Mendengarkan Lagi Lagu-lagu Sum 41
Di antara band-band sweet punk dan punk rock, Blink-182 dan Sum 41 adalah favoritku dan lagu-lagunya masih sering kudengar. Lagu-lagu ini seperti mengingatkan masa-masa ketika kehidupan terasa sederhana dan damai. Alhasil ketika Sum 41 mengumumkan bandnya bubar setelah sebelumnya batal manggung ke Jakarta, aku termasuk yang kecewa.
Memang sih aku tak mengikuti perjalanan bandnya. Kucek hingga kini mereka telah merilis delapan album dan akan merilis album Heaven x Hell. Mereka juga direncanakan manggung di festival akbar When We Were Young, tapi entahlah.
Malam ini aku mendengar lagu-lagu Sum 41 secara acak dari berbagai album setalah aku merasa mentok menulis dan enggan mengerjakan banyak hal. Aku sedang mengalami writing block dan sepertinya aku memang perlu rehat, sambil memikirkan cara dan mengevaluasi pekerjaanku hingga kini.
Wah ada suara kucing berkelahi di luar, aku cek dulu. Kuatirnya si Pong kelahi dengan Nero Manis. Si Nero lagi sering dirundung karena ia satu-satunya kucing oren di gang rumah ini.
Lanjut ya…
Jika diperhatikan, Sum 41 menemui masa-masa keemasan pada tahun 2001-2004. Pada tahun-tahun tersebut aliran punk rock, nu metal, dan emo memang jaya-jayanya. Ada begitu banyak band dan lagu-lagu hits, para penggemarnya juga banyak.
Sebelumnya pada album debut, Half Hour of Power mereka telah menunjukkan gaya mereka denga intro yang khas lewat nomor Grab The Devil By The Horns And *** Him. Album ini tidak buruk, lagu-lagunya lumayan meski mungkin tidak istimewa, beberapa di antaranya seperti eksperimental. Lagu yang lumayan seperti What I Believe, T.H.T, Summer, dan 32 Ways to Die. Ketukan drum di 32 Ways to Die menarik didengar. begitu juga permainan gitar di Ride the Chariot to the Devil yang seperti rock klasik. Nomor 32 Ways to Die jagoanku di sini.
All Killer No Filler (2001) yang merupakan album kedua juga menunjukkan perkembangan band yang dikomandani oleh Deryck Whibley ini. Dalam album ini mereka sepertinya masih meraba-raba gaya yang cocok dengan mereka, sweet punk, punk rock, atau kental dengan unsur rock klasik. Lagu yang asyik dalam album ini seperti Fat Lip dan In Too Deep. Tembang In Too Deep ini populer, iramanya riang, liriknya ringan namun diksinya sudah cukup baik. Nomor Handle This dan Heart Attack juga lumayan, ala sweet punk. Lagu Pain for Pleasure punya intro yang keren, dengan line bas yang terdengar. Tembang In Too Deep adalah favoritku di sini.
Album ketiga, Does This Look Infected? makin membuat mereka populer. Ada banyak yang enak di sini dari The Hell Song, Over My Head (Better off Dead, Still Waiting, Hyper-Insomnia-Para-Condrioid, dan Billy Speen. Oh iya ada kalanya di album ini lagu-lagunya agak mirip nuansanya dengan Off Spring. Di Album ini favoritku adalah Still Waiting.
Album Chuck makin menunjukkan kematangan mereka bermusik. Mereka mulai bereksplorasi sambil tetap berpegang dengan akar mereka. Dari Intro, No Reason, We’re All To Blame, Angels with Dirty Faces, Pieces, There’s No Solution, dan Noots. Favoritku di album keempat adalah Pieces dan We’re All To Blame, liriknya mudah dipahami dan musiknya enak didengar.
Nah, album-album berikutnya aku tak begitu mengikuti, namun masih ada beberapa lagunya yang juga seru. Di album Underclass Hero, ada tembang Underclass Hero, Speak of The Devil, With Me, King of Contradiction, dan Best of Me.
Di album kompilasi tembang mereka berjudul Motivation enak didengar. Iramanya riang dan liriknya masih relevan hingga saat ini.
Pada album keenam, Screaming Bloody Murder ada lagu Reason to Believe yang langsung membuatku jatuh hati. Lagu Screaming Bloody Murder juga memberikan nuansa gloomy. Oh iya lagu-lagu dalam album ini memiliki nuansa suram, tapi musikalitas Sum 41 makin naik level. Pilihan lirik dan musiknya semakin berkembang meski tak begitu mengikuti selera pasar. Di luar prediksiku ada banyak lagu bagus dalam album ini. Jessica Kill, Skumf*k, Holy Image of Lies, Sick of Everyone, Crash, Blood in My Eyes, Back Where I Belong, dan Exit Song. Tak banyak scream dan musik yang kencang, tapi lagu-lagunya bakal membuatmu terdiam dan mendengarkannya, juga langsung menyukainya. Salah satu album yang underrated.
Album 13 Voices terdiri dari 10 lagu. Lagu-lagunya terasa biasa dibandingkan album-album sebelumnya. Sepertinya mereka kembali ke awal, dengan unsur rock klasik. Yang asyik di antaranya Fake My Own Death dan The Fall and the Rise.
Nah di album Order in Decline yang dirilis tahun 2019 juga terdiri dari 10 lagu. Album ini seperti kelanjutan album Screaming Bloody Murder. Yup album ini juga bagus. Dimulai dari Turning Away, Out for Blood, The New Sensation, A Death in The Family, Never There, dan Catching Fire. Nomor yang cadas dan lembutnya pas.
Setelah album Chuck, memang popularitas Sum 41 agak menurun dan tembangnya tidak sehits album-album sebelumnya di kawasan Asia. Namun jika diperhatikan mereka tetap konsisten menghasilkan lagu-lagu yag bagus. Malah album Screaming Bloody Murder juga bagus dan underrated. Album Order in Decline di luar dugaanku juga bagus.
Wah jadi penasaran dengan album pamungkas mereka Heaven x Hell yang belum dirilis. Terima kasih Sum 41 telah memberikan lagu-lagu yang indah dan bermakna.
Sumber gambar: CNN Indonesia
