Steven Soderbergh dan “The Christophers” (2026)

Ada kalanya aku memutuskan menonton film karena nama sutradaranya. Ya, selain karena sinopsis cerita, tembang soundtrack, dan para pemeran, aku juga mempertimbangkan nama sutradara untuk menyaksikan film. Jika film A dan B karya si sutradara X bagus, bisa jadi film C-nya juga menarik. Andaikata filmnya nanti tidak sesuai ekspektasi ya tinggal dibandingkan saja dengan karyanya sebelumnya. Nah, pada gelaran Jakarta World Cinema 2026, aku memilih menyaksikan “The Christophers” yang disutradarai oleh Steven Soderbergh.
Karya-karya Soderbergh yang sudah kutonton sebenarnya belum banyak. Baru “Erin Brockovich”, “Traffic”, “franchise Ocean’s”, “Magic Mike”, dan “Logan Lucky”. Yang paling kusuka adalah “Ocean’s Eleven” dan “Logan Lucky”.. Keduanya sama-sama tentang perampokan dan rencananya yang rumit. Hanya, “Logan Lucky” lebih jenaka. Aku puas tertawa.
Lantas bagaimana dengan “The Christophers”?
Film yang tayang perdana di TIFF 2025 ini dan kemarin tayang di Jakarta World Cinema 2026 ini naskahnya ditulis oleh Ed Solomon yang sebelumnya berkolaborasi dengan Soderbergh lewat “No Sudden Move”. Pemerannya ada si Gandalf alias Ian McKellen. Juga ada Michaela Coel, Jessica Gunnint, dan James Corden.
“The Christophers” merujuk pada seri lukisan yang dibuat pelukis terkenal dan eksentrik bernama Julian Sklar (Ian McKellen). Dua serial lukisannya laku keras. Ia kemudian vakum melukis, tinggal di tempat sederhana, dan banyak mengomel, seiring popularitasnya yang menurun.
Sayangnya kedua anaknya tak mewarisi bakat melukisnya. Sadar si ayah masih menyimpan lukisan seri ketiga yang belum selesai, mereka menyewa seorang seniman berbakat, Lori (Michaela Coel) agar bersedia menjadi asisten ayahnya dan diam-diam menyelesaikan karya sang ayah untuk dijual. Namun, rupanya sang ayah tahu muslihat mereka.
Ceritanya menarik dan memiliki sisi komedi gelap. Hanya entah bagaimana kemasannya agak membosankan. Aku berupaya keras menahan untuk menguap karena ritme penceritaannya lumayan lambat.

Dari sisi performa akting, semua pemeran berhasil menghidupkan cerita. Menarik melihat McKellen menjadi sosok pelukis menyebalkan di luar karakternya sebagai Gandalf dan Magneto. Nyawa film ini adalah penampilan McKellen yang gemilang.
Ada unsur kejutan di bagian akhir, meski tidak wah. Setelah film berakhir, aku merasa lega akhirnya filmnya selesai juga hahaha. Filmnya lumayan sih dari segi akting, tapi agak menjemukan. Bukan jenis film yang kusuka dan bukan karya Soderbergh yang bakal kutonton ulang.
Gambar milik Neon dan Ian McKellen
