Menabung Asyik Sesuai Passion-mu

ngerumpi tentang keuangan

Kebiasaan menabung setiap orang berbeda-beda. Ada yang suka cara konvensional dengan memasukkannya ke dalam celengan atau amplop. Ada pula yang lebih memilih menabung dalam bentuk dollar. Ada juga yang suka cara unik dengan hanya mengumpulkan lembaran tertentu dalam toples kaca. Mungkin mirip halnya dengan DNA, gaya menabung setiap orang unik. Dan rupanya menabung yang paling asyik itu yang sesuai dengan passion dan karaktermu.

Sebelum mengulas lebih jauh tentang petualangan menabung, rupanya ada perbedaan antara menabung dan berinvestasi. Sekilas istilah ini mirip, tapi menurut para perencana keuangan, istilah ini berbeda. Menabung lebih berfokus pada cara mengumpulkan dan menyimpan dana. Umumnya penabung tidak bermaksud mendapat keuntungan dan imbal hasilnya biasanya kecil dan produknya minim risiko. Sedangkan investasi lebih merujuk ke metode penempatan dana dengan harapan meraih keuntungan dan nilainya cenderung fluktuatif.

Contoh menabung adalah mengumpulkan uang di celengan/bank dan mengikuti tabungan berjangka. Sementara investasi lebih luas, seperti reksadana, saham, obligasi, dan lain-lain. Untuk deposito, ada yang mengkategorikan sebagai investasi, namun saat ini ada pula yang mengkategorikannya sebagai tabungan karena imbal hasil yang di bawah tingkat inflasi.

Kawanku suka menabung dalam bentuk dollar. Ia berpendapat perekonomian Indonesia saat ini relatif kurang stabil sehingga dollar akan cenderung naik. Rupanya prediksinya benar. Tapi tetap saja saya enggan untuk mengambil produk tabungan tersebut. Hehehe kok kesannya kurang nasionalis gitu ya.

Teman lainnya yang sekarang fokus menjadi ibu rumah tangga, lebih menyukai mengumpulkan pundi-pundi uang dalam lembaran Rp 50 ribu. Setiap ada lembaran limapuluh ribu di dompetnya langsung ia masukkan ke toples. Alhasil tak sampai setahun toples kacanya sudah penuh dan ia sudah menabung lagi di toples baru.

Ia mengaku teradiksi dengan kebiasaan mengumpulkan lembaran Rp 50 ribu. Setiap memandang toples birunya yang pertama ia merasa optimis dan senang. Ia yakin dana yang terkumpul di toples pertama dan keduanya sudah lebih dari Rp 2 juta. Cukup untuk biaya mudik saat lebaran mendatang.

Saya tertarik mendengar ceritanya waktu itu dan dalam kurun dua bulan saya mengikuti sarannya. Hanya nominalnya lebih kecil, yaitu Rp 10 ribu. Toplesnya pun bukan toples khusus hanya bekas wadah permen. Memang ketika itu mata saya kontan melek jika ada pecahan Rp 10 ribu. Bahkan jika belanja di warung atau pasar ada kembalian uang berwarna ungu tersebut, segera saya pisahkan dan saya taruh di toples.

Camera 360

Power of Rp 10 ribu

Tak perlu satu bulan, toples saya sudah penuh oleh lembaran sepuluh ribuan. Namun, ada yang bikin kurang sreg. Meskipun duit di toples bertambah, saldo di bank cepat tergerus. Ya, gara-gara keranjingan mengumpulkan uang Rp 10 ribu, ada dorongan untuk lebih sering mengambil uang di ATM dan dorongan impulsif untuk berbelanja.

Setelah saya merenung, rasanya metode yang saya sebut power of Rp 10 ribu ini kurang pas untuk saya. Tumpukan lembaran Rp 10 ribu itu pun saya setor ke bank. Hemmm rasanya sedih juga melihat lembaran Rp 10 ribu yang saya kumpulkan dengan susah payah itu lenyap diganti catatan di buku tabungan.

Tabungan Berjangka Cocok Bagi si Pelupa

Bingung memikirkan cara menabung yang efektif, saya teringat dengan tabungan berjangka yang pernah saya ikuti sebelum menikah. Tabungan berjangka memiliki metode penyetoran nominal tertentu setiap bulan hingga jatuh tempo.

Dulu saya memilih tabungan berjangka berdurasi dua tahun dengan setoran Rp 500 ribu per bulan. Oleh karena menggunakan autodebet saya tidak perlu bersusah payah mengingat apakah saya sudah menyetor dana atau belum. Asyiknya, selain setoran wajib nasabah bisa menambahkan setoran suka-suka kapan saja. Kalau ada saldo di tabungan atau sedang mendapatkan tambahan rejeki, saya segera setorkan ke rekening tabungan berjangka.

Setelah menikah saya kembali membuka tabungan berjangka dengan durasi lima tahun. Hemm tak terasa dua tahun lagi jatuh tempo deh. Selain imbal hasilnya yang lebih tinggi dibandingkan imbal hasil tabungan biasa, tabungan berjangka menurut saya membantu nasabah untuk berdisplin menabung dan berhemat. Menabung di awal bulan memang disarankan agar penghasilan tidak keburu habis.

Memisahkan Rekening

Petualangan saya terkait dunia tabung-menabung belum berakhir. Saya masih merasa kurang puas. Dengan tingkat inflasi yang tinggi maka saya sulit mengejar biaya pendidikan anak yang terus naik tiap tahunnya. Berdasarkan hasil penelitian ZAPFIN Research Division, setiap tahunnya biaya pendidikan bertambah 15 persen. Jika biaya kuliah saat ini berkisar Rp 5-7 juta/semester maka 20 tahun mendatang bisa menjadi Rp 80-115 juta/semester. Wuih serem. Belum lagi jika mengingat biaya hidup saat pensiun, ongkos naik haji, dan sebagainya. Rasanya menabung ala tabungan berjangka tidaklah cukup.

hitung

Usai berkonsultasi dengan teman-teman yang berpengalaman di dunia investasi, saya membuka rekening tabungan lagi. Rekening tabungan lama saya fungsikan untuk menyetor tabungan berjangka, mengumpulkan dana darurat juga membayar tagihan. Sedangkan rekening baru saya fungsikan untuk berinvestasi.

Di bank tempat saya membuka rekening baru ada fasilitas untuk membeli reksadana, dari pasar uang, saham, hingga berbasis syariah. Setelah penempatan pertama, saya bisa menambah dan mencairkan reksadana tersebut secara online.

Dari pendapatan, saya pisahkan sebagian dana untuk diinvestasikan di reksadana. Sengaja porsi reksadana pasar uang lebih besar karena saya mudah was-was melihat pergerakan reksadana saham yang cukup volatile. Yang menyenangkan, proses redeem (pencairan) reksadana pasar uang cukup cepat dengan imbal hasil setara deposito. Bedanya dengan deposito, membuka rekening reksadana pasar uang tidak memerlukan nominal besar dan dananya bisa diambil sewaktu-waktu tanpa menunggu jatuh tempo.

Saat ini saya merasa pilihan saya memisahkan rekening untuk tabungan dan investasi sesuai dengan passion dan karakter saya. Meski demikian saya masih perlu belajar tentang pengelolaan keuangan dan memeriksa kesehatan situasi keuangan secara berkala.

Seru kan menabung. Yuk siapkan menabung sesuai karaktermu.

Tentang Cermati.com

Sudah kenal dengan Cermati.com ? Cermati adalah perusahaan di bidang teknologi finansial. Cermati memiliki visi menyebarkan informasi tentang finansial kepada masyarakat dengan menggunakan teknologi. Sedangkan misinya membantu masyarakat dapat mengendalikan situasi finansial dan menghemat uang dengan keputusan finansial yang cermat.

Cermati

Artikel dalam Cermati.com memang belum banyak karena situs ini terbilang baru. Yang menarik ada rubrik tentang deposito dan membandingkan imbal hasil deposito dari berbagai bank di Indonesia. Ada pula tips-tips tentang pengelolaan keuangan sederhana.

lomba blog tips menabung

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati

Gambar dari 123rf.com dan shutterstock.com juga koleksi pribadi.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 1, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: