Mie Ayam Istimewa

Baru kali ini aku menemukan mie ayam paling nikmat dari yang selama ini pernah aku santap. Hmm.. hangatnya pas, kaldunya gurih, kaldu asli alami bukan kaldu buatan pabrik. Suwir-suwiran ayamnya lebih banyak dibandingkan mie-mie yang sudah pernah masuk ke perutku. Wanginya bunga mawar tidak mampu mengalahkan wanginya mie ayamku.
“Nih mienya, Mbak.”
“Hem”, dengusku. Pendorong gerobak mie ayam itu tersenyum sekilas ke arahku. Mungkin ia geli memandangku, pikirnya baru kali ini ada cewek yang nambah porsi hingga dua kali. Aku jadi grogi dilihatin, mie yang akan kumasukkan ke kerongkonganku berulang kali melorot, tak pas sasaran, hingga kedua pipiku basah oleh kuah mie. Mas Pen terbahak-bahak melihatku walau pipinya menggembung penuh kuah. Yah akibatnya bisa tertebak, kuah dari mulutnya bersemburan, menyiram sekuntum mawar di jambangan, si mawar kelihatan terkejut dan langsung layu. Aku mendelik sewot ke arahnya tetapi dia tak peduli.
Entah kelaparan atau rakus, Mas Pen tak rela mienya tinggal sesuap, ia menambah porsinya sekali lagi. Astaga! Betul-betul perut karet tuh anak, ini sudah keempat kalinya. Mas Pen mengacungkan kedua jarinya membentuk tanda “V”.
“Mes, akulah jawaranya.”
Pendorong mie yang berkulit sawo matang ia tertawa memperlihatkan giginya yang gingsul satu dua buah. Kalau nggak satu sih dua, habis hanya dua detik terpampangnya.
“Ayo Mbak Mes lagi mienya biar nggak kalah sama Masnya!”
Aku diam saja menyuap sesendok penuh mie ke mulutku. Ini orang kok sok kenal banget sih, enak saja panggil-panggil Mbak Mes segala, pikirku
“Hap! Ayo tinggal sesendok lagi, sekarang masuk babak keempat.”
Aku meringis saja. Perutku terasa penuh seperti nggak ada celah lagi untuk dimasuki makanan. Mas Pen menjulurkan lidahnya ke arahku yang membuat hatiku panas. Kusodorkan mangkukku ke arah penjual itu tapi seleraku telah tinggal duapuluh lima persen. Mungkin betul pendapat Keynes atau David Richardo ( sorry aku nggak tahu yang mana, soalnya aku sering kebalik), “The law diminishing return”, yang intinya begini: Apabila kita mengkonsumsi sesuatu secara terus-menerus maka kepuasan yang kita peroleh semakin menurun. Dan setelah melampaui batas tertentu akan menjadi negatif. Wah kalau begitu sebaiknya aku stop deh sebelum jadi negatif alias mual. Mas Pen kelihatan kecewa sekaligus puas, puas karena berhasil ngalahkan aku (padahal siapa yang ngajak lomba makan mie), tetapi kecewa karena aku sudah kabur ke dalam.
Udah dipastikan ia jadinya yang membayar karena sekali aku kabur susah nyarinya. Maklum rumah kami penuh lorong-lorong yang berliku-liku, ruwet,membingungkan. Kata mama ini ada hubungannya sama hobi nenekku. Hobi nenekku waktu remaja nggak sama dengan hobi anak-anak remaja seumurnya, hobinya petak umpet. Nah, karena saking cintanya kakek pada nenek maka ia buatkan istana petak umpet ya rumahku inilah.
Mas Pen berjalan terhuyung-huyung memasuki rumah mirip orang mabuk. Mama yang lagi di ruang keluarga II alias ruang serbaneka surprise melihat penampilan anak nomor duanya. Sambil memegang kepalanya, ia berputar-putar mencari ayah.
“Aduh Papi-papi, anakmu Pi. Lihat!”
Ayah yang ada di ruang keluarga I alias ruang fantasi alias ruang perpustakaan segera menjumpai istrinya, tetapi ia keliru mengambil lorong menuju ruang keluarga II. Ayah malah kesasar ria menuju halaman rumah.Lho kok di sini, pikir ayah.
Mas Pen yang jalannya menghebohkan semua penghuni rumah lorong, termasuk Imut dan Dandong, kedua kucingku, malah cengengesan. Ia dipapah menuju kamar tidurnya yang dipisahkan dua lorong dari ruang serbaneka. Satu lorong ke kanan, lorong berikutnya ke kiri. Hap sampai deh ke kamar Mas Pen. Ayah segera melonggarkan baju kakak dan aha muncul perutnya yang gendut. Ih kaya’ orang cacingan saja, habis kakak kan kurus menjulang.
Mas Pen merintih, mama mengambil entong nasi. Ia hendak melakukan pengobatan tradisional, yaitu mengurut perut pakai entong. Tetapi kaya’nya nggak berhasil deh, malah kakak tambah kesakitan. Oleh ayah, kakak diberi balsem tetapi sepertinya nggak mempan deh.
Akhirnya mereka menyerah dan menyemangati kakak agar terus bertahan hidup. Eh eh segitu gampangnya mereka menyerah. Mereka malah ngacir untuk menyiapkan makan malam.
Aku nggak berputus asa, kuurut perutnya tetapi ia malah kegelian. Kuhibur ia dengan suara sumbangku, perutnya tambah sakit. Walah!Sehabis adzan Maghrib berkumandang, kupanjatkan doa pada-Nya agar kakakku segera sembuh. Syukur Alhamdulilah, Tuhan mengabulkan permohonanku. Seperti mendapat petunjuk, kakak segera mencari obatnya sendiri, menuju kamar mandi. Sekitar limabelas menit kemudian ia mucul di hadapanku dengan wajah segar, perutnya mengecil beberapa senti. Ternyata cara alami yang menyembuhkannya.
Sore, keesokan harinya, kami kembali duduk di taman, pendorong gerobak mie ayam baru, yang kemarin kusebut-sebut sebagai mie terlezat itu melintas. Ia tersenyum dan berhenti di depan rumahku tanpa kuminta. Ia segera menyiapkan porsi untuk dua orang.. Kuambil porsiku tapi kakakku menolak. Rupanya ia tak mau kejadian kemarin terulang lagi. Kuejek dia, kujulurkan lidahku seperti perlakuannya padaku kemarin. Ia hanya tersenyum. Yah kuhabiskan porsinya, tetapi belum habis mie tersebut, perutku terasa melilit. Aduh!
Dew’99

ceritanya cukup menarik dan menggelitik, suatu saat nanti boleh dong nyobain mie ayamnya ya,.. ha..