Kisah Para Kucing di Pelatihan Kerja (Lanjutan)

Aku sebenarnya sulit berpisah dengan Nero, Mungil, Kidut, dan dua kucing lainnya. Meskipun mereka nakal dan malas, mereka sudah menjadi bagian dari kehidupan. Tapi Nero sudah dewasa, ia harus lebih bertanggung jawab. Adik-adiknya juga harus dilatih agar menjadi warga kucing yang baik.

Aku mengambil paket dua minggu sekolah pelatihan kucing. Di situ di dalam brosur disebutkan para kucing akan dilatih disiplin dalam rumah. Mereka akan dilatih merapikan tempat tidur mereka, membersihkan badan sendiri dengan bersih, dan tidak menyusahkan bangsa manusia.

Setelah belajar mandiri dan disiplin, kucing-kucing akan dilatih bekerja. Mereka bisa menjadi atlet, pelayan restoran, tukang masak, artis, hingga menjadi debt collector.

Sayangnya pilihan bekerja untuk mereka yang hanya mengikuti dua minggu pelatihan tak banyak. Hanya pekerjaan-pekerjaan kasar. Tak apa-apalah aku tak tahan berpisah dengan kucingku lama-lama. Lagipula aku juga sebenarnya tak tega melihat mereka bakal dilatih seperti itu. Semoga tak ada adegan kekerasan. Atau lebih baik aku menginap dan melihat bagaimana mereka melatih kucing-kucingku.

Waktu itu Tiba
Kemarin aku memandikan Nero dan adik-adiknya. Bulunya kemudian kusisir hingga rapi. Mereka jadi nampak gagah dan cantik. Kutunjukkan ke mereka tas-tas mereka dan kantung tidur mereka nanti. Sepertinya mereka tak paham.

Pada hari H aku sengaja mengambil cuti. Mereka berempat kumasukkan dalam kandang-kadang lalu kudorong dengan gerobak mekanis. Kami berlima menuju kota Kucingtopia. Di sanalah pelatihan kucing yang terkenal.

Akhirnya hanya kucing berempat, Nero, Mungil, Kidut, dan Kecil yang kubawa. Si induk masih mengasuh anaknya yang kecil. Aku tak tega memisahkan keduanya.

Kucing-kucing di gerobak nampak gelisah. Kami sudah dekat. Kemudian kami memasuki gerbang Kucingtopia. Jalan-jalan di sana nampak mulus tertata rapi. Aku melihat juga ada beberapa manusia sepertiku yang membawa gerobak, berisi kucing-kucing. Tujuannya sepertinya sama. Wah aku senang Nero punya teman belajar.

Kemudian terdengar suara kucing mengeong. Lalu dimulailah aksi penyambutan tamu di kota Kucingtopia. Para kucing beraksi. Mereka bermain sepeda roda satu. Ada pula yang menunjukkan aksi melompati gelang-gelang. Kucing-kucing gelisah di kandang, ingin ikut menonton. Aku membantu posisi mereka agar nyaman menonton.

Atraksi kucing itu begitu seru. Mungil terkagum-kagum melihat para bintang film kucing diarak. Sedangkan si Kidut dan Kecil asyik mengomentari para pemain sirkus kucing. Sementara Nero nampak diam. Aku jadi kuatir kepada Nero.

Aku menuju ruangan kepala sekolah. Kepala sekolahnya adalah manusia dengan asisten kucing yang memakai seragam. Ia berdiri dengan dua kakinya, nampak gagah.

Aku lalu mengeluarkan kucing-kucing dari kandang. Mereka nampak diam dan tidak berniat kabur. Aku mengenalkan kucingku satu-persatu:
1. Nero, kucing jantan oren, hampir 5 tahun
2. Mungil, kucing betina putih, hampir 1 tahun
3. Kecil, kucing betina belang abu-abu cokelat, usia 2 tahun
4. Kidut, kucing betina putih, 6 bulan

Anehnya kucing tersebut kemudian berdiri hormat ketika si asisten yang bernama Mumun itu mendekati mereka. Mumun kemudian meminta mereka berbaris rapi. Aku takjub melihat Nero, yang paling nakal, juga nampak santun.

Kepala sekolah memperbolehkanku menginap semalam untuk melihat proses belajar-mengajar para kucing. Tapi aku harus menjaga jarak agar kucing-kucing bisa belajar dengan baik.

Aku memeluk satu-persatu kucingku. Ketika memeluk Nero aku hampir menangis. Ia kucingku yang paling kusayang dan paling nakal. Semoga ia lolos pelatihan ini, setidaknya ia jadi tidak terlalu nakal dan pemalas seperti biasanya.

Di kota ini manusia dan kucing membaur. Jangan heran jika ada kucing berjualan makanan di pinggir jalan. Petugas penjaga pintu bioskopnya seekor kucing seperti spinx yang tegas. Kucing-kucing juga sebagian mengenakan pakaian, nampak lucu dan sebagian nampak anggun.

Kucing-kucingku telah digiring ke sebuah kelas. Si Nero nampak mulai panik. Ia jarang bertemu dengan banyak kucing. Oleh Mumun ia dibawa ke ruangan dan disterilkan agar tak berkelahi dengan banyak kucing jantan di sini.

Aku mengintip sebuah kelas. Kulihat si Mungil ada di dalamnya. Mereka cantik-cantik. Kulihat mereka dilatih berpose. Oh rupanya kelasnya adalah kelas model, cocok buat si Mungil.

Kuintip kelas di sebelahnya. Isinya kucing-kucing dewasa. Kelasnya paling ribut. Petugasnya paling banyak. Ini isi kucing berandalan yang dilatih agar tak makin nakal. Nero ikut berisik, ia senang ada banyak kawannya yang juga nakal sepertinya.

Mereka berlatih hal dasar. Merapikan tempat tidur, memakai baju, dan cara bersisir. Aku hampir tertawa tergelak-gelak karena kucing-kucing itu nampak konyol.

Tapi tak ada yang dicambuk. Para petugas dengan sabar mendampingi tiap kucing dan melatihnya. Ketika mereka berhasil, mereka dapat bonus snack kucing seperti kue donat. Nero yang mudah lapar nampak tergoda dan ia kulihat mulai bisa menggunakan sisir yang mudah dikenakan oleh kucing.

Kelas lainnya adalah kelas ketangkasan. Kidut dan Kecil masuk menjadi muridnya. Mereka dilatih berlari cepat, berlari lincah dan berlari berjinjit. Si Kidut nampak gembira. Ia nomor satu di semua nomor itu.

Aku kemudian menginap di hotel yang dikelola manusia dan kucing-kucing asistennya. Mereka tangkas mendorong nampan berisi makanan dan minuman. Di penginapan ini juga ada ruangan tempat kucing berlatih menggambar. Wah sejauh ini aku terkesan.

Dua minggu berlalu
Rasanya rumah begitu sepi tanpa kehadiran mereka. Aku merindukan mereka terutama Neroku. Apakah ia sudah tak nakal.

Kepala sekolah mengirimiku foto-foto kegiatan mereka. Si Mungil lolos kelas model. Ia bakal dikontrak majalah kucing menjadi model mereka. Bayarannya Rp 5 juta untuk beberapa kali pemotretan tiap bulannya. Ketika ditawari pekerjaan lainnya si Mungil enggan. Pemotretan sekitar dua jam meskipun tidak tiap hari baginya sudah cukup.

Sedangkan Kidut dan Kecil masih harus mengikuti kelas ketangkasan lainnya sembari bekerja sebagai pemain atraksi. Si Kidut yang masih kecil juga masih berpotensi menjadi atlet. Jam kerja mereka hanya dua jam perharinya dengan Sabtu Minggu libur.

Sedangkan si Nero tak lolos kelas pelayan kedai. Ia beberapa kali ketahuan melahap makanan yang hendak disajikan. Ketika belajar menjadi tukang ikan, ia juga ditegur karena melahap ikan yang hendak dibeli.

Akhirnya ia masuk tim penyambut tamu terutama lansia di rumah sakit. Tugasnya memeluk anak-anak dan membiarkan mereka mengelus-elusnya agar mereka merasa lebih nyaman. Tugas yang mudah. Mudah-mudahan Nero bisa. Jam kerjanya singkat hanya satu jam per harinya dan dua hari libur kerja

Aku hampir menangis ketika mengetahui prestasi kucing-kucingku. Aku membuat pesta penyambutan.

Kusiapkan donat isi pasta ikan tongkol. Kemudian juga ada ikan kembung panggang, juga topi warna-warni dan balon-balon.

Aku hendak menjemput mereka. Tapi heboh warga membuatku keluar rumah dan di gang kulihat para warga ramai mengekor si Nero yang mendorong gerobak mekanik kami berisi adik-adiknya. Nero dengan pakaian tipis katunnya plus dasi kupu-kupu nampak gagah. Si Mungil nampak cantik anggun. Sedangkan Kidut dan Kecil nampak lincah.

Mereka kucing-kucing pertama di kompleks yang lolos pelatihan. Warga pun menyambut gembira. Pak RT memberikan ucapan selamat datang dan berharap semakin banyak kucing yang terlibat di pelatihan tersebut.

Aku kontan memeluk satu-persatu kucingku dan kutunjukkan ruangan mereka yang baru. Satu kucing punya satu ruangan mungil bertirai. Di ujung ruangan ada tempat mandi para kucing yang bisa digunakan bergantian.

Itulah ceritaku bersama Nero. Kini Nero setiap hari berangkat kerja bersama Kidut dan Kecil. Karena pekerjaan Nero paling singkat maka ia menunggui adiknya dengan mengobrol bersama kucing-kucing di Kucingtopia. Kubawakan mereka bekal agar duit Nero tetap utuh.

Tahukah Kamu aku baru saja mendapat kejutan dari para kucing. Mereka membelinya dengan gaji pertama. Aku ditraktir mereka menyaksikan film pendek kucing. Ternyata si Mungil adalah pemeran utamanya. Wah aku sungguh terharu.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 5, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: