The Age of Innocence, Cerita Orang Ketiga di Era Abad Ke-19 Besutan Martin Scorsese
Menonton film dengan tema perselingkuhan itu bagiku menguras energi. Lebih baik tidak menonton daripada ikut sakit hati ketika menontonnya hehehe. Oleh karenanya aku enggan menyaksikan series Layangan Putus dan film sejenis. Tapi entah kenapa aku penasaran menyaksikan The Age of Innocence, mungkin karena film ini diangkat dari novel populer dan dibesut oleh Martin Scorsese.
Penulis The Age of Innocence adalah Edith Warton. Ia merilis buku ini pada tahun 1920. Ceritanya kemudian laris manis dipanggungkan dan diadaptasi. Tokoh utamanya adalah dua perempuan bersaudara yang berbeda karakter, May Welland dan Ellen Olenska. Tokoh prianya adalah pengacara bernama Newland Archer. Ceritanya berlatar New York pada tahun 1870-an.
Martin Scorsese yang namanya melambung lewat Taxi Driver dan Goodfellas cerdik memasang nama-nama aktor dan aktris beken saat itu. Mereka adalah Daniel Day-Lewis yang kemudian hari mendapat tiga Oscar, Winona Ryder, dan Michelle Pfeiffer.
Dikisahkan Newland Archer (Daniel Day Lewis) bertunangan dengan gadis cantik bernama May Welland (Winona Ryder). Saat hendak mengumumkan pertunangan itu, Ia berjumpa dengan sepupu May yang cantik dan berjiwa bebas. Ia adalah Countess Ellen Olenska (Michelle Pfeiffer). Ia berpisah dari suaminya yang merupakan seorang Count di Polandia, namun Ia belum bercerai.
Sikap dan tindak tanduk May yang kalem dan anggun berbeda dengan sikap Ellen yang pemberontak. Meski belum bercerai, ia dekat dengan beberapa pria sehingga ia mendapat rumor yang kurang bagus. Kuatir dengan rumornya yang makin jelek, keluarganya meminta Newland untuk membujuk Ellen agar kembali ke suaminya. Namun lambat laun Newland malah jatuh cinta dengannya dan ingin meninggalkan May.
Jika kalian tak tahan dengan cerita perselingkuhan, maka film ini juga pilihan yang menyenangkan untuk ditonton. Kalian bakal kesal, lalu ingin menimpuk Newland agar sadar dan tidak bodoh dikelabui oleh Ellen yang seperti rubah. Kalian juga pasti ingin melakukan sesuatu agar Ellen kapok bermain-main dengan para pria. Sayangnya dua makhluk jahat ini tidak mendapatkan balasan atas sikap mereka yang jahat.
Hal yang menarik di sini adalah sosok May. Meski Ia nampak kalem dan manis, ia bisa tahu calon suaminya menyimpan rahasia. Ia juga langsung mengambil sikap ketika merasa sepupunya dan suaminya makin kurang ajar. May sosok wanita yang cerdik dan manipulatif. Tapi menurutku memang perlu sosok seperti ini untuk menghadapi dua orang jahat seperti Newland dan Ellen.
Dua karakter utamanya menyebalkan. Ceritanya juga membuat kesal. Tapi entah kenapa cerita-cerita semacam ini dulu laris manis dan kemudian banyak difilmkan, atau memang gambaran masyarakat jaman itu seperti itu ya?
Meski Newland digambarkan sebagai sosok pria yang tidak setia. Tapi rasanya susah untuk membenci karakter ini karena diperankan dengan apik oleh Daniel Day-Lewis. Dalam film ini Ia nampak tampan dan memikat. Sementara Michelle Pfeiffer juga tampil apik sebagai perempuan bangsawan yang penggoda. Nggak heran sih, sebelumnya Ia juga terpilih memerankan Cat Woman di Batman Returns (1992).
Winona Ryder juga tampil memesona di film ini sebagai May. Ia mampu menunjukkan kecerdikannya di balik wajah polosnya. Ia mendapatkan nominasi Best Supporting Actress di ajang Oscar.
Selain tema pihak ketiga, dalam film ini juga dibahas isu kondisi masyarakat New York saat itu yang masih suka menggosip dan penuh tatanan sosial yang menyesakkan. Oh iya kalangan bangsawan itu umum mendapat uang saku dari keluarganya seperti Ellen yang dapat uang saku dari neneknya, sehingga ia bebas ke sana ke mari meski tidak bekerja.
Kostum dan artistik dalam film ini juara. Begitu juga skoring dan visualnya. Oleh karenanya meski tema film ini tak kusukai, aku masih lumayan betah menyaksikan film ini. Oh iya film yang dirilis tahun 1993 ini bisa disaksikan di Netflix.
Gambar milik Columbia Pictures
