Tentang Sapiens dan Pertanian
Dua hari ini aku mencicil membaca buku Sapiens versi grafis karya Yuval Noah Harari. Aku belum selesai membacanya, tapi ada pemikiran tentang pertanian yang membuatku merenung. Benarkah manusia lebih baik dengan pertanian atau sebaiknya melakukan kebiasaan jaman dulu, nomaden dan berburu?
Sebelum memasuki revolusi pertanian, manusia terbiasa hidup nomaden. Mereka mencari makanan liar dan berburu hewan. Jika makanan di satu daerah sudah habis maka mereka pun pindah ke tempat lainnya.. Oleh karena kehidupan yang sulit maka rata-rata manusia jaman itu tak punya banyak anak dan tak punya tempat tinggal permanen.
Hingga suatu ketika mereka berkenalan dengan gandum dan aneka padi-padian. Orang-orang yang merasa lelah berpindah, berburu, dan takut kelaparan kemudian memutuskan untuk bertanam gandum dan menetap. Setelah itu banyak yang meniru kebiasaan tersebut.
Yang menarik di sini manusia ternyata lebih lelah daripada sebelumnya. Mereka menghabiskan sebagian besar energi dan waktunya untuk mengelola gandum. Karena menetap, mereka punya anak banyak, dan anak tersebut dikerahkan untuk membantu mereka bertanam.
Sayangnya manusia kemudian jadi bergantung. Mereka kuatir jika terjadi hama dan cuaca buruk karena panen mereka bakal gagal. Selain itu jika terjadi wabah penyakit, mereka gampang tertular karena di sebuah desa ada banyak warga.
Ehm ini menarik. Belum lagi pertanian mendorong laju domestifikasi hewan dan kemudian ada hubungan dengan religi.
Menurutku pertanian jika terlalu membuat manusia tergantung ke satu dua jenis makanan memang bakal merugikan manusia itu sendiri. Apalagi jika sampai membabat hutan besar-besaran. Tapi aku juga tak tahu apakah memang lebih baik berburu daripada bertanam? Bukankah hewan juga bisa habis jika banyak diburu? Ehm entahlah.
Buku ini menarik. Lumayan tebal. Mungkin nanti lanjut bahas isi buku ini.

Wah, baca Sapiens-nya Harari juga? Kayaknya menarik ya? Aku baru beli Sapiens tapi bukan yang grafis. Belum sempat baca.
Aku baca gratis Sapiens versi gratis di iJakarta. Bagus,tapi belum selesai.