Oren dan Nero

Ia gemar mengenakan kaus atau kemeja berwarna jingga. Sepatunya juga memiliki unsur warna jingga. Bahkan motor dan helmnya juga bernuansa jingga. Alhasil ia mendapat julukan si Oren, anagram dari nama aslinya, Reno.

Si Oren cukup populer di kampus. Ia memang mudah bersosialisasi. Ia ramah dan mudah didekati. Tapi yang bikin kaum hawa penasaran, sampai saat ini ia tak dekat dengan mahasiswi manapun.

Wah Rena yang naksir dengan dia pun jadi penasaran. Aku sebagai kawannya sering dicurhati olehnya. “Ra, kira-kira kayak gimana sih cewek idamannya si Oren itu ya?”

Aku yang sedang tak ingin repot pun spontan menjawab,”Ya yang oren lah. Suka pakai baju jingga juga kali.”

Eh mata Rena berbinar-binar menatapku, rupanya ia sudah menemukan jawabannya. Maka mulailah sejak itu ia caper. Kulihat postingan instagramnya bernuansa jingga. Kini ia juga suka ke kampus dengan outfit jingga. Kalau tidak blusnya, celana, ya sepatunya. Rena jadi makin modis deh. Ia memang cakep sih dan penampilannya ini membuatnya ia makin tampil segar dan mencolok.

Aku jadi iri ke kawanku ini. Penampilanku sendiri pas-pasan. Tugas kuliah banyak, aku tak ada waktu memikirkan penampilan.

Omong-omong tentang si Oren, aku baru tahu jika ialah tetangga baruku itu. Ia menempati rumah besar di jalan utama di kompleks rumahku. Ketika aku pulang berjalan kaki dari gapura depan aku melihat sebuah city car berwarna jingga hendak masuk rumah tersebut. Pemiliknya keluar hendak membuka gerbang rumahnya.

Melihat gesturnya aku seperti mengenali orangnya. Aku kontan menegurnya, “Oren, Kamu sekarang tinggal di sana?”

Ia melihatku dan kemudian berjalan antusias mendekatiku. Ia menjawab baru beberapa hari ini pindah ke sini. Ia dengan ramah menawarkan bareng jika hendak berangkat ke kampus.

Waduh ini sih bisa bikin Rena kegirangan. Aku menyampaikan kabar ini ke Rena. Ia sangat antusias untuk sering-sering menginap di rumahku.

“Ra, rumah kita tukeran saja. Gue pindah ke rumahku, Lo ganti ke rumahku aja!” Usulnya ngasal.

Seperti yang kuduga, Rena jadi suka nginap di rumahku. Orang tuaku sih bersikap biasa saja karena keduanya tahu aku dan Rena sahabat sejak SMA. Aku sendiri juga senang cara caper Rena berhasil. Akhirnya Oren memerhatikan si Rena. Setidaknya kami beberapa kali berangkat bareng ke kampus. Aku sih senang-senang saja, lumayan tranport gratis.

Hubungan kami jadi seperti trio kwek-kwek. Aku sebenarnya sudah merasa seperti obat nyamuk tapi Rena suka canggung memulai percakapan, jadinya ia masih suka kutemani.

Aku sendiri kemudian punya kawan baru jika bermain ke rumah Oren. Ia punya kucing lucu, kucing lucu yang diberinya nama Nero.

Jika Rena mendekati Oren, aku yang senang bersama Nero. Ia selalu menyambutku dan senang bersamaku.

Rupanya Oren tahu hubungan kami berdua. Ketika kami bertiga bersama seusai sekolah, Oren memberi kabar yang mengejutkan.

“Ra, Nero boleh tinggal sama Kamu ga?”
Aku mengernyit tidak paham maksudnya.

“Kemarin-kemarin aku pusing mikir bagaimana bawa si Nero. Tapi sepertinya Nero sudah punya tuan yang cocok. Kamu, Ra.”

Aku masih tak paham. Kenapa Nero bakal dititipkan? Oren mau ke mana?

Rupanya Rena tanggap. “Lo mau ke mana Reno?”

Oren berkata ia bakal lanjut ke universitas luar negeri. Ia akan di sana sampai lulus sekolah. Rena dan aku jadi kehilangan kata-kata dan lupa mengucapkan selamat.

Sejak itu Rena jadi pendiam. Sedangkan aku entah kenapa jadi malah gembira karena punya kawan baru bernama Nero, si kucing oren yang lucu dan nakal.

Gambar: pixabay dan dokpri

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 20, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: