Balada Babanci

Betawi dan Jakarta punya cerita

Tahun 2023 menjadi salah satu momen manis dalam perjalananku menulis. Cerita yang kutulis dalam bentuk skenario berjudul “Ngidam” mendapat kesempatan diadaptasi menjadi film pendek. Pengalaman tersebut membuatku kembali menengok dunia yang sejak awal dekat denganku, kuliner dan cerita-cerita yang hidup di masyarakat megapolitan Jakarta.

Ketika Dewan Kesenian Jakarta membuka penyaringan cerita bertema Betawi dan Jakarta, aku terpikir untuk melanjutkan seri kuliner Betawi yang telah dimulai lewat “Ngidam”. Dari sana lahir cerpen berjudul ” Balada Babanci”, yang kemudian terpilih dan dimuat dalam antologi “Betawi dan Jakarta Punya Cerita” bersama karya sembilan belas penulis lainnya.

Babanci kupilih bukan tanpa alasan. Sayur khas Betawi ini semakin jarang ditemui, bukan hanya karena bahan-bahannya yang sulit didapat, tetapi juga karena pengetahuan memasaknya perlahan menghilang bersama para pewarisnya.

Aku sudah punya bayangan akan cita rasa dan penampilan masakan tersebut karena sudah pernah mengenal dan mempelajari bumbunya yang sekian banyak. Aku juga paham cara memasaknya. Ya, aku sudah melakukan riset dan praktik akan masakan langka ini sebelumnya. Bagian tersulit adalah menemukan keseluruhan bumbunya.

Dalam “Balada Babanci”, aku menulis tentang seorang gadis muda yang tertarik meneruskan keahlian memasak keluarganya. Namun, ia segera menyadari bahwa menjaga tradisi bukan sekadar mengikuti dan menjaga resep warisan keluarga, melainkan juga menguji kesabaran, dan memahami perubahan zaman yang makin tak ramah terhadap masakan tradisional.

Balada babanci

Cerita kuliner selalu menarik bagiku karena ia bukan hanya tentang rasa, melainkan juga tentang ingatan, romansa, dan keluarga. Lewat makanan, sebuah cerita bisa berbicara tentang identitas, keluarga, dan kasih sayang. Barangkali karena itu pula aku selalu mencintai tema ini, baik sebagai pembaca, penonton, maupun penulis.

Aku membayangkan “Balada Babanci” sebagai cerita yang tidak hanya hidup di halaman buku. Siapa tahu, suatu hari kisah ini menemukan jalannya sendiri ke medium lainnya. Seri kuliner, mungkinkah?

~ oleh dewipuspasari pada Februari 8, 2026.

Tinggalkan komentar