Ikut Antologi Buku, Cara Sederhana Punya Buku

Sebuah pesan di Instagram masuk. Ada komentar dari Pak Agung Han, “Kak Depus ikut banyak proyek antologi ya?” Spontan aku mengangguk, meski jemari belun mengetik jawabannya. Ya, sejak akhir Desember lalu aku rajin mengikuti proyek antologi buku. Terhitung sudah 18 proyek antologi buku yang kuikuti hingga awal Maret ini.


Saat ini ada begitu banyak jalan untuk memiliki buku dengan nama kita tersemat di dalamnya. Cara pertama dan paling sulit tentunya berkirim ke penerbitan besar. Cara pertama, kita harus siap ditolak. Kita juga menyediakan waktu dan tenaga untuk mendengar putusan apakah naskah kita diterima atau ditolak.

Cara berikutnya yakni menerbitkan sendiri dengan menggunakan jasa penerbit indie. Cara kedua ini relatif bebas penolakan, mungkin kendala bisa terjadi saat proses mendapatkan ISBN, mungkin dari pihak Perpusnas meminta revisi dan lainnya.

Namun cara kedua ini menyenangkan bagi yang ingin punya buku solo. Aku beberapa kali menggunakannya dengan jasa penerbit YPTD-nya Pak Thamrin. Awalnya gratis, lama-kelamaan berbayar namun tarifnya relatif masih terjangkau.

Poin minusnya yang kedua, kita perlu modal dan waktu untuk promosi. Untuk meminimalkan risiko tidak laku dan menambah modal maka bisa dilakukan dengan melakukan pre order. Namun lagi-lagi kita perlu rajin promosi, bisa juga ketuk pintu satu-persatu kawan kita untuk membeli buku karya kita.

Saat menerbitkan sendiri, biaya tergantung jasa. Misalnya apabila kita perlu jasa layout, pembuatan cover, maka tentunya biayanya akan lebih besar daripada kita hanya perlu jasa cetak dan jasa pengurusan ISBN.

Saranku sih rajin-rajinlah membandingkan penerbit A dan B. Ada yang kualitas cetakannya bagus, ada yang kurang. Ada yang layout-nya keren dan rapi, ada yang standar, dan lainnya. Nggak selalu yang paling mahal yang bagus.

Dari pengalamanku membuat buku solo yang kukerjakan semuanya sendiri dari membuat tulisan, me-layout, hingga membuat cover bukunya, itu melelahkan.

Biasanya agar hasilnya bagus maka aku perlu waktu dua bulan, lalu proses pengurusan ISBN dan cetak kualokasikan satu bulan. Setelah jadi biasanya malah kutimbun, karena aku nggak begitu pandai mempromosikan dan menjualnya. Yang lumayan laku karena rajin kupromosikan waktu itu adalah buku tentang kucing, “Tarian Kucing di Bulan Purnama dan Kisah-kisah Kucing Lainnya”.

Nah cara berikutnya yang relatif paling mudah, tidak banyak modal, dan tidak banyak energinya adalah mengikuti proyek antologi. Aku menemukan ini secara tak sengaja, ketika melakukan pencarian menggunakan kata kunci proyek menulis atau antologi. Rupanya ada beberapa yang rajin melakukannya.

Aku sedang tak punya energi untuk melanjutkan proyek buku soloku atau menjadi koordinator proyek buku antologi sehingga cara ini adalah salah satu langkah yang sederhana. Dulu ketika menjadi koordinator, aku cukup kelelahan menyusun layout dan mengedit naskahnya.

Memang ada kalanya naskahku tidak lolos karena kurang sesuai tema atau memang kurang bagus. Tak apa-apalah, naskah yang ditolak bisa kudaur ulang dan kumasukkan ke blog.

Kuhitung sejak akhir Desember 2021 hingga Maret 2022 ini sudah ada 18 proyek penulisan yang kuikuti. Empat antologi dari Salampena, yakni “Perjalanan 2021”, “Healing Time”, “Dear Mom”, dan “Bukan Sekadar Berdampingan”. Tujuh lainnnya dari Salisma Pro, temanya ada yang tentang menjadi sahabat, rumah, dan lainnya.

Antologi buku
Proyek lainnya ada tentang antologi puisi dari Lintang, “Menu Kenangan” dan “Kamu Cantik Tanpa Make Up” dari Vamedia, dan ada tentang puisi naratif DIVA juga gabungan puisi dan cerpen dari penerbit lainnya, serta kumpulan gagasan untuk sambut G20 dan antologi buku wisata.

Belum semua buku telah jadi. Baru ada tiga yang telah kuterima. Lainnya rata-rata masih antri proses pengurusan ISBN dan cetak. Ada juga yang masih dalam tahap pengumpulan naskah, editing, dan layout.

Tiga buku yang kuterima ada “Menu Kenangan”, “Perjalanan 2021”, dan “Healing Time”. Wah aku senang ada namaku tercantum di sana. Nambah portofolioku juga.

Rata-rata aku mengeluarkan dana Rp 50 ribu hingga Rp 90 ribu untuk ikut satu kali proyek antologi buku dengan mendapatkan satu buku ber-ISBN. Tebal tipisnya buku bergantung pada jumlah peserta.

Menariknya ada penerbit yang memberikan sertifikat dan pernak-pernik yang menarik. Bahkan ada yang memberikan semacam tropi dan medali. Hahaha menarik.

Andaikata konsisten ikut seminggu sekali antologi buku maka bisa ada 42 buku lagi. Jadinya tahun ini bisa 60 buku antologi yang kuikuti. Misalnya rata-rata Rp 80 ribu maka perlu modal sekitar Rp 4,8 juta untuk 60 buku. Nilainya setara denganĀ  menerbitkan 3-4 buku solo dengan jumlah buku yang tak banyak.

Seru sih ikut proyek buku antologi. Nanti jika ada waktu lebih maka aku juga ingin membuat buku solo lagi hanya kali ini aku ingin ada yang membantuku membuat cover buku dan menyusun layout-nya.

Semangat menulis kawan-kawan!

~ oleh dewipuspasari pada Maret 9, 2022.

14 Tanggapan to “Ikut Antologi Buku, Cara Sederhana Punya Buku”

  1. Rajin dan konsisten mba Depus ini. Karya tulisannya sudah membahana ke banyak buku antologi. Saya baru punya satu sama teman-teman KOMiK. Semoga bisa nyusul semangat nulisnya kayak Dewi.

  2. Wah produktif banget Mbak Depus. Aku baru kenal antologi 3 tahun lalu kali ya. Senang punya buku dengan namaku tersemat di sana. Ternyata begini caranya. Hehehe
    Alhamdulillah akhir 2021 baru berani nulis buku solo. Urusan cover dan layout udah kasih ke penerbit aja.

  3. akkkk beruntung banget yaa, bisa punya dan ambil kesempatan ikut serta bikin buku lewat antologi, bikin antologi pasti bikin deg degan yaa, kejar kejaran sama DL penulisan dan penerbitan penulis lainnya

  4. Waahh…banyak juga ya karya mbak Dewi. Aku yang punya mimpi punya buku sendiri jadi mupeng nih.

  5. Masya Allah tabarakallah ,ini yang dinamakan menjemput rejeki kak Dew…lah banyak ya kalau dihitung dari kehadiran dan dikalikan harga yg dikeluarkan. Semangat!

  6. Setuju Depus, daku juga sering buat antologi karena senang aja, kalau karya itu jadi produk, walau baru antologi

    untuk karya tunggal malah belum ada, kecuali buku mewarnai!

  7. Keren mbak. Produktif sekali nulisnya
    Banyak euy antologinya. Ajari akuuuuu
    Baru punya 3 antologi aku tuuu, segitu aja udah seneng banget
    Gimana kalau kayak mbak Dewi yang banyak gini dan beragam tema ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: