Jakarta Masih Rawan Hujan Deras dan Banjir, Apa yang Harus Dilakukan?

Dini hari sekitar pukul 01.30 aku terkejut ketika mendengar bunyi air hujan yang begitu deras. Sangat deras. Aku spontan membuka pintu kamar dan menaruh beberapa ember dan kain pel di tempat-tempat yang sering bocor. Hingga siang hari hujan turun, berhenti, dan kembali turun. Kucek di berita dan medsos, banjir telah menimpa berbagai wilayah Jakarta, termasuk yang biasanya aman.

Kawanku yang tinggal di sekitar Salemba bercerita baru kali ini rumahya kebanjiran. Ia beruntung rumahnya bertingkat sehingga bisa sementara mengungsi di lantai dua. Tapi beberapa barangnya terendam dan dikuatirkan akan rusak.

Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang tak jauh dari UI Salemba dan Stasiun Cikini juga dikabarkan kemasukan air. Beberapa titik lagi-lagi banjir, tapi ada juga daerah baru yang mengalami nasib naas dan kemasukan air.

Jakarta disebut-sebut kota banjir sejak jaman kolonial. Tapi ini merupakan pembelaan yang malas karena dulu-dulu Jakarta juga mengalami hujan deras hanya efeknya tidak separah kali ini. Dulu banjir parah terakhir sekitar tahun 2007, 2008, dan sekitar tahun 2012, setelah itu masih ada banjir tapi tidak begitu parah. Kini wilayah banjir semakin merata. Pembangunan yang kurang berwawasan lingkungan, sungai dan selokan yang tersumbat sampah, serta kesadaran masyarakat akan kebersihan menjadi salah satu penyumbangnya.

Menyalahkan pemerintah daerah rasanya tidak akan menyelesaikan masalah. Mereka sepertinya lagi berfokus dengan proyek yang memakan dana trilyunan. Masyarakat sendiri yang perlu bekerja sama dan memutar otak apa yang bisa dilakukan.

Dari pengalaman banjir sebelumnya, maka kita perlu lebih aktif memantau medsos karena info-info terkini malah lebih sering dibagikan ke medsos. Tapi hati-hati dengan hoaks. Jika sudah ada daerah di dekat kita yang banjir, maka kita juga perlu waspada.

Bagi yang rumahnya aman maka juga perlu bersiap-siap. Misalnya dengan menyediakan lilin, men-charge power bank, gawai dan perlengkapan lainnya yang penting. Kemudian jangan lupa menyiapkan makanan dan minuman, serta perlengkapan P3K. Aku pernah membaca di Jepang sudah umum jika tiap orang menyediakan kantung darurat yang berisi barang-barang penting seperti charger, lilin, senter, makanan dan minuman kemasan, baju ganti, kantung plastik, dokumen penting, sikat gigi plus tisu basah, dan sebagainya. Tiap orang memiliki satu kantung darurat atau tas siaga bencana. Ia diletakkan di tempat yang mudah, sehingga ketika terjadi hal-hal yang tak diinginkan maka sudah siap.

Jika hujan telah berhenti maka kita bisa memeriksa selokan. Sampah-sampah yang menyangkut di selokan bisa dibersihkan. Air yang kotor dibuang agar tak menjadi sarang nyamuk.  Setelah hujan deras lewat, maka kita perlu melakukan kerja bakti bersama. Jangan lupa membantu mereka yang mengalami kebanjiran, bisa dengan memberikan donasi berupa makanan, keperluan sanitasi, dan sebagainya.

Jakarta masih rawan hujan deras. Masyarakat perlu bergandengan tangan untuk saling membantu.  Besok adalah hari kerja maka perlu bersiap dengan menyediakan jas hujan, payung, kantung plastik, biskuit dan air minum, serta gawai plus charger. Apabila misalkan terjadi gangguan sinyal untuk commuter line, maka segeralah cari alternatif transportasi lain.

~ oleh dewipuspasari pada Februari 23, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: