Gerahnya, Makan Es Deh

Sepertinya musim kemarau hadir lebih dini. Sudah beberapa hari ini Jakarta begitu gerah hingga pada larut malam ini. Gerah sekali. Aku pun mandi malam agar suhu badan lebih dingin.
Gara-gara gerah, kipas angin pun menyala terus-terusan. Kucing-kucing bergoleran di lantai depan kipas. Lainnya memilih menduduki kamar mandi yang lembab. Ketika kubuka kamar mandi, sudah ada empat kucing menguasainya.
Aku pun kemudian memilih membeli es untuk makan malam. Es-es itu membujukku untuk membelinya. Meskipun aku masih batuk, aku sulit menolak rayuannya. Es teler pun membuatku terlena.
Coba lihatlah dia. Di tengah samudera susu dan es serut, terapung kelapa muda, alpukat, dan nangka. Ooh semuanya kesukaanku, aku menyantap dengan bahagia.
Hawa gerah hanya terusir sejenak. Aku masih mendamba es yang segar. Ooh aku juga membeli es campur Shanghai yang nampak sedap.
Ooh jangan banyak minum es, Pus. Kamu masih batuk. Tuh gruk gruk lagi batuk batuk lagi, nggak kapok tuh.
Ooh batuk mulai datang lagi. Aku menyerah. Es campur buat besok atau esoknya lagi saja. Gerah tak nyaman, tapi batuk lebih menyiksa.
