Nasi Bungkus Keyong

Keyong awal mulanya adalah kucing liar. Ia suka melongok ke halaman dari celah-celah pagar. Suara meong-meongnya mirip ‘keeeyoong’ jadilah namanya Keyong. Nah, si Keyong kini menetap di rumahku meski belum resmi kuangkat sebagai kucingku. Salah satu alasan aku belum merestui Keyong sebagai kucing peliharaan karena ia masih sering berperilaku seperti kucing jalanan.
Keyong belum paham etika kucing rumah. Meski ia sudah hampir tiga bulan memutuskan menetap di rumahku, sifatnya masih ugal-ugalan. Awalnya susah sekali menyuruhnya belajar menggunakan bak pasir. Lambat laun ia pun bisa.
Keyong terobsesi dengan makanan. Mungkin karena dulunya ia kesulitan mencari makan, maka kini ia tampak tamak. Ia suka merebut makanan kucing lainnya. Ia mudah penasaran dengan semua makanan, sehingga makanan yang masih ada di depannya dibiarkannya lalu ia merebut makanan kucing lainnya.
Ya karena ia nakal dan sulit ditertibkan, aku terpaksa menjewernya atau kumasukkan ke dalam kandang. Cuma ya gitu deh, jika dimasukkan ke kandang, ia mengamuk dan tampak begitu ketakutan. Mungkin sejak dulu ia terbiasa keluyuran sehingga masuk kandang dan terkurung membuatnya panik.
Satu lagi yang membuatku kesal ia suka berburu nasi bungkus di tempat sampah tetangga. Ooh sudah berapa kali ada bekas nasi bungkus di halaman dan di ruang depan. Oh aku kesal sekali. Selain kotor isinya berhamburan, tentunya makanan itu tak menyehatkan karena bukan makanan khusus kucing dan sudah masuk tong sampah.
Tapi Keyong sulit sekali diberitahu. Ia bebal.
Keyong, kamu nggak kuangkat jadi kucingku lho kalau masih tidak mengikuti aturan kucing rumahan.
