Hujan, Naik Angkot, dan Asap Rokok

Bubur ayamSudah dua hari ini hujan begitu awet turunnya. Tidak begitu deras, tapi hujannya tak berhenti-henti, menciptakan suasana yang syahdu. Hari ini usai nonton animasi di bioskop aku beranjak pulang, hujan masih tak gentar untuk turun.

Daripada basah naik gojek, akhirnya aku memilih naik angkot. Mumpung ada angkot yang berhenti. Harus dua kali naik angkot ke rumah.

Berhubung angkot kedua biasanya sudah jarang, maka aku berencana turun di tempat terang yang tak jauh dari biasa aku menunggu angkot kedua. Kayaknya kalau nggak warung makan ya semacam toko kelontong deh.

Sayangnya aku bernasib kurang beruntung. Sekitar lima menit kemudian sopir mulai merokok. Aduh. Meskipun aku sudah pakai masker, asap masih masuk. Hueek.

Teman di sebelahnya juga ikutan rokok. Asap mengepul di bangku sopir. Aku mulai mual dan sesak.

Duh aku harus segera turun tapi di mana?

Aku mencari-cari tempat yang aman untuk turun. Sementara jalanan mulai macet, membuatku makin tersiksa. Polusi asap kendaraan dan asap rokok dari bangku sopir dan sopir kendaraan lainnya.

Inilah yang kubenci dari naik angkot. Para sopir masih suka seenaknya. Nyetir begajulan dan merokok sembarangan.

Aku suka pernah beberapa kali diturunkan dari angkot gara-gara protes mereka merokok. Kayaknya kali ini aku juga bakal diturunkan. Daripada diturunkan di tempat random, mending aku turun sendiri.

Ketika melihat ada warung tenda bubur ayam dan bubur kacang ijo Madura, aku langsung turun. Penjualnya adalah seorang ibu bersama anak perempuannya. Aku langsung memesan bubur ayam untuk dimakan di tempat. Aku lapar.

Aku lalu mencoba memesan ojol. Percobaan pertama ditolak.. Waduh. Yang kedua, juga.

Yang ketiga dapat begitu jauh, sudah mau sampai rumah. Dan nggak ada respon. Berikutnya, juga.

Aku hampir putus asa. Apalagi ketika percobaan kelima dapatnya 16 menit dari lokasi tunggu.

Ketika coba ku-chat apakah diambil, rupanya ia mengiyakan dan memintaku menunggu. Syukurlah, Alhamdulillah.

Aku pun memesan bubur kacang ijo campur ketan hitam. Aku sudah menunggu lumayan lama di warung bubur tersebut.

Sampai di rumah, kucing-kucing menyambut kelaparan. Si Mungil Clara mengamuk ketika aku pulang tanpa membawa buah tangan. Akhirnya aku pesan ikan segar.

Aku tak bisa langsung istirahat. Setelah memberi makanan basah ke 13++ ekor kucing, aku pun memanggang ikan.

Begitulah hari Jum’at malamku berakhir.

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 24, 2025.

Tinggalkan komentar