Trotoar

Tak ada yang peduli dengan trotoar di kawasan ini. Meski pejabat daerah tingkat kelurahan terus berganti, meski pendapatan mereka terus melejit.
Salah siapa jadi pejalan kaki? Mengapa tidak beli motor, lebih cepat sampai, tidak lelah fisik?
Belasan tahun tinggal di kawasan ini, tak ada yang berubah sama sekali. Trotoar masih tak nyaman bagi pejalan kaki. Ada pecahan genting, kadang juga ada pecahan kaca, juga kerikil yang tak nyaman di kaki.
Mengapa trotoar tak dirapikan? Atau sekadar sampah dan yang tak bikin nyaman di kaki, dibuang atau ditepikan. Bagaimana bila ada anak-anak atau kakek nenek yang berjalan lalu terkena pecahan kaca?
Aku seperti orang yang tak diinginkan setiap berjalan kaki Orang yang tak layak karena hanya mampu berjalan kaki. Pengguna roda dua dan roda empat merasa terserobot dengan kehadiran pejalan kaki. Kadang pengguna motor yang tak sabaran pun mengintimidasi dan melaju di atas trotoar, membuat pejalan kaki makin bingung untuk melangkah.
Kadang aku tersandung setelah berhasil melewati ranjau pecahan kaca dan genting. Rupanya ada lubang di penutup selokan yang tak kunjung diganti.
Belum cukup dengan kondisi trotoar yang tak nyaman untuk berjalan, apalagi menari seperti dalam film-film, tak jarang aku harus berjalan selap-selip karena trotoar dikuasai oleh gerobak-gerobak pedagang dan motor yang lagi parkir. Pejalan kaki semakin seperti anak tiri. Tak dikehendaki.
Padahal jalan kaki adalah olah raga paling murah dan sederhana. Tak perlu outfit mahal, tak perlu sepatu jutaan. Meski murah dan mudah, manfaat jalan kaki sangat besar.
Ketika banyak warga yang suka berjalan, maka makin banyak warga yang sehat. Efek dominonya, warga makin produktif dan bahagia.
Sayangnya banyak trotoar yang tak diperhatikan. Berjalan kaki pun tak nyaman. Jika tak waspada bisa terluka oleh kondisi trotoar, baik oleh ranjau ataupun lubang yang menganga. Belum lagi gerobak penjual dan motor parkir yang makin menyita ruang. Dan, kendaraan kadang mengintimidasi hingga tak sabar menyalip hingga menyerempet para pejalan.
Sampai kapan berjalan kaki menjadi adu ketahanan fisik dan mental. Entahlah.
