Hujan, Bahas Dinamika Industri Perfilman Nasional Yuk
Sejak tadi pagi ada pembahasan menarik di WAG komunitas film. Dari topik tentang merchandise sebuah festival film yang dirasa makin berat persyaratan penukaran hingga melebar ke industri perfilman nasional. Ada yang pesimis dan apatis dengan peran pemerintah agar industri perfilman bisa seperti di Korea. Aku sendiri menilai masih ada harapan.
Sejak industri perfilman mulai bangkit, terutama tahun 2010 ke atas aku suka memerhatikan industri film nasional apalagi dulu sempat jadi kontributor artikel khusus film nasional. Belakangan ini menurutku industri film nasional mulai menunjukkan perkembangan, walaupun memang masih tertatih-tatih. PR-nya tentu juga masih banyak.
Indikasi menunjukkan perkembangan yang positif itu ada beberapa. Yang pertama, jumlah penonton Indonesia di bioskop relatif meningkat. Makin banyak film Indonesia yang tayang bioskop yang mendapat 1 juta penonton. Meski ya perolehan jumlah penonton belum merata. Ada film yang apes, cuma dapat 1.000 atau malah kurang. Angka penonton ini juga terpengaruh dari kuota layar. Ada film yang hanya dapat layar sedikit, ada juga yang melimpah ruah. Belum adil ya.
Menariknya, jumlah penonton film mancanegara belakangan malah menurun. Ini fenomena yang unik. Film superhero pun tidak jadi jaminan filmnya selaris dulu. Ada banyak faktor penyebabnya. Salah satunya karena ada yang beranggapan film manca itu cepat banget masuk platform streaming.
Indikasi perkembangan berikutnya dari bermunculannya ruang tonton alternatif selain bioskop. Ruang tonton alternatif ini ada di kampus, di museum, di perpustakaan, lembaga kursus bahasa asing, kedutaan, dan sebagainya. Tak sedikit yang gratis.
Indikasi berikutnya yakni gairah membuat film pendek yang makin meningkat. Pembuatnya juga dari berbagai daerah, tidak hanya dari Jakarta.
Selanjutnya, jumlah yang ikut pitching pendanaan film juga makin banyak. Meski rasio antara yang mendapat pendanaan dan yang ikut pitching juga masih belum ideal. Yang lolos pitching hanya sedikit di antara ratusan hingga ribuan pendaftar.
Indikasi berikutnya yaitu makin banyaknya festival film di daerah-daerah baik yang diadakan kampus, institusi, maupun yang sifatnya independen. Ini sesuatu yang menarik dan baru muncul empat tahunan terakhir.
Selanjutnya jumlah komunitas film juga masih banyak. Anggotanya beragam, termasuk pemerhati film, yang suka nonton film, dan yang suka memberikan komentar atau diskusi soal film.
Indikasi berikutnya, festival-festival film masih banyak peminat termasuk yang berbayar. Meski ya tak sedikit hari-hari penonton sepi, terutama pada saat hari kerja atau ketika filmnya kurang populer. Kadang hanya 1-2 yang nonton.
Kesimpulannya memang kondisinya industri perfilman nasional masih belum ideal, tapi setidaknya masih ada harapan. Meski ya datangnya kebanyakan secara mandiri dari masyarakat dan pembuat film. Kontribusi pemerintah masih sedikit, jauh dari ideal.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai warga semesta perfilman? Menurutku ketika teman-teman sudah ikut nonton, nulis, gabung komunitas film maka sudah ikut berkontribusi di ekosistem perfilman nasional
Aku sendiri senang melihat Teman-teman yang begitu antusias ikut war ticket festival film, diskusi tentang film, apalagi jika menuliskannya/menyampaikannya ke publik lewat tulisan/konten medsos karena memang opini masyarakat dan kritik film itu perlu agar industri film terus berbenah.
Setiap penonton menurutku berhak berkomentar dan menilai film sesuai pengetahuan dan kemampuannya. Memang penilaiannya akan berbeda dengan kritikus film yang paham akan teknis dan seluk-beluk film. Tapi tidak apa-apa karena setiap opini penonton baik yang merupakan penonton awam ataupun pengamat film itu sama-sama bernilai.
Wah ternyata diskusi tadi menghasilkan tulisan yang lumayan panjang. Tadi masih banyak sih hal-hal yang masih jadi PR dan menarik untuk dibahas lebih dalam.
