“The Two Popes” Obrolan Apik Dua Pemimpin Agama Beda Visi

Keduanya adalah kardinal, pemimpin umat katholik di tiap negara. Keduanya sama-sama mendapat suara pada pemilihan Paus (Pope) pada 2005. Tapi kemudian Kardinal Joseph Ratzinger yang terpilih dengan suara terbanyak pada putaran voting kedua dan menjadi Paus Benedictus XVI. Selama tujuh tahun ia menjalankan tugasnya memimpin umat, hingga suatu ketika.

Paus Benedictus XVI (Anthony Hopkins) mendapatkan guncangan keras. Ia mendapatkan laporan tentang skandal di Vatican yang membuatnya lunglai. Belum lagi kabar asisten pribadinya yang membocorkan berbagai dokumen penting. Kabar-kabar tersebut membuatnya tertekan, apalagi beliau diduga ikut terlibat. Ia memutuskan untuk menepi di rumah peristirahatan dan merenung sejenak.

Jauh di benua yang berbeda, Kardinal Jorge Mario Bergoglio (Jonathan Pryce)
telah membeli tiket untuk ke Roma. Ia berniat mengundurkan diri sebagai kardinal. Waktunya puluhan tahun mengabdi sebagai pemimpin umat di Argentina dirasanya cukup.

Ia kemudian terkejut ketika mendapat panggilan dari Vatikan. Ia juga mendapatkan tiket pesawat dan diminta menghadap sang Paus. Sebuah kebetulan.

Rupanya undangan tersebut bukan berkaitan dengan rencana pensiun sang kardinal. Malahan rencananya itu ditolak. Ia diajak berbincang-bincang oleh sang Paus secara personal. Empat pasang mata. Sejak dulu keduanya beda pandangan. Lantas apa yang kemudian merekatkan keduanya? Apa yang diharapkan oleh sang Paus?

Terus terang aku baru tertarik menyaksikan film ini karena “Two Popes” masuk dalam tiga nominasi film terbaik dalam ajang Golden Globe 2020. Ia meraih nominasi untuk kategori drama, aktor utama (Jonathan Pryce), dan aktor pendukung terbaik (Anthony Hopkins).

Padahal jika melihat poster sinopsis singkatnya, film produksi Netflix ini terasa kurang menarik. Dua pemuka agama yang sudah berusia lanjut bertemu dan kemudian bercakap-cakap hampir sepanjang film.

Tapi ternyata aku betah dan kemudian menontonnya hingga tamat. Apalagi film ini berdasarkan kisah nyata.

Di awal film dikisahkan pemilihan Paus karena Paus yang aktif saat itu, Paus John Paul II meninggal. Waktu itu aku tahu beritanya dan mengikutinya. Aku juga ikut sedih ketika beliau meninggal dan ikut senang mendengar kabar penggantinya. Selanjutnya kisah melompat ke tujuh tahun kemudian dipicu oleh adanya skandal.

Kabar skandal gereja terkait dengan kasus pelecehan baru kuketahui ketika menyaksikan film berkelas Oscar berjudul “Spotlight”. Di sini korbannya banyak dan baru kemudian muncul ke permukaan setelah tim investigasi sebuah media mengangkatnya pada tahun 2002. Skandal tentang Vatican juga tak kalah menghebohkan karena berkaitan korupsi juga perilaku gay.

Aku suka dialog antara kedua pemuka agama tersebut. Mereka berbeda pandangan tapi bisa saling memahami dan tidak ada yang merasa paling benar. Dialognya natural, seperti dua kakek-kakek yang berbincang-bincang. Yang satu konservatif,lainnya berupaya adaptif terhadap perubahan yang ada di dunia.

Kilasan-kilasan balik ditampilkan masing-masing sehingga memberikan gambaran siapa sebenarnya sang Paus dan Kardinal pada masa lampau. Ada beberapa catatan masa lalu mereka yang mengejutkan.

Sinematografi yang indah. Dialog yang cerdas juga akting kedua pemainnya yang luwes. Si Hannibal “Anthony Hopkins” tetap memberikan warna garang sebagai Paus dari Jerman. Sedangkan lawannya adalah Jonathan Pryce, yang pernah berperan apik sebagai pendeta sekte aneh di film Game of Thrones. Pertemuan dua aktor yang kenyang asam garam di perfilman inilah yang kiranya paling memberikan kontribusi kualitas film ini.

Detail Film:
Judul: The Two Popes
Sutradara: Fernando Meirelles
Pemeran: Anthony Hopkins, Jonathan Pryce, Juan Minujin
Genre: Drama
Skor: 8/10
Gambar: Netflix/IMDb

~ oleh dewipuspasari pada Desember 30, 2019.

2 Tanggapan to ““The Two Popes” Obrolan Apik Dua Pemimpin Agama Beda Visi”

  1. Tdnya sy kira berita, rupanya ulasan singkat ttg film..

    Ok ok… 😂

Tinggalkan Balasan ke dewipuspasari Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: