Udara Jakarta yang Makin Tercemar

Jika diperhatikan langit Jakarta itu semakin kelabu. Tidak, bukan karena mendung. Melainkan, tingkat pencemaran udaranya yang semakin parah. Semakin kotor. Jakarta semakin berpolusi.

Kabar pencemaran udara di Jakarta yang semakin buruk mulai banyak dikabarkan sejak beberapa bulan lalu. Bahkan tingkat polusi udara ini begitu buruk sehingga Jakarta dinobatkan sebagai kota tercemar udaranya di dunia. Bernafas di ibukota diibaratkan seperti menghisap racun yang kandungannya berbahaya bagi paru-paru.

Memang tidak semua tempat di Jakarta berpolusi begitu buruk. Ada beberapa bagian di Jakarta terutama kawasan yang lalu lintasnya sangat padat yang tingkat pencemarannya buruk.

Seperti pagi ini. Aku berangkat pagi-pagi menuju Jakarta pusat dengan menumpang roda dua. Perubahan kualitas udara itu kurasakan. Di lingkungan rumah hingga di kawasan dekat kompleks Kopasus hawa masih begitu segar dan bersih. Di sini aku sengaja bernafas seperti biasa.

Tapi setelah melalui raya Bogor dan kemudian melewati Kramat Jati maka udara mulai terasa berubah. Terasa pengap dengan debu tebal dan berbau busuk karena masih ada sampah-sampah dari pasar tumpah pinggir jalan.

Aku kemudian semakin menghemat nafas dan menutup hidung-mulut. Mulai dari Cililitan hingga Cempaka Putih polusi udara itu begitu terasa, memaksa memasuki rongga penciuman.

Debu dan asap kendaraan semakin tebal. Kasihan mereka yang tiap hari harus melewati jalanan ini. Untung aku masih jarang-jarang melewatinya. Belum lagi pengemudi motor dan angkutan umum yang suka merokok sambil menyetir. Ampun semakin buruk udara, membuat sesak.

Naik roda dua memang lebih cepat ketika menuju tempat-tempat yang jauh untuk diakses oleh mode commuter line. Sementara bus TransJakarta jumlahnya masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan jumlah penumpang, sehingga waktu menunggunya lumayan lama dan harus beberapa kali transit.

Aku malah kangen masa dulu ketika bus kota masih banyak dan mudah diakses. Juga tidak perlu banyak transit di mana proses berpindah bus itu kadang merepotkan dan membuang banyak waktu. Tapi memang jaman berubah dan mungkin mode transportasi sekarang lebih dianggap ideal untuk Jakarta.

Aku masih menunggu hingga acara dimulai. Aku mencari tempat untuk duduk dan menulis. Eh ternyata sebelahku merokok. Ah susahnya mencari udara bersih di Jakarta.

Gambar: web suara

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 22, 2019.

2 Tanggapan to “Udara Jakarta yang Makin Tercemar”

  1. Sudah udaranya buruk, panasnya beberapa hari terakhir panas luar biasa. Semakin memperparah keadaan ..
    Owh ternyata dari Cijantung ya.
    Dulu saya tinggal di Depok, itu jauh lebih baik sih kalau pagi, masih oke. Walau ketika siang ya polusinya ada meski tak seperah Jakarta.

    Ya semoga hujan cepat datang, menyapu polusi yang ada di udara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: