Menuju Green Hospital dari yang Termudah
Waktu masih kanak-kanak, saya suka diajak membesuk alias menengok paman yang sakit di sebuah rumah sakit umum di kota Malang. Tujuan saya waktu itu khas anak-anak, bukannya bersikap manis menemani bibi menjenguk suaminya, saya dan sepupu-sepupu malah asyik bermain di taman dan membeli keripik bekicot. Pada masa itu, taman rumah sakit seakan taman bermain yang luas dan seru bagi kami yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi setelah ibu mengetahui kelakuan kami, ia lantas melarang saya ikut berkunjung ke rumah sakit.
Ada banyak cerita tentang rumah sakit yang saya kunjungi, terutama menjenguk teman. Saya bersyukur termasuk yang jarang sakit dan hanya menjalani beberapa kali rawat jalan. Jika dulu saya memandang rumah sakit sebagai salah satu wahana bermain bagi anak-anak, kini saya memandang rumah sakit sebagai salah satu tempat yang sebisanya kuhindari. Tapi, rupanya, saya tidak bisa lepas dari rumah sakit, apalagi ketika mendapat tugas mengurus rubrik kesehatan. Hampir tiap minggu saya menyambangi rumah-rumah sakit di seputar Surabaya dan Sidoarjo. Ada beberapa yang cukup nyaman untuk menunggui dokter atau mengamati kondisi kesehatan masyarakat, namun banyak di antaranya yang membuat saya ingin bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Masa menjadi pengurus rubrik kesehatan itu menjadi sebuah catatan berkesan sepanjang hidup saya. Dari kunjungan demi kunjungan tersebut,termasuk kunjungan terakhir saya di beberapa rumah sakit di Jakarta, saya dapat simpulkan beberapa hal yang menjadi minus rumah sakit, baik dari segi fasilitas maupun pelayanannya.
a. Standard Operating Procedure (SOP)
Kami sebagai pasien atau keluarga pasien seringkali bingung bagaimana urutan proses agar bisa segera dirawat di rumah sakit atau bagaimana mengunjungi saudara kami yang sedang dirawat. Meja layanan informasi sering kosong. Beberapa RS seakan membiarkan pasien mondar-mandir karena bingung dengan birokrasi.
b. Ruang Tunggu yang Nyaman
Menjadi pasien itu kondisi yang tidak menyenangkan. Saat menjadi pasien yang ada di pikiran saya adalah bagaimana caranya supaya segera dirawat dan sembuh. Dan sembari menunggu antrian, saya perlu mengalihkan perhatian saya dari rasa sakit. Sayangnya kursi-kursi yang ada di ruang tunggu terkadang penuh, teve memutar acara yang tidak menarik, dan pemandangan hanya berupa lalu lalang pasien dan petugas medis. Di Jakarta, tidak banyak rumah sakit yang sejuk di mata, kaya pepohonan atau memiliki taman yang cantik. Yang ada adalah bangunan demi bangunan berbeton yang dipisahkan dengan ruang parker. Lokasi yang berdekatan dengan jalan raya memang strategis, namun juga bisa menjadi sumber polusi suara dan polusi udara
c. Fasilitas
Fasilitas rumah sakit ada yang canggih dan lengkap, serta memiliki dokter spesialis yang beragam. Namun, fasilitas seperti toilet, ruang parkir, mushola, dan kantin, sepatutnya juga menjadi perhatian. Saya sering melewati kantin dan toilet yang berbau tidak sedap dan ruang parkir yang semrawut.
d. Taman
Taman bukan hanya mempercantik rumah sakit, namun juga bisa membantu kesembuhan si pasien. Udara segar bisa tercipta oleh tanaman. Pemandangan indah juga mengistirahatkan mata, membuat rasa sakit si pasien sedikit teralihkan.
e. Limbah
Limbah rumah sakit bukan hanya sampah makanan. Menurut Henni Djuhaeni, Kanwil Depkes Jabar dalam artikelnya bertajuk “Penanggulangan Dampak Lingkungan Rumah Sakit”, ada tiga jenis limbah rumah sakit, yakni limbah padat berupa sampah, limbah cair, dan limbah klinis. Sampah rumah sakit biasanya berupa sampah sisa makanan, sampah medis, sampah patologis, serta sampah dari laboratorium. Sedangkan limbah cari berasal dari unit yang bisa mengandung mikro organisme, bahan kimia beracun, dan radio aktif. Limbah klinis berasal dari pelayanan medis, berupa limbah plastik, radio aktif, dan jaringan tubuh.
Dari TOR yang diberikan oleh RSUD Daya Makassar terlihat bahwa rumah sakit yang dulunya berupa Puskesmas ini ingin menjalankan poin-poin seperti konsep green hospital yang diterapkan di negara-negara maju, seperti halnya lahan terbuka hijau yang menyatu dengan lingkungan rumah sakit; memanfaatkan matahari sebagai sumber penerangan untuk menghemat tenaga listrik; dan penggunaan air yang efisien.
Green hospital ini memang telah menjadi program kerja rumah sakit di Indonesia seperti yang dicetuskan dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, Dirjen Bina Upaya Kesehatan (http://buk.depkes.go.id). Pada 2020 diharapkan seluruh rumah sakit di Indonesia menerapkan Green Hospital. Rumah sakit yang disebut green hospital berarti RS yang memiliki wawasan lingkungan dan mengedepankan faktor kenyamanan dan keamanan. Lanjut, Suriyantoro, untuk menjadikan rumah sakit tersebut ‘hijau’ maka aspek-aspek yang harus diperhatikan di antaranya kualitas udara, pencahayaan alami, pencemaran air, pengurangan emisi karbon, dan sebagainya.
Menurut Green Building Council Indonesia, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi bangunan agar dapat memenuhi persyaratan bangunan hijau. Draft perangkat penilaian yang disebut Greenship khas Indonesia ini terdiri enam aspek: Tepat Guna Lahan (meliputi pengurangan pemakaian kendaraan bermotor pribadi, area dasar hijau, pengendalian hama, dan penanganan air limpasan hujan) ; Efisiensi Energi Dan Refrigerant, meliputi pencahayaan buatan, pengkondisian udara. reduksi panas, serta sumber energi terbarukan; Konservasi Air, seperti pengelolaan air dan penggunaan air hujan, serta daur ulang air; Sumber Dan Siklus Material, meliputi pengelolaan sampah dan pemilihan material; Kualitas Udara Dan Kenyamanan Udara; Serta Manajemen Lingkungan Bangunan.
Untuk menjalankan semua aspek tersebut, perlu kerja sama dari seluruh staf, terutama komitmen para manajemen puncak. Namun, menurut hemat saya, green hospital baru bisa dilaksanakan rumah sakit yang telah memiliki kualitas pelayanan yang baik. Apabila, masih banyak masyarakat yang mengeluh dengan proses registrasi yang berbelit dan fasilitas yang kurang, maka sebaiknya pihak manajemen membenahi hal tersebut terlabih dulu.
Jika permasalahan pelayanan sudah teratasi, maka RSUD Daya Makassar bisa melakukan dari yang sederhana, seperti menambah resapan dan tanaman hijau, baik dengan membuat taman atau menaruh tanaman dalam pot. Yang patut dicontoh adalah upaya sederhana RSUP Sanglah di Bali dengan membuat kompos dari sisa sampah organik. Kompos tersebut digunakan untuk pupuk tanaman di lingkungan rumah sakit tersebut. Rumah sakit lainnya yang patut diacungi jempol, yaitu RS Persahabatan Jakarta yang telah memiliki instalasi pengolahan air limbah. Fasilitas ini, seperti yang dilansir http://kesehatan.infogue.com/green_hospital_rumah_sakit_berwawasan_lingkungan, berupa mesin incinerator untuk memusnahkan sampah bahan beracun berbahaya alias sampah medis; laboratorium lingkungan untuk memantau kualitas lingkungan; dan biopori untuk resapan air hujan dan mengolah limbah organic menjadi kompos.
Menambah areal hijau dan menngolah limbah menurut saya dalah langkah utama yang harus dilakukan RSUD Daya Makassar sebelum menginjak aspek lainnya. Selanjutnya, baru dilakukan penataan konservasi air, meningkatkan kualitas udara, menghemat energi, dan sebagainya. Semoga RSUD Daya Makassar mampu menggapai misinya dan menjadi The First Green Hospital in Indonesia.
