Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara

“Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”, ujar salah satu narasumber acara yang kuikuti di Taman Ismail Marzuki mengutip pernyataan terkenal dari sastraaan sekaligus mantan wartawan, Seno Gumira Ajidarma.
Belakangan ini aku merasa ruang untuk menyampaikan kegelisahan semakin membuat banyak orang berhati-hati. Bukan hanya media, masyarakat di ruang digital pun kadang merasa perlu berpikir berkali-kali ketika ingin menyampaikan pendapat dan keresahan.
Namun, kondisi saat ini begitu mengkhawatirkan. Kata-kata halus puitis untuk mengingatkan dalam rupa bait-bait puisi rasanya tumpul dan mungkin hanya dibaca segelintir pembaca.
Kata-kata tajam dalam cerpen yang metaforis juga mungkin hanya dipahami kalangan tertentu. Karena itu, karya sastra dan tulisan bisa menjadi salah satu cara untuk menyampaikan kegelisahan tanpa harus selalu berhadapan secara langsung.
Namun, kita tetap harus yakin bahwa kebenaran akan menemukan jalannya. Kejujuran dan upaya menyampaikan fakta adalah hal yang penting.
Rasanya sudah waktunya kita tidak sepenuhnya diam. Kita bisa mulai dari hal-hal yang sederhana: menyampaikan kepedulian, membagikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, atau mengajak orang lain untuk memperhatikan keadaan di sekitar kita.
Memang tidak semua orang berani menyampaikan pendapat di jalanan maupun di ruang digital karena khawatir menghadapi tekanan. Aku juga takut dan cemas seperti kalian. Namun, aku tak bisa sepenuhnya diam saja. Setidaknya aku bisa menuliskan kegelisahan dan mengajak komunitas untuk peduli terhadap karhutla lewat tulisan.
Kondisi kebakaran hutan saat ini begitu mengkhawatirkan. Sudah hampir sebulan aku mengikuti kabar tentang kebakaran yang belum kunjung padam. Lantas sampai kapan keadaan ini akan berlangsung? Aku takut hutan dan seisinya mengalami kerusakan yang semakin besar.
Setiap malam aku merasa sesak membaca kabar. Aku tak menghindarinya karena menurutku keadaan ini perlu diperhatikan dan dibicarakan. Aku mungkin tak bisa membantu banyak. Aku hanya bisa ikut bersuara meski suara itu juga diwarnai kecemasan.

Aku juga menulis lewat sastra. Namun, pembacanya mungkin hanya orang-orang yang memang sudah peduli, bukan mereka yang sebenarnya perlu melihat kembali dampak dari perbuatan manusia terhadap alam.
Aku hanya bisa berdoa agar karhutla segera padam. Ya Tuhan, bantulah kami. Turunkanlah hujan deras agar kebakaran padam dan sungai-sungai kembali terisi. Lindungilah warga-warga yang terpapar asap dan bencana. Lindungilah flora dan satwa liar dari api. Lindungi para pemadam kebakaran dan penjaga hutan yang berada di lapangan.
Ayo kita semua berdoa, bergandengan tangan, dan mengetuk langit agar negeri ini segera dijauhkan dari bencana dan kebakaran. Semoga setiap upaya manusia untuk menangani keadaan ini membawa kebaikan bagi alam, satwa, dan sesama. Semoga kepedulian dan doa banyak orang mendatangkan keajaiban.

Ayo kita semua berdoa, bergandengan tangan, dan mengetuk langit agar negeri ini segera dijauhkan dari bencana, kebakaran, dan mereka yang jahat. Energi doa orang banyak siapa tahu mendatangkan keajaiban.
Amiiin. Maafkan aku hanya bisa menuliskan ini dan berdoa.
sumber gambar: Fairy Tail
