Sketsa Pagi: Cucur dan Pukis

Lagi-lagi aku tergerak untuk berjalan pagi. Mumpung anak sekolah masih libur, mumpung hawa segar sekali. Sayang lapak penjual donat susu belum hadir, aku pun membeli kue pukis.

Sesekali jajan ah. Nggak tiap hari juga hahaha. Aku meyakinkan diri agar tak merasa bersalah beli jajanan.

Ternyata pada pukul enam pagi ada beberapa penjual kue-kue yang menggoda dengan harga yang tak mahal. Setelah kue pukis yang satu wadah berdelapan Rp10 ribu, maka aku melirik ke lapak penjual di tengah yang menjual aneka kue basah.

Harga gorengannya Rp2 ribu. Ada pisang goreng, combro, misro, juga singkong alias pohung. Ada pula kue pepe dan dadar gulung. Namun, ada dua kue sederhana yang menarik perhatianku. Keduanya adalah onde-onde dan kue cucur. Perbuahnya Rp2, 5 ribu.

Hari ini aku agak kesiangan. Alhasil jalanan mulai ramai, jadi kurang nyaman berjalan. Wah kalau sekolah sudah mulai, jalanan bakal makin padat ya?!

Ikan dan Kucing

Penjual ikan masih menjual ikan yang sama. Ikan salem yang segar langsung kubeli semuanya. Hanya satu kilogram. Bisa sih untuk empat harian. Lalu ada tongkol dan udang. Di area lainnya ada penjual ayam yang bisa kuminta tolong memotongnya kecil-kecil, agar lebih hemat.

Sejak harga makanan kucing naik, aku mengakali dengan lebih sering masak sendiri. Makananku ya makanan kucing hihihi. Aku makan ikan, mereka juga makan ikan, tapi direbus atau digoreng campur nasi. Mereka makan ayam rebus, aku makan telur atau ikan lagi. Tapi aku juga masih membeli makanan kucing kemasan, baik yang kalengan basah dan makanan kering.

Labu Kuning dan Susu Kacang

Wah ada penjual labu kuning. Beli ah buat kapan-kapan bikin kolak labu, puding labu, atau cake labu. Enak lho, juga bisa bayam dibuat sayur bening dengan labu.

Belanjaanku mulai berat. Lumayan pulang pergi sudah dapat jarak hampir tiga kiloan.

Terakhir aku membeli susu kacang. Khusus hari Jumat mereka memiliki promo beli dua dapat tiga. Asyik. Aku beli dua sari kedelai dan satu kacang hijau sepuluh ribu rupiah, jadi hemat.

Pukis, Kue Cucur, dan Sari Kedelai Menemani Aktivitas Membaca

Sejak aku pindah bekerja, aktivitas pagiku lebih melambat. Aku masih bisa berjalan pagi, memasak sederhana, atau membaca. Bagiku ini kemewahan sederhana.

Kue cucurnya tidak begitu manis. Bentuknya lebih padat dan cembung daripada yang biasa kunikmati di Kramst Jati. Tapi teksturnya tidak keras, biasa. Enak juga karena sudah lama aku tak menikmatinya.

Onde-ondenya sekilas juga nampak keras. Teksturnya sedikit renyah tapi dalamnya masih lembab. Isian kacang ijonya lumayan banyak. Ini juga nikmat.

Nah kue pukisnya sih rasanya sudah standar. Sedap tapi mengenyangkan. Buat nanti saja.

Sebagai penutup aku menyeruput sari kedelai yang masih hangat. Oohh ampun kemanisan. Enak sih, cuma kok gulanya kebanyakan.

Belanjaanku cukup banyak hari ini. Mungkin baru minggu depan belanja lagi. Ya aku ada alasan puasa jajan lagi nih.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 10, 2026.

Tinggalkan komentar