Menyendiri Itu Asyik, Bahayanya Kalau Keseringan

Alita akhir-akhir ini merasa lebih nyaman jika berada dalam kamarnya. Ia kurang senang dengan suasana kantornya. Lama-kelamaan ia suka membolos. Alasannya sering sakit perut. Lama-kelamaan ia pun berganti pekerjaan dengan bekerja di dunia maya. Hampir setiap hari ia berada di rumah dan lama-kelamaan ia takut bertemu orang.

Apakah Kamu merasai gejala seperti itu? Aku dulu sempat merasai ada masa-masa agak antisosial. Rasanya malas bertemu orang-orang yang kukenal kemudian ditanya macam-macam yang membuatku merasa tak nyaman. Aku merasa diinterogasi dan dihakimi. Ada yang tak suka akan penampilanku. Banyak pula yang merasa berhak mencampuri hidupku.

Untunglah masa itu hanya sesaat dan lewat. Ternyata mereka memang tipe orang-orang yang sebaiknya kuhindari karena seperti ‘polisi moral’. Masih banyak orang baik dan menyenangkan di luar sana.

Memang belakangan ini, sekitar satu dekade, ada gejala akut menyendiri. Gejala ini awalnya banyak dialami oleh kalangan muda di Jepang. Mereka menyebutnya ‘Hikikomori’. Wah kenapa disebut itu ya, apa ada kaitannya dengan legenda Mori Hikiko?

Konon Mori Hikiko adalah seorang gadis yang selama hidupnya menderita. Ia sering mengalami perundungan baik dari orang tua maupun kawan-kawannya. Ia dianggap buruk rupa. Gadis yang sedih itu kemudian marah dan mengamuk. Ia pun kemudian balas dendam.

Ya, sepertinya ada hubungan antara rasa kecewa dan gejala menyendiri ini. Hal ini kemudian tak hanya dialami oleh generasi muda Jepang, tapi juga dialami remaja dan kalangan dewasa mancanegara, maupun di Indonesia.

Ada banyak alasan untuk lebih merasa lebih aman dan nyaman berlindung di kamar daripada bersosialisasi di dunia nyata di luar. Ada yang mengalami perundungan, kekecewaaan, dan ketidaknyamanan.

Ada juga yang menganggap berjumpa dengan kawan-kawan lama kadang-kadang malah menyakitkan. Mereka saling pamer, menunjukkan kehebatannya, sehingga membuat si korban jadi merasa seperti pecundang dan sosok yang tak pantas lagi bersanding bersama kawan-kawannya.

Akhirnya mereka lebih suka menyendiri. Berada dalam kamar, bersosialisasi dengan dunia maya. Mereka kemudian menciptakan berbagai personifikasi, menjadi sosok A ketika berada di forum z, menjadi sosok B ketika berada di forum y. Sosok itu dipuja-puja di dunia maya, dianggap sempurna, tapi realitanya berbeda.

Para pelaku penyendiri ini makin menikmati kesendiriannya berkat teknologi daring. Mereka tak perlu ke luar rumah. Mencari duit lewat menulis dan membuat aplikasi bisa dilakukan di rumah. Berbelanja dan membeli makanan juga ada jasa pengiriman. Ingin pijat juga bisa dilakukan lewat aplikasi. Termasuk urusan bersih-bersih rumah. Mereka tak perlu banyak berkomunikasi. Berbicara secukupnya.

Jika urusan menyendiri ini dibiarkan berkepanjangan maka ia akan benar-benar merasa anti sosial. Ia akan sulit beradaptasi dengan dunia nyata. Ia mungkin tidak akan menikah dan sulit berkomunikasi dengan wajar di dunia nyata.

Nah, sebelum menjadi hikikomori, ada baiknya untuk tidak terus-terusan asyik di kamar. Sesekali bersosialisasinya. Dunia tidak seburuk yang ada di benak kita ketika dilanda rasa kecewa. Masih banyak orang baik di luar sana, yang menerima diri kita dengan wajar.

Gambar dari tofugu, artforia, dan selipan

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 20, 2019.

4 Tanggapan to “Menyendiri Itu Asyik, Bahayanya Kalau Keseringan”

  1. Suka sekali dengan bahasannya mba 😊

  2. Imej hikkimori di bayanganku otaku yg kerjanya ngumpet di rumah dg koleksinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: