Digeruduk Kucing di Hutan Kota

Wah mukamu melas banget. Tunggu ya aku ada camilan, ujarku menyapa seekor kucing di sebuah hutan kota di kawasan Jakarta Selatan.
Hari itu aku membawa sebotol makanan kering dan satu sachet makanan basah. Yang makanan kering sudah tak bersisa karena ada banyak kucing di ruang limpah sungai yang tak jauh dari hutan kota.
Kubuka makanan basah itu, si kucing tampak tertarik. Ia mengendus-endus pingin. Eh kok rasanya ada kucing lain. Ada satu, dua, tiga kucing. Wah harus dibagi, biar semua bisa nyicip.
Ooh hutan kota itu satwanya tetap ada kucingnya ya?! Kupikir ada bebek, burung, dan lainnya. Tapi bebeknya malah di kandang sempit, kasihan. Anak ayam juga di kandang. Lainnya yang terlihat berseliweran ada aneka burung dan serangga.

Aku berkeliling dengan santai, hawa yang segar, dan pepohonan rindang, sungguh menyenangkan. Suasana di sini tenang, sangat kontras dengan riuh di waduk kecil yang kudatangi sebelumnya.
Seraya beristirahat sejenak menyeruput air, aku duduk di sebuah bangku. Aku hendak minum dan membaca buku. Eh tak lama ada yang menyapaku. Ia sampai ikut naik ke bangku. Hup hup hup.

Ah aku merasa bersalah. Makanan yang kubawa tak banyak. Hanya tinggal sesendok makan.
Yang membuatku runyam para kawannya ikut datang dan naik ke meja. Wah aku digeruduk kucing banyak. Dan sedihnya makananku sudah tak ada, alias tak bersisa.
Aku meminta maaf. Kuelus-elus mereka sambil minta maaf. Si kucing menggerutu dan tampak marah. Hingga pengemudi ojol datang, aku masih sibuk menghibur mereka.
