Balada Si Roy, Adaptasi Buku yang Gagal atau Sukses?

Balada Si Roy adalah salah satu film adaptasi dari serial buku yang dulu pernah saya baca waktu masih remaja. Ketika mendengar buku karya Gol A Gong ini dilayarlebarkan, ada perasaan senang, penasaran, dan was-was karena tidak semua buku berhasil diadaptasi ke layar lebar. Lantas bagaimana dengan film dari IDN Pictures ini?
Fajar Nugros kembali di bangku sutradara setelah sukses dengan Inang dan Yo Wis Ben. Fajar Nugros sepertinya menjadi langganan menjadi sutradara film-film produksi IDN Pictures, karena kemudian ia juga menjadi sutradara film Srimulat dan Qorin.
Aku menonton film ini di Prime Video. Film ini sendiri tayang di bioskop pada bulan Januari 2023.
Film Balada Si Roy berfokus pada keseharian Roy (Abidzar Al Ghifari) setelah pindah dari Bandung untuk tinggal dan bersekolah di Serang. Di sekolah tersebut setiap hari ia berangkat dan pulang ditemani anjing setianya bernama Joe.
Penampilan dan gaya bersosialisasi Roy menarik perhatian pelajar di sana. Ada Andi (Jourdy Pranata) dan Toni (Omara Esteghlal) yang menjadi kawannya. Kemudian ada Ani (Febby Rastanty), Wiwik (Zulfa Maharani), dan Dewi (Sitha Marino), gadis-gadis cantik yang di dekatnya. Lalu ada geng Borsalino yang dipimpin Dullah (Bio One) yang suka menindas anak-anak di sekolah, termasuk membenci Roy.
Tak lama Roy pun berkonflik dengan geng Borsalino.
Dari segi visual, film ini nampak menarik. Tim Fajar berhasil menciptakan kota Serang tahun 90-an berikut juga penghuninya dengan kostum dan budaya khas tahun tersebut. Ada baju dengan warna-warni mencolok, ikat kepala, rambut keriting yang saat itu populer, dan masih banyak lagi.

Fajar dikenal suka memasukkan hal-hal yang detail, seperti poster dalam kamar Roy dan kumpulan buku-buki yang dibaca Roy. Salah satunya adalah buku berjudul Balada Si Anak Liar yang populer tahun 80-an.
Dari segi cerita, film ini memuat beberapa judul dalam buku Roy. Sayangnya ada beberapa bagian yang terasa tergesa-gesa, temponya terlalu cepat, namun ada juga yang terasa lambat dipanjang-panjangkan.
Jalan ceritanya juga terasa tidak fokus, sepertinya ada banyak elemen yang ingin dimasukkan dari silat, santet,serta dialog-dialog idealis dan gaya pemberontakan ala si Roy. Jadinya malah membingungkan sebenarnya apa sih yang ingin disodorkan dalam film ini. Editingnya juga kurang mulus, jalan ceritanya jadi terkesan lompat-lompat.
Dari segi akting, Bio One dengan mimik dan gesturnya berhasil menampilkan sosok Dullah yang angkuh dan penindas. Adanya aktor senior seperti Arswendy Beningswara agak sayang potensinya di sini hanya mendapat porsi yang sedikit. Selain Arswendy, film ini dibanjiri aktor aktris senior seperti Lulu Tobing, Kiki Narendra, dan Pritt Timothy. Juga ada kemunculan Andi /Rif, Marthino Lio, dan Amink.
Dulu saya kurang suka dengan cerita percintaan Roy yang terkesan playboy dan seenaknya. Di sini cerita percintaan tersebut mendapat porsi yang lumayan yang sebenarnya sudah kurang pas untuk era saat ini. Gombalan Roy jadi tambah terasa menyebalkan di sini.
Konflik yang dialami Roy juga nampaknya terlalu kompleks untuk anak SMA. Entahlah dulu waktu masih remaja, Roy dengan gaya bertualang dan pemberontakannya nampak keren. Tapi setelah membaca lagi dan menonton film ini sosok Roy malah sebenarnya egois dan agak menyebalkan hahaha.
Secara keseluruhan, dari segi visual film ini lumayan, tapi tidak dengan ceritanya. Ceritanya kurang fokus dan agak membosankan. Skor: 6/10.
Gambar dari Gramedia, Tribun, Kompas, dan IMDb
