Catatan Nonton Event Musik di Kemayoran dan Ancol

The corrsTahun ini aku rajin nonton konser dan festival musik mancanegara. Mumpung band-band yang kusuka datang ke Indonesia. Ada Hoobastank dan The Red Jumpsuit Apparatus di Everblast, Batuskha dan Slipknot di Hammersonic, Crystal Lake di Soundrenaline, dan konser The Corrs. Selama menonton, aku mencatat hal-hal yang sebaiknya ditingkatkan oleh event organizer alias EO.

Festival Musik Everblast yang diadakan di Jiexpo Kemayoran memiliki tempat yang luas. Ada beberapa panggung yang ukurannya tidak berbeda jauh satu sama lain.

Catatan nonton festival musik di sini gerai makanan dan minumannya kurang banyak. Terbatas saat itu, sehingga lumayan antriannya. Untuk harga minumannya seingatku Rp 15 ribu, masih wajar.

Nah untuk toilet perempuan, jumlahnya terbatas. Hanya ada satu tempat terdiri dari beberapa bilik, sehingga antriannya juga lumayan. Seingatku juga tidak ada tempat khusus untuk mereka yang hendak beribadah sholat.

Saat itu ada kelas VIP yang tarifnya lumayan beda jauh. Sebenarnya kelas VIP ini mirip dengan kelas festival di acara lainnya.

Waktu Hoobastank, suasana di VIP sepi. Tak banyak yang ikut bernyanyi. Ah ternyata banyak penonton yang tak tahu lagu-lagu hitsnya, selain The Reason.

Untuk nunggu ojol, karena lokasinya di Jakarta Pusat relatif tidak susah. Juga banyak yang menawarkan pesan di tempat. Bagi penonton perempuan sih lumayan aman.

HoobastankBerikutnya adalah Hammersonic dan Soundrenaline. Ini EO-nya sama yaitu Ravel. Lokasinya juga sama yaitu di Pantai Carnaval.

Kekurangan Pantai Carnaval sebagai lokasi konser adalah begitu jauh. Bisa sih diakses dengan naik KRL tujuan Jakarta Kota lalu lanjut Ancol, baru kemudian pesan ojol.

Karena hawa yang sangat panas dan terik, disarankan pakai sunblock, topi, dan baju yang nyaman di sini. Karena air minum dilarang bawa, mau tak mau harus beli. Saat di HS harganya Rp15 ribu eh di Soundre jadi Rp20 ribu untuk air minuman. Jika lapar tak perlu masalah, karena ada banyak tenant makanan. Penjual minuman juga banyak.

Sisi plus HS dan Soundre ada toilet portable yang bersih dan lumayan banyak. Juga ada mushola, meski kecil. Lalu ada beberapa booth untuk beraktivitas.

Pantai Carnaval itu luas, sehingga jika lari ke satu panggung ke panggung lain itu lumayan melelahkan. Oh iya karena tak ada tiket festival maka setiap penonton juga berhak untuk nonton di paling depan. Dulu teman-teman ada yang tak mau pindah tempat dari siang hari agar dapat tempat terdepan saat nonton Slipknot. Aku lumayan dapat baris kedua. Oh iya hati-hati dengan arus circle pit, bisa terdorong dan jatuh jika tak siap atau terkena arus mereka.

Batuskha
Di festival musik biasanya ada tiket pre sale dan reguler. Harganya bisa beda sangat jauh. Bisa sampai sejutaan atau malah lebih. Tapi ticket war-nya gila-gilaan.

Juga ada tiket early entry di mana penonton masuk lebih awal. Ini aku kapok membelinya. Karena harus berangkat lebih awal dan di Pantai Carnaval itu panas luar biasa. Kata kawan-kawan seperti simulasi neraka.

Oh iya untuk pulang nonton dari Pantai Carnaval ini relatif susah. Mending ikutan pulang dengan shuttle bus. Ada banyak ojek dengan harga nembak seenaknya. Yang jujur biasanya ada di bagian luar, sehingga harus jalan kaki ke gerbang. Tapi bagi penonton perempuan hal ini kurang disarankan. Selain itu jalanan Jakarta Utara lumayan rawan, jadi jangan main hape saat naik ojol di sana.

Yang terakhir adalah pengalaman nonton The Corrs di Beach City International Stadium. Ini yang terburuk dari segi layanan dan tempat.

Dari segi lokasi tak jauh dari Pantai Carnaval tapi indoor. Nah saat itu panitanya kacau dalam mengelola antrian penonton. Ada banyak minus, dari antrian toilet yang panjang, antrian pemeriksaaan tiket yang ternyata tidak harus bareng dengan pemilik KTP jika tiketnya beli bareng, juga alur menuju tempat konser yang menurutku kurang terarah.

The corrs Layarnya juga kecil sementara panggung juga pendek. Alhasil aku hanya samar-samar bisa melihat aksi Andrea dll. Untunglah sound-nya bagus.

Oh iya beberapa penonton tidak duduk sesuai dengan nomor kursinya.. Kursiku ditempati orang dan ketika aku minta panitia untuk protes, ia tidak bisa apa-apa dan memilihkanku tempat duduk yang kosong lumayan di belakang. Huuuh.

Karena penonton padat dan respon mereka meriah, setiap selesai lagu, rasanya kursi bergoyang-goyang. Kok aku jadi takut tribun penonton ambruk ya.

Nah ketika acara selesai, alur keluar susah. Untung aku keluar sebelum lagu terakhir dimainkan. Aku mulai cemas ketika melihat jalur keluar yang tidak jelas, sementara penonton begitu membludak. Daripada puyeng, aku terpaksa keluar lebih dulu.

Sayang banget padahal penampilan The Corrs luar biasa, tapi layanan dan fasilitas panggung juga kinerja panitia sangat kurang memuaskan. Wah jangan sampai konser BMTH seperti ini mengingat lokasi konser dan panitia penyelenggaranya juga sama.

Gambar penampilan The Corrs dari Agus Tong Cam. Lainnya dokpri

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 23, 2023.

Tinggalkan komentar