“The Impossible Dream” (1983), Animasi tentang Peran Perempuan yang Masih Relevan

The impossible dream

Seorang istri terbangun seiring bunyi weker yang berdering. Bersamaan dengan itu sang bayi juga menangis. Sementara si suami masih bersantai. Sang istri kemudian bergegas membangunkan anak-anaknya dan memasak untuk sarapan. Ketika sang bayi mengompol, lagi-lagi ia yang harus bertindak. Cerita tentang budaya patriarkis yang juga banyak di mana-mana ini dikisahkan dalam animasi lawas berjudul The Impossible Dream (O Sonho Impossivel).

Kegiatan sang istri terus berlanjut. Ia menitipkan bayinya sebelum berangkat bekerja, kemudian bergegas belanja, memasak, dan melakukan kegiatan domestik yang seperti tak ada akhirnya. Hanya anak perempuannya yang membantu. Sementara suami dan anak laki-lakinya hanya ongkang-ongkang kaki. Bahkan, mengasuh bayi saja enggan.

Hingga pada saat tertidur, sang istri bermimpi. Mimpinya berkebalikan dengan dunia nyatanya. Dalam mimpinya, suami dan anak laki-lakinya juga membantunya mengurus rumah. Ia juga merasa dihargai dan dicintai. Namun, apakah mimpi itu bisa terjadi suatu hari?

Realita yang Masih Relevan Hingga Sekarang
Isi pesan dan kritik sosial yang diusung oleh animasi yang naskahnya ditulis oleh Tina Jorgenson dan disutradarai oleh Dagmar Doubkova ini masih relevan hingga sekarang. Meski usia animasi ini telah lebih dari 40 tahun, nyatanya situasi tidak adil yang dialami oleh sang istri juga sering kita jumpai di negeri ini dengan dalih pengabdian terhadap suami dan keluarga.

Rasanya memilukan dan ikut merasa lelah melihat aktivitas bejibun yang dilakukan sang istri. Apalagi ia juga ikut mencari nafkah. Bukankah sebenarnya keluarga dan urusan domestik adalah tanggung jawab suami istri bukan hanya dipikul sang istri?!

Memang sudah muncul perlawanan dari pihak perempuan. Para pria yang terdidik juga bersedia membantu istrinya.

Bahkan juga muncul kalangan househusband yaitu suami rumah tangga, yakni suami yang mengurus rumah tangga. Hal ini dikarenakan pekerjaan mengurus rumah itu sungguh berat dan melelahkan, ibarat seperti lari maraton. Sehingga, idealnya memang harus ada pembagian tugas atau dikerjakan bersama-sama.

Apresiasi Terhadap Kualitas Animasinya
Animasi The Impossible Dream yang didukung oleh PBB ini tidak hanya memiliki pesan yang kuat, tetapi juga visual yang indah. Padahal animasi ini dirilis tahun 1983.

Coba lihat desain karakternya yang khas, tidak seperti anime ataupun animasi ala Hollywood, cenderung lebih sederhana, agak kasar, tapi tetap menarik. Gambar latarnya juga tergolong detail dan kaya akan elemen lokal.

Yang paling menarik adalah palet warnanya. Warnanya berani dengan menggunakan warna-warni kontras tetapi dengan mempertahankan tone yang suram.

Oh iya animasi The Impossible Dream ini bisa kalian saksikan cuma-cuma di YouTube. Animasi ini berdurasi 8 menit 17 detik.

Gambar dari UN Media

~ oleh dewipuspasari pada Januari 9, 2026.

Tinggalkan komentar