Aku Mencari Tepuk Tangan Itu

Tepuk tanganKetika masih duduk di bangku SMA, aku aktif di ekskul teater. Kami berlatih seminggu sekali. Namun jika hendak pentas, kami intens berlatih setiap hari sepulang sekolah hingga kadang-kadang sampai malam hari. Waktu itu rasanya menyenangkan berlatih teater setelah tiap hari mengerjakan tugas ini dan tugas itu.

Suatu ketika kami membahas tentang makna dari pencapaian. Apa yang membuat kami merasa dihargai karena mencapai sesuatu? Seperti ketika kita mendapatkan juara kelas setelah belajar begitu keras atau mendapatkan sorakan bergemuruh ketika kita berhasil memenangkan pertandingan.

Dulu aku merasa senang dan lega jika ibu tersenyum setelah mengambil rapor dan seseorang yang kukagumi memberikan ucapan selamat kepadaku. Itu hal yang sungguh menyenangkan seolah-olah kerja kerasku terbayar.

Lantas bagaimana dengan pementasan? Apakah sebagai pemain kita akan merasa senang jika penontonnya banyak? Ya, tentu , saja. Karena kita sudah bekerja keras, kita ingin menunjukkan kepada khalayak tentang performa kami sebagai individu dan tim.

Namun pementasan malam memang seringkali kita kurang beruntung apabila dibandingkan saat pementasan siang hari atau saat penyambutan siswa-siswi baru. Biasanya hanya mereka yang memang menyukai pentas teater yang menontonnya.

Ya, jumlah penonton tak bisa kami ekspektasi. Ditonton oleh 10-20 orang yang benar-benar menyukai teater rasanya tak masalah. Syukur-syukur jika lebih.

Karena kami tak banyak berharap dengan jumlah penonton, maka hal yang kami inginkan adalah tepuk tangan. Ketika penampilan kami bagus dan tepuk tangan bergemuruh, rasanya kerja keras kami terbayar.

Memang kesannya keinginan mendapatkan tepuk tangan itu tidak wow, tapi itulah yang membuat kami begitu senang dan mendapatkan apresiasi. Semakin bagus penampilan kami bukankan tepuk tangan akan semakin bergemuruh?!

Awalnya kupikir kata-kata mentorku tentang pencarian tepuk tangan itu agak dangkal. Tapi, setelah aku mengikuti beberapa pementasan, sesuatu yang kuanggap dangkal itu yang kuinginkan. Ini sesuatu keinginan yang wajar dan sederhana karena setiap pementasan, kami kerjakan sungguh-sungguh, dari musik, properti, kostum, akting, dan tata lampu. Kami juga tidak dibayar, bahkan malah sering patungan untuk biaya konsumsi dan biaya properti.

Suatu ketika kami menggarap pentas horor mistis tentang seorang dukun yang hendak membangkitkan mayat istrinya di hari keramat. Aku membeli kemenyan sebagai properti. Kami kemudian membakarnya di tengah adegan. Kami juga menyiapkan gimmick yakni kawan kami menyamar sebagai penonton dan kesurupan.

Rupanya gimmick kami berhasil. Beberapa penonton langsung ketakutan dan atmosfer horor menjadi meningkat. Setelah pertunjukkan selesai, penonton masih diam seperti terhipnotis. Baru ketika musik berhenti dan warna lampu kembali normal, tepuk tangan meriah terdengar. Aku yang saat itu hanya mengurus properti, perlengkapan, dan konsumsi ikut merasa senang dan bangga.

Ketika lulus dan tak lagi bermain teater, ada kalanya aku menggunakan ilmu teater untuk melakukan presentasi tugas kuliah maupun berkaitan dengan pekerjaan. Rupanya ada kalanya aku kangen dengan keinginan sederhana itu. Aku kangen mendengar tepuk tangan itu. 

Karena aku paham tepuk tangan dinanti oleh pekerja panggung, maka aku tak pelit memberikan tepuk tangan ketika menyaksikan pementasan atau ketika seseorang telah melakukan presentasi. Mereka telah bekerja keras, mari kita apresiasi keringat dan performa mereka. 

Gambar dari pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 1, 2024.

Tinggalkan komentar