Mode Diculik Alien

Suatu ketika rasa malas menguasaiku. Aku malas bersih-bersih rumah. Aku malas menulis. Bahkan membaca buku, menonton film, atau mendengar musik pun aku enggan. Aku seperti dalam mode diculik alien. Benakku sibuk berimajinasi dan aku hidup dalam skenario imajinasi itu hingga ceritanya tamat.
Aku dulu kadang melamun di kelas, bahkan pernah beberapa kali saat ujian. Ketika lamunanku selesai, aku panik karena waktu mengerjakan soal-soal tak lagi banyak. Tapi aku kadang susah menghentikan lamunan ini. Apalagi jika ceritanya seru dan aku penasaran dengan penyelesaiannya.
Dulu aku bingung mengapa aku bisa berimajinasi kompleks hingga seperti aku benar-benar hidup dalam imajinasi itu. Tapi kemudian aku paham itu kekuatan sekaligus kelemahanku.
Kekuatannya, aku bisa menulis secara sensorik berkat latihan pikiran itu. Minusnya, aku kadang sedih ketika cerita itu berakhir. Ya, aku balik ke realita.
Karena proses berimajinasi itu kadang lama, aku seperti hidup dalam pikiranku. Aku kemudian menyebutnya mode diculik alien.
Jangan ganggu aku, biarkan ceritanya selesai dulu. Kucing-kucing bertahanlah dengan makanan basah dan kering. Rumah tak apa-apa berantakan sedikit. Nanti setelah alien membebaskanku, aku akan mengebut bersih-bersih dan menyayangi kalian para kucing satu-persatu.
Hari ini aku merasa malas. Rasanya aku masuk mode diculik alien. Skenarioku bergerak ke cerita yang seru. Tapi ceritanya sudah mau tamat.
Ketika aku mulai kembali berkonsentrasi ke pekerjaan, ternyata hari sudah semakin siang. Oh berapa lama aku terjebak ke dunia rekaanku. Aku lagi malas, tapi cerita imajinasi kali ini menyenangkan.
