Kembali Mendengar Rage Against The Machine

Ketika majalah Hai masih merilis Hai Klip, kadang-kadang aku suka membelinya. Aku ingat pernah memiliki Hai Klip yang isinya tentang nu metal dan ada bagian yang membahas Rage Against The Machine (RATM). Hingga saat ini lagu-lagu mereka kerap kudengar. Pesan lagu-lagu mereka juga masih relevan hingga sekarang.
Dulu lagu RATM yang sering kudengar adalah “Killing in the Name”, “Guerilla Radio”, “Wake Up”, dan “Renegades of Funk”. Aku punya seorang kawan perempuan yang fans berat Zack de la Rocha, sang vokalis. Jadi kami saat itu juga suka membahas lagu-lagu mereka. Dia salah satu kawanku yang berharga, karena tak banyak kawanku saat itu yang menyukai tembang-tembang RATM yang seperti penuh luapan kemarahan.
Apa ya kesanku akan RATM? Band ini memiliki energi dan semangat yang membara. Lagu-lagu mereka banyak membahas isu sosial dan politik, juga ketidakadikan. Isu yang jarang dibahas band metal pada generasi berikutnya.
Warna suara dan gaya bernyanyi Zack itu unik. Demikian juga dengan aransemen musik mereka yang khas, di mana salah satunya disumbang oleh permainan gitar modifikasi Tom Morello.
Ketika band RATM sempat berubah menjadi Audioslave, aku juga mendengar beberapa lagunya seperti “Like a Stone”, “I Am the Highway”, ” How to Live”, “Be Yourself”, dan Cochise. Sama-sama bagus, apalagi vokal Chris Cornell juga memikat. Aku juga sedih saat band ini bubar dan Chris kemudian meninggal.
Masuk Genre Nu Metal?
Band asal Los Angeles yang dibentuk tahun 1991 ini terdiri dari Zack de la Rocha (vokalis), Tom Morello (gitaris), Tim Commerford (basis), dan Brad Wilk (drummer). Band ini pernah bubar tahun 2000 kemudian reuni dan bubar lagi hingga kesekian kalinya tahun 2024. Hingga saat ini personel band ini belum lagi berkumpul dan merilis album baru.
Ya, album studio mereka tak banyak. Hanya ada empat buah. Lainnya adalah album konser mereka yang dirilis ulang. Album tersebut adalah “Rage Against The Machine (1992), ” Evil Empire” (1996), “The Battle of Los Angeles”, dan “Renegades” (2000).
Melihat penampilan Zack dengan rambut ala rasta mengingatkanku akan sosok Bob Marley, sosok ikonik di dunia reggae. Namun, lagu-lagu RATM seperti menggabungkan musik funk, rap, dan heavy metal. Dari musiknya seperti ada pengaruh dari Red Hot Chili Peppers.
Oleh karena ada unsur metal dan rap inilah maka mereka juga diasosiasikan sebagai band yang mengusung nu metal. Meski menurutku gaya dan nuansa tembang RATM berbeda dengan tembang Limpbizkit, Korn, ataupun Slipknot.
Tembang-tembang yang Menyuarakan Ketidakadilan dan Perlawanan
Meskipun band ini ada yang memasukkannya ke dalam kategori band politik, sebenarnya lagu mereka bersifat universal. Zack dalam Hai Klip juga terang-terangan mengagumi sosok Che Guevara.
Pada album pertama, lagu-lagu mereka menyuarakan anti penindasan dan kritik sosial. Ada beberapa lagu yang populer dalam album ini seperti “Bombtrack”, “Killing in the Name”, “Bullet in the Head”, “Know Your Enemy”, “Wake Up”, dan “Freedom”. Favoritku dalam album ini “Killing” in the Name” dan “Wake Up”.
Sejak intro, lagu “Killing in the Name” langsung memikat. Riff-nya juga mudah diingat. Liriknya sendiri kebanyakan berulang, tapi dengan demikian pesannya tersampaikan. Menurutku inti pesan lagu ini adalah melawan penyalahgunaan kekuasaan yang digunakan untuk menindas. Liriknya yang berkesan adalah “Now you do what they told ya”.
Tembang “Wake Up” sendiri malah kukenal sebagai salah satu tembang soundtrack “The Matrix”. Intronya juga asyik. Mendengar intronya, aku langsung tahu itu tembang RATM.
Lagu ini memiliki referensi atas kasus-kasus penembakan yang rupanya disengaja untuk tujuan membungkam. Aku suka dengan kata ‘wake up’ dalam lagu ini yang juga selaras dengan isu dalam film Keanu Reeves tersebut, yaitu bangkit dari ketidakpedulian. Lihatlah sekeliling, jangan hanya hidup dalam gelembungmu.
Pada album kedua, temanya meluas yaitu anti penindasan global. Lagu “Bulls on Parade” dan “People of the Sun” cukup populer. Lagu “People of the Sun” menggunakan referensi salah satunya imperalisme Spanyol yang menghancurkan suku Aztek. Lagu ini meraih nominasi Grammy.
Aku tak begitu suka akan lagu-lagu dalam album ini meski aku mengapresiasi lirik-liriknya yang banyak menggunakan referensi sejarah dunia.
Album ketiga merupakan album yang paling sering kudengar. Mungkin karena aku dulu meminjam album kaset ini sehingga masih familiar dengan lagu-lagunya. Tentunya lagu “Guerilla Radio” juga menjadi favoritku karena musiknya yang mudah dinikmati, energik, dan liriknya berisi. Liriknya ada yang membahas penindasan ekonomi dan ajakan untuk memperbaiki kondisi
Aku suka lirik dalam bait-bait terakhir lagu ini. “It has to start somewhere… All hell can’t stop us now.” Menurutku lagu ini memang layak dapat Grammy karena aransemen musik, kualitas vokal, dan liriknya memang apik.
Lagu yang video klipnya membuatku sedih adalah “Sleep Now in the Fire”. Bagaimana jika informasi dan kebenaran dimanipulasi demi tujuan tertentu? Judul lagu ini juga membuatku tersentil. Di mana-mana sedang ada kebakaran yang membuat masyarakat, satwa, dan flora berduka.
Dadaku juga tiap saat sesak memikirkannya dan berharap api segera padam. Tapi kehidupan mereka tak akan langsung membaik setelah api padam karena kerusakan, kehilangan, dan kehancuran sudah terjadi, bukan?!
Lagu “Born of a Broken Man” terasa personal dan emosional. Aku sedih mendengar lagu ini. Apalagi lagi ini rupanya bercerita tentang kondisi ayah Zack yang terpuruk secara mental setelah perceraian.
Pada album keempat lagu yang paling populer adalah “Renegades of Funk”. Rupanya lagu ini adalah cover dari Afrika Bambaataa. Aku mendengar versi orisinilnya ternyata aransemen musik dan nuansanya berbeda. RATM mengubahnya sehingga seperti lagu mereka sendiri. Liriknya sendiri masih sama.
Aku suka penekanan lirik “No matter how hard you try, you can’t stop this now”. dan para pemberontak sekarang adalah orang-orang dengan filosofi mereka sendiri. Lirik lagu tahun 1983 ini jenius.
Rupanya album keempat merupakan album cover dari berbagai musisi beken seperti Bruce Springsteen, The Rolling Stones, dan Bob Dylan. Lagu ini diaransemen ulang sehingga seperti lagu karya RATM.
Sayangnya band satu ini belum membuat album anyar lagi. Setelah bubar tahun 2000 mereka sempat bereuni dan tur. Zack dan Tom juga dikenal masih aktif menyuarakan kepedulian terhadap Palestina dan kritik sosial akan penindasan.
