Gedung Kosong Jakarta dan Mereka yang Sukses Membalik Keadaan

Semenjak pandemi dan kebiasaan masyarakat yang berubah, tak sedikit bangunan kosong di Jakarta, baik yang awalnya berubah perkantoran maupun pusat perbelanjaan. Sebenarnya akan sangat disayangkan jika bangunan tersebut dibiarkan mangkrak, apalagi biaya pemeliharaan juga tak murah. Lantas bagaimana jika gedung tersebut dialihfungsikan seperti PosBloc Jakarta?

Jakarta memiliki banyak gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan. Ada lebih dari 3.200 bangunan tinggi di Jakarta yang sebagian besar difungsikan sebagai perkantoran. Sedangkan jumlah pusat perbelanjaan ada sekitar 86 bangunan yang tersebar di berbagai kawasan.

Tak semua bangunan tersebut berfungsi secara optimal. Ada yang pusat perbelanjaannya begitu sepi oleh pembeli, sehingga nampak mati suri, begitu juga dengan gedung perkantoran yang mangkrak sehingga disebut berhantu.

Berdasarkan data dari CNBC (26/6/24), sebelum pandemi tingkat okupansi gedung di Jakarta mencapai 83-84 persen. Namun karena ada kebijakan WFH selama pandemi di berbagai perkantoran, angka tersebut terjun bebas. Saat ini memang jam bekerja di kantor kembali diterapkan seperti semula, namun tak sedikit perusahaan yang menerapkan metode bekerja yang lebih fleksibel, seperti bekerja dari mana saja (WFA), atau bekerja di kantor hanya beberapa hari dalam seminggu.

Angka keterisian gedung pun mulai naik di kisaran 75 persen. Namun bagaimana dengan 25 persen sisanya atau sekitar 11,13 juta meter persegi (berdasarkan data IDX) ?

Bangunan kosong yang terkenal di Jakarta adalah Menara Saidah. Konon gedung ini sengaja dibiarkan kosong karena mulai miring dan tidak aman. Namun tak sedikit rumor menyebutkan bila gedung ini berhantu dan menjadi tempat uji nyali.

Bangunan lainnya juga tak sedikit yang bernasib sama meski tak ada rumor horor. Demikian juga dengan pusat perbelanjaan seperti Plaza Semanggi, Ratu Plaza, Mal Grand Paragon, MKG Kemayoran, Mal Blok M, Pasaraya, dan STC Senayan. Pusat perbelanjaan seperti ITC yang dulu ramai sekarang juga mulai sepi.

Memang salah satu pemicu bangunan tersebut sepi adalah kebiasaan masyarakat yang mulai berubah. Sebagian lebih suka bekerja dari rumah dan kafe, juga makin banyak yang lebih suka berbelanja secara daring.

Namun mungkin juga ada pertanyaan, mengapa pusat perbelanjaan dan tempat perkantoran lainnnya tetap ramai? Bahkan ada beberapa pusat perbelanjaan yang seolah-olah bangkit dari kubur.

PosBloc

PosBloc dulunya gedung Filateli milik kantor pos Pasar Baru


Mereka yang Bangkit dari Kubur
Rasanya menyedihkan ketika berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan yang dulu menjadi tempat kita hangout bersama, kemudian kenangan tersebut mengabur karena tempat tersebut kini tinggal kenangan. Hal itu kurasai ketika sempat berkunjung ke Plaza Semanggi ketika mengurus perpanjangan paspor.

Mal tersebut seperti kota mati. Sepi, tak ada aktivitas, hanya di bagian bioskop yang masih eksis. Rasanya menyedihkan karena dulu aku dan kawan-kawan sering berkumpul di sana, menonton midnight show pada Jumat malam dan bersantap di sana. Ah semuanya tinggal kenangan. Demikian juga ketika aku mengunjungi Mal Blok M. Sepi sekali. Padahal aku dan kakak dulu suka sekali belanja baju di sini.

Ya, Plaza Semanggi dan Mal Blok M masih tidur panjang. Plaza Semanggi sedang direnovasi, sedangkan masa depan Mal Blok M belum jelas. Plaza Semanggi bisa jadi kembali hidup karena lokasinya sebenarnya strategis di pusat kota, berdekatan dengan kampus, dan ada jaringan transportasi. Demikian juga dengan Mal Blok M.

Mal Blok M

Mal Blok M punya potensi sebagai bangunan yang unik karena di bawah tanah (sumber gambar: Mal Blok M)


Kawasan Blok M sudah mulai kembali hidup dengan adanya jaringan MRT juga taman literasi yang mulai rame. Plaza Blok M yang dulu sepi kini ramai sekali saat akhir pekan. Kemudian juga ada MBloc yang juga menjadi jujugan baru karena sering diadakan event seru di sana. MBloc dulunya adalah bangunan Peruri yang juga mangkrak.

Pasaraya sendiri mulai dibenahi. Dulu mal ini juga sepi, kini mulai diubah menjadi perkantoran dan kawasan coworking space. Tenant makanan juga mulai bermunculan dengan konsep open space yang lebih banyak.

Mal Blok M punya potensi. Tinggal konsepnya diubah karena mal di bawah tanah itu sebenarnya unik. Bagaimana jika Mal Blok M dijadikan pusat hiburan dan atraksi, seperti tempat pertemuan komunitas unik, seperti komunitas cosplay yang juga menjual aneka kebutuhan cosplay. Atau bagaimana jika disewakan menjadi tempat setting sebuah film. Mal Blok M juga bisa dijadikan tempat konser, tempat pertunjukan teater, atau taman kota dalam gedung yang unik.

Ya ada banyak cerita bangunan yang mangkrak. Namun juga tak sedikit cerita menarik tentang bangunan dan kawasan yang direvitalisasi dan kemudian menjadi ramai. Taman dan lapangan misalnya. Sejak olah raga makin menjadi gaya hidup, taman, hutan kota, dan tempat yang bisa digunakan untuk beraktivitas berolah raga juga makin rame. Ini bisa diamati di tempat seperti Eco Park Tebet, Lapangan Banteng, dan Taman Margasatwa Ragunan.

Lapangan Banteng

Lapangan Banteng kini ramai oleh pengunjung yang ingin berolah raga dan berwisata

Tempat cagar budaya yang kemudian dialihfungsikan jadi tempat pertemuan juga tak kalah sukses. Sebut saja Toko Merah dan PosBloc. Dulunya Toko Merah dan PosBloc adalah bangunan Belanda yang masing-masing dibangun tahun 1730 dan 1746.

Toko Merah dulunya kediaman para Gubernur Jenderal Belanda. Kemudian sempat menjadi akademi angkatan laut, perkantoran, toko milik Oey Liauw Kong, hingga kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya. Kini Toko Merah menjadi tempat pertemuan dan juga sebuah kafe yang estetik.

Hal yang sama juga dialami PosBloc yang dulunya kantor pos Belanda. Bangunan ini sempat direnovasi tahun 1913 dengan gaya Art Deco. Lalu sempat menjadi Kantor Pos Pasar Baru dan juga dikenal sebagai Gedung Filateli. Karena kebiasaan masyarakat berkirim surat dan mengirim telegram makin punah, maka kantor pos pun makin sepi.

Perubahan kemudian dilakukan dengan mengubah Kantor Pos Pasar Baru menjadi pusat kegiatan anak muda. Ada berbagai tenant makanan dan minuman populer yang ditata estetik dengan tetap mempertahankan gaya klasik dari bangunan ini. Konsepnya ada yang open space.

Hampir setiap pekan ada acara di sini baik yang sifatnya hiburan atau yang menambah wawasan. Ada juga Toko Buku Patjar Merah di sini. Tak heran jika kawasan PosBloc ini pun kemudian rame. Apalagi lokasinya ramah transportasi umum.

Konsep klasik posBloc dipertahankan

Bus surat tetap dipertahankan sebagai kawasan cagar budaya dan ciri khas kantor pos

Mengapa bangunan dan tempat tersebut menjadi rame dan seperti bangkit dari kubur? Ya ada banyak faktornya. Di antaranya ada sarana transportasi oke, konsep yang unik dan menarik, pemasaran dan promosi yang oke, juga kegiatan yang juga seru.

Unsur kolaborasi juga berperan di mana konseptor berhasil mengajak beberapa pihak seperti tenant makanan, influencer, dan mereka yang memiliki ide brilian untuk event ikut berperan di sini.

Gedung kosong akan sayang jika dibiarkan mangkrak. Biaya pemeliharaan juga tinggi. Agar bantuannya tetap produktif bagaimana jika diberdayakan sebagai rumah susun atau apartemen terjangkau. Atau bisa diubah menjadi coworking space atau tempat berkumpul komunitas dengan harga sewa yang terjangkau. Jadi lokasi syuting juga bisa karena sayang jika kosong dan kemudian rusak.

Gedung kosong yang punya rumor berhantu bagaimana jika dijadikan tempat pengajian atau taman dalam gedung? Ada banyak acara pengajian yang rame sesak. Bagaimana jika sekali-kali diadakan di sana? Hehehe jangan ditimpuk ya, itu hanya ide.

~ oleh dewipuspasari pada September 4, 2024.

Tinggalkan komentar