Bujet Makanan Kucing Naik
Sejak kucingku bertambah dari enam menjadi sembilan dan kini 13 kucing, aku mulai merasa sesak nafas. Selain harus makin rajin mengepel, menyisir bulu kucing, dan mengganti bak pasir, aku harus makin berhemat. Anggaran untuk makan, pasir kucing, vitamin, dan obat pun bertambah.
Kini aku jadi rajin mencari tempat belanja makanan kucing yang hemat. Kubandingkan beberapa toko, biaya ongkir, dan varian makanannya. Beda seratus dua ratus rupiah itu sungguh sangat berarti karena aku membeli puluhan kaleng setiap bulannya.
Ya, untuk mengurangi bujet makanan kaleng, aku pun jadi rajin memasak. Kusiapkan nasi dan ikan, sehingga mereka bisa cepat kenyang. Makanan kering juga siap sedia.
Aku pun jadi makin repot. Mengepel kini hampir setiap hari. Menyapu rumah bisa beberapa kali. Rumah rasanya tak pernah benar-benar rapi.
Aku harus makin berhemat untuk diriku, sambil mencari peluang baru untuk menambah pundi. Semuanya demi kucingku. Ternyata aku secinta itu kepada mereka.
Ah ketika melihat wajah-wajah mereka yang menggemaskan dengan mata dan badan yang sehat, aku jadi ikut senang. Mereka kawanku, aku jadi tak kesepian, uhm malah keramaian hahaha.
