Budi Pekerti yang Menyentil Era Medsos Masa Kini

Budi pekertiSalah atau benar itu cuma perkara siapa yang paling banyak ngomong.” – Muklas

Dialog-dialog sepanjang film Budi Pekerti begitu menohok dan relevan dengan kondisi saat ini, era media sosial. Konflik dalam film ini seolah-olah mencerminkan fenomena dalam media sosial di mana segala hal bisa diputarbalikkan dengan video rekayasa yang viral dan sentimen negatif dari para netizen. Tapi tentang apa sih sebenarnya film Budi Pekerti yang meraup banyak nominasi penghargaan Festival Film Indonesia 2023?

Film ini berfokus pada keluarga bu Prapti. Ada bu Prapti (Ini Febrianti) sebagai guru BK, Muklas (Angga Yunanda) sebagai kreator konten dengan nama panggung Animalus, Tita (Prilly Latuconsina) sebagai musisi lokal dan penjual baju bekas, dan Pak Didit (Dwi Sasono) yang mengalami bipolar.

Suatu ketika Prapti memarahi seseorang yang menyerobot antrian kue putu. Seseorang yang ada di lokasi merekamnya, namun video yang diunggahnya tidak utuh, sehingga terkesan Prapti memaki penjual putu yang sudah lansia. Video tersebut viral keesokan harinya dengan cepat. Anak didiknya mengenalinya.

Prapti yang merasa tak bersalah berupaya membuat video klarifikasi. Namun bola salju terus bergulir. Karier Prapti terancam. Video viral ini juga mempengaruhi anak-anaknya.

Apakah cuma karena video 20 detik, 20 tahun pengabdian ibu jadi guru akan hancur?” – Tita

Budi pekerti

Isu yang Menarik dari Fenomena Cancel Culture
Wregas Bhanuteja namanya terangkat lewat film pendeknya yang berjudul Prenjak yang meraih penghargaan di Festival Cannes. Ia kemudian juga menggarap film pendek seperti Lemantun dan Tak Ada yang Gila di Kota Ini.

Debut film panjangnya, Penyalin Cahaya, meraih banyak piala Citra, total meraup 12 kategori penghargaan FFI dari total 17 nominasi dan 16 kategori. Seperti mengulang prestasinya, Budi Pekerti berhasil meraih 17 nominasi dari 16 kategori. Di luar pemeran, hampir seluruh kru inti Budi Pekerti sama dengan Penyalin Cahaya. Rumah produksinya juga sama yaitu Rekata Studio dan Kaninga Pictures. Ada nama Adi Ekatama juga di jajaran nama produser.

Tema Budi Pekerti sebenarnya mirip dengan Penyalin Cahaya, sama-sama membahas kejinya media sosial. Hanya Budi Pekerti lebih ringan dan terasa lebih membumi karena kejadian ini bisa menimpa siapa saja. Film lainnya yang juga mengupas dampak negatif media sosial adalah Like & Share dan Dear David.

Budi pekerti
Dari segi cerita, Wregas jeli mengangkat fenomena cancel culture yang bisa berbahaya bagi kehidupan seseorang dan mereka yang terkait dengannya. Dengan video viral yang tidak utuh, plus narasi yang menggiring opini publik negatif maka karier seseorang jadi taruhan. Belum lagi komentar negatif netizen yang bisa membuat trauma dan depresi mereka yang jadi sasaran. Gara-gara satu kesalahan kecil kemudian kehidupan pribadi seseorang dikulik-dikulik dan kemudian dibumbuhi narasi di sana sini sehingga sosok tersebut menjadi seperti sosok kriminal dan diberi sanksi sosial.

Selain ceritanya yang membumi, aku suka dengan gambaran keluarga Prapto yang biasa-biasa saja dan tidak sempurna. Memiliki suami bipolar jelas tidak mudah. Apalagi kemudian ada masalah lainnya berkaitan dengan kondisi keuangan mereka.

Budi pekerti
Akting para pemainnya jempolan dan jalan ceritanya unik. Semua divisi juga apik, terutama penata kamera dan artistik. Ide lomba lompat tali itu unik dan jarang ada.

Palet warna dengan dominan kuning dan biru cerah digunakan dalam film ini. Wregas konsisten menggunakannya dan ini jenius karena membuat penonton terbayang akan film ini dengan mengingat warnanya. 

Aku jadi ingat ketika Wregas jadi juri dan kemudian mentor MovieLab para peraih Jakarta Film Fund. Ia menyarankan kami untuk memberi warna khas dalam film yang muncul di berbagai adegan. Karena ceritanya berlatar Betawi maka warna khas bisa berupa warna merah, kuning, dan hijau.

Oh iya cerita film ini berlatar di Yogya. Alhasil filmnya bertabur dialog berbahasa Jawa dan ada beberapa kuliner khas pinggir jalan di Yogya seperti kopi arang. 

Memang ada kekurangan dalam film ini. Aku melihat ada adegan menggunakan kamera depan yang berlatar tahun 2013. Gambarnya terlalu jernih dan bagus untuk ukuran teknologi kamera depan masa itu.

Penutup film ini bagus. Membuatku teringat dengan drama Jepang dan Iran yang apa adanya.

Di luar kekurangan itu, film Budi Pekerti adalah film yang mampu memotret kondisi dan isu masa kini. Ceritanya relevan dan sarat akan pesan penting bagi generasi muda saat ini. 

Detail Film:
Judul Film: Budi Pekerti
Sutradara : Wregas Bhanuteja
Pemain : Sha Ine Febrianti, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina, Dwi Sasono
Genre : Drama
Skor : 8/10
Gambar: Rekata Studio

~ oleh dewipuspasari pada November 8, 2023.

Tinggalkan komentar