lalu ke mana satwa liar itu tinggal?

Masalah Tata Kota, Adakah Perencanaan?
Di Jakarta, terutama daerah pinggiran seperti tempat tinggalku, juga mulai berubah. Mulai dibangun apartemen dan proyek perumahan yang luas. Sepertinya tak boleh ada lahan hijau yang menganggur.

Padahal jalanan di kawasanku juga tak lebar. Sedangkan pemukimannya juga bisa dibilang cukup padat. Aku tak yakin para pengembang memikirkan tentang jalan, resapan air, dan air tanah.

Di kawasanku yang kurasakan mulai berubah adalah kemacetan yang muncul di jalan-jalan kecil, terutama dekat area sekolah dan kawasan yang sarat penjual makanan. Air tanahnya juga kualitasnya berubah. Dulu bersih dan bisa diadu dengan air kemasan, tapi sekarang entahlah. Satu lagi, burung-burung gereja dan burung liar lainnya sudah jarang terlihat. Dulu jika pagi halamanku sering menjadi area bermain burung-burung. Mereka tak takut dengan kucing. Kini aku tak pernah lagi bertemu mereka.

Aku bertanya-tanya apakah ada bagian yang mengelola tata kota Jabodetabek? Dulu seingatku ada peta kawasan. Kawasan yang masuk daerah hijau dilarang dibangun untuk perumahan. Daerah ini difungsikan sebagai area resapan. Tapi aku tak tahu adakah blueprint misalkan satu tahun ke depan atau lima tahun ke depan tentang tata kota. Misalnya area A karena dekat sungai dilarang ada area perumahan sejauh xxx kilometer. Pusat perbelanjaan dan perkantoran hanya diperbolehkan di daerah A, B, dan C. Penginapan, apartemen, dan perkantoran tak boleh menggunakan air tanah dan sebagainya. Entahlah apakah dinas tata kota bekerja seperti itu?

Di Jakarta pusat beberapa waktu lalu selain proyek transportasi publik, juga gencar dilakukan perluasan pedestrian. Di daerah Cawang juga banyak galian.

Pembangunan trotoar ini menurutku cocok di Jakarta Pusat seperti Sudirman dan Thamrin, tapi kurang cocok di kawasan lainnya. Menurutku saat ini lebar trotoar sudah cukup. Yang dimasalahkan pejalan kaki adalah banyaknya area tersebut diserobot oleh pedagang kaki lima dan juga pengendara motor. Di beberapa area juga ditemui trotoar menjadi lahan parkiran. Masalah ini yang sebenarnya lebih penting. Tapi mungkin Pemda DKI punya pikiran lain.

Dana APBD DKI bernilai trilyunan tapi sampai sekarang sistem pengolahan sampah masih saja hanya berupa wacana. Beberapa bagian sungai juga mulai kotor dan tak dirawat. Para warganya juga sebagian masih cinta buang sampah sembarangan.

Tapi haruskah kita hanya berkompromi dan terus menganggap banjir sebagai bencana alam?

Masalah sampah dan tata kota ini menurutku harus segera diselesaikan. Membuat sumur resapan, biopori, mengolah sampah hijau,juga menghijaukan lagi Jakarta juga bisa menjadi usulan solusi.

Semoga banjir cepat surut dan momen ini jadi pengingat pe er warga Jabodetabek dan Pemdanya masih banyak.

Gambar atas dari Kompas

~ oleh dewipuspasari pada Januari 2, 2020.

3 Tanggapan to “Tentang Banjir”

  1. Ketika smua org sdh abai dg lingkungan, beginilah akibatnya… bencana ini krn ulah manusia sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: