Kubalaskan Dendamku Lewat Film, Catatan dari “Ipar Adalah Maut” dan “Layangan Putus the Movie”
“I will destroy you in the most beautiful way possible. And when I leave you will finally understand, why storms are named after people.” – Caitlyn Siehl
Media sosial menjadi salah satu media untuk melakukan balas dendam secara elegan dan adakalanya brutal. Cerita-cerita perselingkuhan dan tragedi membuat darah para netizen mudah mendidih. Tanpa dikomando, mereka pun melakukan perundungan dan melakukan cancel culture ke para pelaku dengan kemampuan investigasi mereka. Memang tak sedikit curahan hati yang disampaikan lewat media sosial menjadi viral, misalnya cerita perselingkuhan yang diberikan judul Layangan Putus dan Ipar Adalah Maut. Korban pun setidaknya bisa sedikit lega mencurahkan hatinya dan melihat para netizen memburu para pelakunya. Dendam mereka juga sedikit terbayar dengan ketertarikan pembuat film melayarlebarkan tragedi yang mereka alami tersebut.
Balas dendam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “perbuatan membalas perbuatan orang lain karena sakit hati atau dengki”. Sementara balas dendam menurut kamus Oxford adalah tindakan menyakiti atau mencelakai seseorang atas cedera atau kesalahan yang dideritanya.
Ada beberapa teori dan pandangan mengenai balas dendam. Sebagian besar beranggapan balas dendam adalah buruk. Namun ada pula yang menganggap aksi balas dendam itu sesuatu yang wajar sebagai seorang manusia. Balas dendam menurut Francis Bacon adalah semacam keadilan liar. Aksi balas dendam ini menurut Bacon dalam esainya yang berjudul Of Revenge, merupakan sebuah keinginan alami yang sebenarnya dapat dipahami dan juga dikendalikan, namun sayangnya tidak dapat dipadamkan.
Sementara itu, menurut Michele Gelfand, balas dendam adalah fenomena yang universal. Aksi balas dendam ini tidak direkomendasikan namun ia paham alasan seseorang atau sekelompok orang melakukan aksi tersebut terutama mereka yang hidup di negara yang supremasi hukumnya lemah dan hanya memberikan perlindungan yang minim ke warganya
Pro dan kontra antara balas dendam ini juga bisa dilihat dalam film, baik dalam negeri maupun mancanegara. Film-film yang bertemakan balas dendam begitu banyak, seperti Gone Girl, John Wick, Carrie, Kill Bill, Berbalas Kejam, dan Mencuri Raden Saleh.
Balas Dendam yang Manis dan Abadi Lewat Film
Ada fenomena yang menarik di kancah perfilman nasional belakangan ini, yakni mulai diliriknya cerita-cerita viral di media sosial oleh para produsen film. Film-film yang diangkat dari media sosial memang berpotensi mereguk banyak keuntungan karena tak sedikit masyarakat yang mengikuti kisah viral tersebut. Dan, film ini juga mengundang rasa penasaran dari masyarakat umum yang mendengar ulasan filmnya secara mulut dari mulut.
Awalnya cerita-cerita viral yang diangkat berkutat pada cerita horor yang kebenaran ceritanya masih misterius, seperti yang tersaji dalam KKN di Desa Penari, Di Ambang Kematian, dan Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu. Namun belakangan kisah viral yang diangkat juga merupakan tragedi yang merupakan peristiwa nyata, seperti Vina: Sebelum 7 Hari, Layangan Putus The Movie, Ipar Adalah Maut, serta menyusul Laura dan Norma: Antara Mertua dan Menantu.
Film-film viral yang sudah tayang tersebut sukses mengumpulkan banyak penonton dengan Vina: Sebelum 7 Hari berhasil mengumpulkan sekitar 5,8 juta penonton. Demikian juga dengan Layangan Putus the Movie dan Ipar Adalah Maut yang masing-masing berhasil mengumpulkan sekitar 1 juta dan 4,7 juta penonton
Lantas seperti apakah Layangan Putus the Movie dan Ipar Adalah Maut?
Layangan Putus the Movie dan Ipar Adalah Maut adalah karya yang diangkat dari tragedi nyata yang viral lewat media sosial. Layangan Putus the Movie dirilis 14 Desember 2023, merupakan kelanjutan dari webseries Layangan Putus yang juga sukses. Sementara Ipar Adalah Maut merupakan cerita viral yang tayang mulai 13 Juni 2024.
Kedua film ini bisa dikatakan sukses baik secara komersial namun pencapaian sinematiknya agak berlainan. Ipar Adalah Maut memiliki skor yang lebih tinggi dari para penonton, yakni 7.5 dari 426 pengulas, dibandingkan Layangan Putus The Movie yang hanya mengumpulkan skor 6.2 dari 127 penonton di website IMDb.
Penentuan skor dan kepuasan penonton terhadap suatu film sendiri memang memiliki unsur subyektivitas. Namun secara obyektivitas, kepuasan menonton bisa diambil dari dua unsur pembentuknya, yakni unsur naratif dan sinematik, menurut Himawan Pratista, dalam buku Memahami Film.
Berdasarkan unsur naratif, kedua film tersebut sama-sama memiliki cerita yang menarik dan berhasil memainkan emosi para penonton. Layangan Putus the Movie diangkat dari kisah perselingkuhan yang dialami Eca Prasetya alias Mommy ASF yang disampaikannya lewat akun facebook-nya pada tahun 2019. Sedangkan Ipar Adalah Maut viral lewat platform instagram dan TikTok pada tahun 2023 lewat akun Eliza Sifaa.
Kedua cerita viral tersebut sama-sama mengangkat kisah perselingkuhan yang dilakukan oleh suami yang dari permukaan nampak sebagai suami yang alim dan penyayang. Yang membuat pembaca kemudian tertarik mengikuti filmnya dikarenakan orang ketiga tersebut memiliki watak yang licik dan orang yang dikenal oleh korban.
Kedua film tersebut sama-sama diangkat dari kisah viral, dengan menggunakan nama samaran dan cerita yang telah digubah dan didramatisir. Layangan Putus bercerita tentang Aris yang berselingkuh dengan Lidya, sementara ia nampak seperti suami yang setia bagi Kinan. Sedangkan Ipar Adalah Maut menceritakan Aris yang menyelingkuhi Nisa, istrinya. Pihak ketiganya mengejutkan karena ia adalah adik Nisa yang bernama Rani.
Cerita Ipar Adalah Maut lebih konsisten dan lebih setia dengan cerita aslinya. Namun kisah dalam Layangan Putus the Movie agak berbeda dengan kisah aslinya, apalagi rupanya versi filmnya adalah kelanjutan dari webseries-nya, yaitu pasca perceraian Kinan dan Aris, sehingga mereka yang tidak mengikuti cerita viral ini mungkin tidak begitu tertarik dengan filmnya.
Dari unsur sinematik, Himawan Pratista menyebutkan ada empat komponen utama, yaitu mise-en-scene, sinematografi, editing, dan suara. Komponen mise-en-scene ada banyak, di antaranya setting, kostum dan tata rias karakter, pencahayaan, serta pemain dan pergerakannya.
Kedua film dari cerita viral ini sama-sama mengangkat pemain yang populer. Siapa yang tak mengenal Reza Rahadian, demikian juga Michelle Ziudith yang kerap berperan di film drama romantis. Namun keputusan MD Pictures mengganti Putri Marino yang memerankan sosok Kinan di versi webseries dengan Raihanuun sepertinya salah. Keduanya memang sama-sama aktris watak yang hebat. Namun keduanya memberikan sosok Kinan yang berbeda, sehingga penonton mungkin merasakan hal yang sama seperti yang saya rasai, yakni Kinan seperti karakter baru di sini, kurang menyatu dengan pemeran dan ceritanya.
Dari komponen mise-en-scene, film Layangan Putus the Movie yang dibesut Benni Setiawan terasa standar. Biasa saja. Emosi yang dihadirkan terasa kurang, termasuk absennya dialog dan ekspresi Kinan yang ikonik.
Penilaian ini berbeda dengan Ipar Adalah Maut yang disutradarai Hanung Bramantyo. Meskipun dari segi setting, kostum, dan tata riasnya biasa saja, namun akting dan interaksi pemainnya terasa lebih natural dan mengalir. Hanung jeli memainkan emosi penonton dengan menampilkan ‘kebejatan’ sosok Rani dan Aris lewat tatapan dan bahasa tubuh. Karakter yang diperankan oleh Asri Welas dan Devina Aureel juga berhasil mencairkan ketegangan, meskipun sosok Junaedi yang diperankan Susilo Nugroho agak komikal.
Dari unsur sinematik lainnya, Ipar Adalah Maut juga lebih unggul, terutama dari sisi sinematografi. Hanung cerdik dalam mengolah adegan-adegan perselingkuhan sehingga tidak dirasa vulgar oleh penonton. Ia memainkan cermin dan bermain-main dengan pergerakan kamera sehingga menghasilkan gambar-gambar yang dinamis dan terasa sinematik. Sementara Layangan Putus the Movie tidak buruk namun juga tidak istimewa.
Kesimpulan:
Dendam memang sesuatu yang baik dan bisa merusak diri sendiri sehingga ada ungkapan terkenal bahwa mereka yang melakukan aksi balas dendam juga menyiapkan kubur bagi dirinya sendiri. Namun balas dendam bagi sebagian kalangan juga dianggap manusiawi asal tindakan ini juga masih terkontrol. Nah, salah satu cara pembalasan dendam yang manis dan elegan yaitu lewat film, dimulai dari kisah viral di medsos.
Si korban bisa merasa lega karena bisa melupakan kemarahannya. Ia juga mendapat reward dan bonus yang besar ketika ceritanya dibeli dan filmnya laris manis. Penonton sendiri juga diuntungkan dapat melihat film yang bisa membuat emosinya bergejolak. Penonton umum yang tak mengikuti kisah viralnya juga tak merasa rugi apalagi filmnya diolah dengan baik sehingga mereka juga memiliki pengalaman sinematik.
Gambar dari MD Pictures
