Rivalitas Kucing Putih
Ketika hendak tidur, Samsudin memilih tidur di dalam kamar. Di dalam rumah lebih aman. Ada banyak ancaman di luar saat hari gelap. Cindil tak mau kalah, ia menyelinap masuk.
Cindil kemudian mengejar Sam dan menaboknya. Aku segera melerainya. Kasihan Sam, ia ketakutan dan kemudian bersembunyi dengan naik ke atas kursi.
Sudah lama keduanya saling bersaing. Sebenarnya keduanya mirip. Sama-sama memiliki bulu dominan putih. Corak krem dan hitamnya juga sama, mereka sebenarnya mirip kakak beradik. Hanya Cindil merasa Sam adalah kucing luar, ia yang besar di rumah ini.
Aku menyayangi keduanya. Keduanya pun kulerai. Sam di atas kursi dan Cindil di lantai. Sama-sama dalam kamar kan?!
Tapi kemudian Sam melompat dan ingin tidur di sebelahku. Cindil pun melotot dan menatap iri. Tak lama keduanya sama-sama pulas. Aku yang malah masih terjaga dan sulit memejamkan mata.
